Minggu, 26 September 2021

A Love So Beautiful (致我们单纯的小美好) – Chapter 6

 

A Love So Beautiful (致我们单纯的小美好) – Chapter 6

Mobil Jiang Chen berhenti di depan toko LV Flagship, pada dasarnya aku hanya melihat brand ini di buku penulis terkenal, di kehidupan nyata, aku lebih familiar dengan AV* malahan. (*merujuk pada video p*rno)

Kontrol utama pada pintu mobil terbuka dengan suara clik, Jiang Chen berkata “kamu turun duluan dan tunggu aku, aku akan parkir dulu.”

Aku turun dan berkeliaran di tempat yang sama menunggunya kembali, menyelinap mengintip ke toko LV melalui jendela kaca dari waktu ke waktu. Itu mungkin bagian dari imajinasiku, tapi aku merasa bahwa cahaya oranye yang muncul membuatnya terlihat mewah dan sangat mewah.

“Ayo.” Jiang Chen berdiri di belakangku entah sejak kapan.

Aku melompat kaget dan tergagap “Sebaiknya kita jangan masuk, disana sangat mahal, dan juga sepertinya di dalam mereka hanya menjual tas, aku tidak melihat baju formal apapun.”

Dia melihat ke arah padanganku, “Apakah kamu pikir aku akan membawamu masuk ke LV?”

“Memangnya bukan ya?”

Dia melihatku seperti apakah dia sudah gila. “Kamu bukan istriku, mengapa aku akan mebelikan LV untukmu!”

...............

Dia mengarahkanku memutari sekitar LV. Kami memasuki gang dan sampai ke arah masuk toko pakaian. Aku mengangkat kepalaku dan melihat-lihat; nama toko ini sungguh terlalu jujur –“Tidak mampu membeli LV”.

Aku menunjuk pada papan nama dan memberitahu Jiang Chen , “Lihat, papan nama itu mengejekmu.”

Dia mengangkat kepalanya untuk melihat, “Papan nama itu mengejekmu.”

Aku mengerucutkan bibirku, “Tunggu saja sampai aku kaya, aku akan pergi ke setiap brand tekenal, dan tinggal bilayan ke pelayan toko, ‘aku tidak mau yang ini, aku idak mau yang ini, bungkus semua yang lainnya.”

Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Kamu juga mungkin mengatakan ini, ‘bungkus yang ini dan yang ini, bungkus semuanya dan email kan ke Red Cross Society.”

Skill nya lebih dalam dan lebih baik dari ku. (Merujuk pada konsep religius, konsep budha).

Pemilik tokonya adalah pria muda, wajahnya lumayan. Melihatnya, aku terus merasa bahwa dia terlihat familiar, seperti di alam baah sadarku, aku ingin familiar dengan semua pria tampan.

Pria muda itu datang dan menyambut kami, “Dokter Jiang, membawa pacar untuk membeli baju?”

“Jiang Chen mendorongku maju dan berkata, “Bantu dia mengkoordinasi satu set pakaian untuk menghadiri pesta banquet.”

Mata pria muda itu menyapuku dari atas kepala hingga kaki dan berkata.”Ini akan berhasil, aura nona cantik ini sepertinya cocok dengan pakaian di tokoku, aku akan mengkoordinir beberapa set pakaian untuk di pilih.”

Memang, auraku adalah aura yang tidak mampu membeli LV....

Sementara pemilik toko sedang memilihkan pakaian, aku bertanya pada Jiang Chen, “Kamu mengenalnya?”

Jiang Chen mengangguk. “Dia adalah adik Dokter Su’”

Telinga adik Dokter Su sungguh bekerja dengan baik, dia menimpali percakapan kami, “Namaku Su Rui, kakak ku mungkin akan mampir sebentar lagi”

Aku menurunkan pandangan untuk melihatnya. Dia berjongkok di lantai memilih sepatu, pantatnya menempel tinggi di udara. Perutnya kelihatan karena celana jeans nya yg potokan low-waist, dia cukup langsing.

“Chen Xiaoxi.” Jiang Chen tiba-tiba memanggilku.

“Ah?” Aku memalingkan wajahku yang terpaku pada pinggang ramping itu dan barbalik memandangnya.

Dia menunjuk pada kakiku. Merendahkan kepalaku, ak melihat mahluk hijau yang seperti kadal berhenti di samping kakiku. Ekornya bergoyang ringan. Karena refleks, aku menendangnya dengan ujung sepatuku dengan kecepatan cahaya dan bersembunyi dibalik punggung Jiang Chen dan berteriak dengan kencang.

Makhluk hijau iu terguling sekali dilantai, menggeliat menampakan perutnya yang terlihat berwarna terang, dia berkaki empat menginjakan kakinya tidak teratur diudara.

Su Rui meluruskan badannya dan berjalan mendekat, berseri-seri mengambil mahluk itu. Menempatkan dan memamerkannya di lengannya, dia memberitahuku,”Jangan takut, jangan takut, ini adalah kadal yang aku pelihara”.

Aku mengeluarkan kepalaku dari balik bahu Jiang Chen. “Apakah dia beracun atau tidak, apakah dia menggigit manusia?”

“Tidak, tidak, dia sangat penurut.”Su Rui dia memanajangkan lengannya, mengundangku dengan penuh antusias, “Sentuh dia dan lihatlah”.

Aku kesulitan menolak dia yang sangat ramah, mengeluarkan tanganku yang gemetar. Ketika tanganku mencapai depan kadal itu, tiba-tiba dia mengeluarkan lidahnya yang bercabang dan mendesis. Aku sangat takut dan dengan cepat menarik tanganku, dan sekali lagi bersembunyi dibalik punggung Jiang Chen.

Su Rui tertawa dengan sepenuh hati. “Xiaoxi jangan menakuti kakak ini, dia tidak menendangmu dengan snegaja barusan.”

“Xiaoxi?” Jiang Chen mengulanginya sekali, dan mulai ikutan tertawa.

Aku tergesa gesa menjawab sebelum aku menyadarinya, dan sangat marah. “Namanya juga Xioaxi?”

“Juga?” Su Rui sangat bersemangat. “Siapa lagi yang di panggil Xiaoxo? Nama ini sungguh bagus.”

Aku, yang juga punya nama yang bagus, menngangkat tanganku pelan. “Aku, Chen Xiaoxi....”

“Sungguh takdir!” Su Rui berjalan sampai di belakang Jiang Chen dan berhenti di depanku.

Mengelus kepala kadal, an berkata, “Su Xiaoxi, kakak ini punya nama yang sama denganmu, kalian berdua sungguh ditakdirkan, sapalah kakak ini, kemarilah dan beri kakak ini ciuman.”

Dengan senyum terpaksa, aku berpindah sampai aku di depan Jiang Chen, mengeluarkan kepalaku dan melambaikan tangan, “Hallo, hallo, tidak seharusnya ada kontak langsung antara pria dan wanita, tidak usah cium, tidak usah dicium.

Su Rui terlihat sednag terhina. “Xiaoxo adalah betina.”

Jiang Chen menarikku yang bersembunyi dibalik dadanya. “Perg dan ganti bajumu.”

Baru saat itu Su Rui meletakan Su Xiaoi dan membawa beberapa set pakaian dari rak pakaian dan menyerahkannya padaku. “Cobalah baju-baju itu dulu, berapa ukuran sepatumu?”

Pada dasarnya, kakiku memang kecil tidak normal, ditanya ukuran sepatu membuatku merasa terhina...

Karenanya, aku bilang, “35.”

Jiang Chen memiringkan kepalanya dan melihatku, berkata, “Ukuran 33,5, 34 dengan semi-insole juga boleh”

..............

Su Rui menggaruk kepala dan memberitahuku, “Aku harus mencari dan melihat-lihat dulu apakah ada ukuran 34, kamu bisa masuk dan ganti baju dulu.”

Aku menggenggam baju-baju iu dan pergi berganti pakaian, tapi aku mendapat masalah ketika berganti set pakaian pertama. Resleting bagian belakang terjerat dengan rambutku, dan tersangkut ditengah-tengah, aku tidak bisa menariknya keatas ataupun kebawah. Tidak ada harapan, aku hanya bisa menangis meminta pertolonagn pada yang berada diluar, “Su Rui, resletingnya tersangkut, mace walaupun aku menariknya.”

Tirainya terangkat dan terbuka, namun itu adalah Jiang Chen yang masuk. Aku menatapnya kosong. Dia tidak berkata apapun, dan langsung pindah ke belakang punggungku. Dia menyusun rambutku dan mengangkatnya keatas dengan satu tangan, sambil memakai tangannya yang lain untuk menarik resletingnya naik hanya dengan satu gerakan. Setelah menarik resletingnya, dia pergi lagi dengan tiba-tiba. Aku terhanyut mengagumi keahliannya.

Aku mencoba cukup banyak set pakaian, dan akhirnya Su Rui membantuku memilih gaun malam hijau muda berbahan muslin. Bajunya ringan seringan bulu ketika aku mencobanya, menyebabkan aku panik bahwa aku merasa tidak memakai apa-apa.

Su rui dengan cukup kesulitan mencari dan menghasilkan sepasang sepatu kuning muda yang ukurannya 34, setelah menambahkan semi-insole, aku akhirnya bisa memakainya dan menjaga keseimbanganku.

Su Rui memuji  cara baruku berbusana sampai aku menjadi kecantikan yang tidak tertandingi di dunia dan di surga. Walaupun aku tidak menemukan sepintaspun dari menampilan mempesoa yang dia katakan ketika aku berkaca, namun aku measa apa yang dia katakn memang sungguh benar, aku benar-benar ingin berteman dengannya.

Su Xiaoxi mencoba mendekatiku beberapa kali, namun selalu ketakutan olehku karena aku memberikannya kesan, “Jika kau berani mendekat aku akan memakai sepatuku untuk menginjak dan membunuhmu”.

Jiang Chen duduk di sofa di dalam toko, dengan malas mengukur ku dengan beberapa tatapan sekilas dari waktu ke waktu, aku tidak berani berharap dia akan seperti yang ditampilkan di tv show atau novel, dimana dia akan menahan napas dan terseposan oleh kecantikanku, namun setidaknya dia tidak seperti sedang menonton siaran berita.

“Apa kau sudah selesai?” Dia beranjak dari sofa.

“Aku sudah siap, kau bisa membayarnya.” Aku merendahkan kepalaku dan mempelajari kerah dari gaunku, ujung dari kerah V-neck nya di lipat menjadi lipatan yang sangat indah, seperti ombak hijau dedaunan.

Su Rui berkata dengan sangat berisik. “Tidak usah, tidak usah, mereka terlalu banyak kemiripan, anggap saja sebagai hadiah dari Xiao Xi utuk Xiao Xi pada pertemuan pertama mereka. Totalnya 800, gaunnya 500 dan sepaunya 300.”

Aku mendelik padanya, ini adalah pemerasan, gaun yang mirip bisa di dapatkan di Taobao* hanya dengan 80RMB, termasuk jasa pengiriman.

(*online shop)

Sebaliknya, Jiang Chen tidak mengatakan apapun, setelah membayar, dia berterimaksih dan membawaku pergi.

Aku memakai make up di dalam mobil yang melaju dengan lumayan kesulitan. Untungnya kondisi jalan yang dilewati tidak buruk, kesimpulannya setelah memakai make up, raut mukaku masih normal.

Sambil menunggu lampu merah, Jiang Chen tiba-tiba tertawa, matanya penuh dengan kenakalan dan berkata, “Skill makeup mu telah meningkat pesat”.

Aku memberinya tatapan menghina, aku tahu apa yang dia tertawakan.

 

 

Pada saat itu aku kelas 3 SMA.  Kami berjuang untuk ujian masuk perguruan tinggi nasional siang dan malam. Di suatu tempat yang jauh, ada beberapa orang yang juga sama sedang berjuang untuk masuk perguruan tinggi yang tidak tahan dengan tekanan yang dihadapi dan berakhir bunuh diri. Kabar ini tersebar ke berbagai departemen, dan setelah lama tersebar barulah saat itu kabar tersebut sampai ke sekolah kami yang sangat jauh yang terletak di kota kecil. Kepala sekolah dengan gentingnya mengadakan rapat, setelah itu, satu bulan sebelum ujian masuk universitas, para guru mengadakan evening party untuk kami para murid yang sedang berada di jurang penderitaan. Nama pesta tersebut adalah “Menyongsong hari esok”. Aku pribadi merasa nama itu sangat tidak bermakna, kecuali kamu mati, semua orang akan menghadapi hari esok. Rangkaian acara di persiapkan oleh 1 murid senior kelas 1 dan 2, pertunjukan, paduan suara dan sebagainya, singkatnya program-program tersebut akan membuat orang-orag tidak ingin melihat hari esok ketika mereka melihatnya.

Sebelum acara evening party dimulai para guru di bingungkan oleh suatu hal. Murid-murid yang akan tampil di panggung harus memakai make-up. Hanya ada sedikit guru di sekolah yang tahu cara merias. Merias grup paduan suara aja akan memakan waktu kira-kira sampai tengah hari. Oleh karena itu pada akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk mengizinkan murid kelas seni berbagi tanggung jawab besar untuk merias. Sebagai ketua dari kelas seni, aku pikir hal ini masih dalam kendaliku, namun aku tidak menyangka bahwa wajah manusia sungguh sangat berbeda dengan kertas kanvas. Setiap murid yang aku rias akan menangis setelah melihat dirinya di depan cermin, dan lebih lanjut mengungkapkan bahwa jika mereka tampil ke panggung seperti ini mereka akan memilih mengucapkan selamat tinggal pada hari esok. Dan pada saat iu kebetulan Jiang Chen melewati kelas tersebut. Aku di kelilingi oleh murid-murid junior yang menangis dan bingung apa yang harus dilakukan, sedangkan dia berdiri di luar kelas tertawa terbahak-bahak. Para murid wanita junior menangisi diri sendiri sampai suara serak bahkan lebih putus asa, karena di cemooh orang yang berpengaruh.

 

Meskipun hal ini sudah lama berlalu, namun ketika aku mengingat kejadian ini, pelipisku masih bergetar dan berdenyut-denyut, hal ini seperti gelombang suara tangisan tersebut masih terngiang-ngiang ditelingaku.

“Sampai,” Jiang Chen berkata, mobil perlahan berhenti ketika dia menepi.

Aku menngusap pelipisku, menghela nafas dan menggerutu, “Lain kali, jangan membuatku mengingat kejadian-kejadian yang tidak bisa ku ingat.”

Mobil telah berhenti cukup lama di tempat yang sama, namun dia tidak membuka pintunya sama sekali. Aku menoleh kearahnya, kebingungan. Alisnya berkerut kencang, matanya menyipit ke kejauhan, rahangnya terkatup kencang, dan kedua tangannya terkepal di setir, dengan buku kukunya yang mulai memutih.

Aku tahu dia sedang marah, namun aku tidak bisa paham kenapa dia marah secara tiba-tiba.

Aku bertanya pelan, “Ada masalah apa?”

Dia terlihat menghela napas dalam, dan perlahan melepaskan tangannya dari setir, menoleh ke arahku dan tersenyum. Mungkin aku tidak seharusnya menyebut itu senyuman, dia hanya mengerucutkan bibirnya menjadi satu garis, menekan lesung pipitnya yang dalam di pipi kirinya. Dia berkata, “Bukan apa-apa, perutku sakit.”

“Ah? Apa yang harus kita lakukan?” Sekali aku gugup, aku menjadi kacau dan bingung. “Kenapa perutmu sakit? Apa kamu belum makan apapun? Kamu punya obatnya tidak? Ayo pergi ke rumah sakit....”

“Aku baik-baik saja,” dia bekata.

“Bagaimana kamu baik-baik saja? Apakah kamu tahu jika perutmu sakit, bisa saja pendarahan di perutmu, maag, perforasi perut, atau kanker perut....”

Dia melihatku, tersenyum. “Kemudian apa lagi?”

Aku berkata dengan tidak yakin. “Perutmu robek?”

Aku berkata dengan penekanan, “Tiak peduli apapun itu, ayo secepatnya ke rumah sakit, kamu bisa saja mati detik berikutnya!”

Dia tiba-tiba mengulrkan tangannya dan mendorong dahiku, tersenyum dan berkata, “Yang doketr itu aku atau kamu?”

Aku kacau dan bingung olehnya yang tiba-tiba bersemangat, hanya mengulang dan memeriksanya bahwa perutnya tidak robek. Dia juga menjamin berkali-kali bahwa dia sudah baik-baik saja, dan akhirnya dengan ekpresi tak berdaya yang luar biasa an jika ada kemalangan yang tak terduga terjadi ke perutnya, aku adalah orang yang akan mengoperasikan pisau bedah pada operasinya.

Mendengar dia bersedia mati di tanganku, aku kemudian merasa tenang.