Perempuan Di Titik
Nol
merupakan salah satu karya fenomenal yang di tulis oleh Nawal El Saadawi. Nawal
El Saadawi yang lahir di Kafr Tahla-tepi Sungai Nil-Mesir pada tahun 1931 adalah seorang tokoh perempuan Mesir terkemuka, sosiolog,
dokter dan penulis militan yang konsisten berbicara dalam isu-isu masalah
wanita Arab atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan feminis. Beliau seorang
penulis produktif terkenal di dunia dan
sudah banyak tulisan beliau yang menjadi inspirasi baik di timur maupun
dibarat. lebih dari empat puluh buku
fiksi dan non fiksi telah ia tulis. Ia merupakan salah satu penulis yang
karyanya paling banyak diterjemahkan kedalam dua belas bahasa dunia. Novel dan buku-bukunya
tentang perempuan (feminisme) memiliki
efek yang mendalam pada generasi ke generasi secara berturut-turut baik perempuan muda dan laki-laki selama lima
dekade terakhir.
Nawal
lebih suka menulis dalam bahasa Arab. Nawal el Saadawi selalu menampilkan dan
menonjolkan kritik yang cukup pedas sekaligus penggambaran realitas sosial
politik dengan menggunakan colloquaialism atau gaya bahasa harian dalam
penceritaannya, natural, dan tanpa embel-embel analitik. Nawal el Saadawi tidak
mengikuti aliran al-fanna al-kamil (keindahan) yang kebanyakan digunakan
sastrawan Arab.
Bahasa
sarkatis yang sering digunakan Nawal cukup membuat geram para intelektual dan
Pemerintah Mesir. Hal itu harus dibayar mahal olehnya. Pada 6 September 1981 ia
dijebloskan ke dalam penjara Barrages di Mesir pada masa pemerintahan Anwar
Sadat atas tuduhan perbuatan kriminal melawan pemerintahan yang sah. Namun, di
dalam sel Saadawi terus berkarya. Meski dengan kertas toilet dan pensil alis,
Saadawi diam-diam tetap menulis. Sekeluarnya dari penjara, tulisan itu
menghasilkan esai berjudul Memoar dari Penjara Perempuan. Dalam buku itu, dia mengisahkan bahwa ketimpangan sosial-ekonomi
dan jender merupakan penyebab masuknya perempuan ke dalam sel penjara tersebut.
Novel
Perempuan di Titik Nol ini menceritakan
sekelumit kisah perjuangan seorang perempuan yang menghadapi tekanan hidup yang
amat keras, dibanting oleh zaman, dihimpit dan dipaksa tunduk oleh kekuasaan.
Novel yang menceritakan tokoh sentral seorang perempuan bernama Firdaus, yang
harus menjalani kehidupan kelam dalam budaya patriakhi di Mesir. Firdaus
seorang perempuan tertuduh kasus pembunuhan, yang diakhir hidupnya berada
dibalik jeruji untuk menunggu eksekusi mati. Di dalamnya sarat akan nila-nilai
kehidupan yang patut untuk kita kaji dan kita renungkan yang digambarkan secara
menarik dan juga tak biasa oleh kisah hidup Firdaus yang penuh lika-liku.
Terkait dengan
nilai-nilai kehidupan yang ada dalam novel perempuan di Titik Nol ini memang
menjadi hal yang penting untuk kita kaji secara lebih dalam dalam menganalisis
karya sastra. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan seputar
nilai-nilai kehidupan di dalam karya sastra dan menambah wawasan kita mengenai
sastra dan masyarakat. Penelitian ini dapat memberikan konsep penerapan pendekatan
pragmatik mengenai nilai-nilai yang ada di masyarakat seperti nilai agama,
moral dan budaya.
2.
Kajian Teori
2.1
Pendekatan
pragmatik
Pendekatan
pragmatik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya
terhadap peranan pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati karya sastra.
Pembaca memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan sebuah karya
merupakan karya sastra atau bukan.
Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra
sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini
tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama maupun
tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya
sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya
(Pradopo, 1994).
Dalam
praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan
fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi
sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral dan atau agama yang
terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai
karya sastra tersebut.
Penerapan
pendekatan pragmatik misalnya memahami karya sastra dalam hubungannya dengan
nilai moral, religius, dan pendidikan, seperti tampak pada judul-judul berikut.
“Ajaran Moral dalam Novel Sitti Nurbaya”, “Nilai Religiositas dalam puisi-puisi
Emha Ainun Nadjib” juga “Nilai Edukatif dalam Novel Salah Asuhan”. Dari
judul-judul tersebut akan tampak bahwa dalam membahas dan menilai karya sastra
kita kaitkan nilai-nilai pendidikan, etika, dan religius yang terdapat dalam
karya sastra yang dapat berguna sebagai contoh atau teladan bagi pembaca.
2.2
Hakikat Nilai
Secara
etimologis nilai berasal dari bahasa Latin yakni, volore yang berarti berharga,
baik, dan berguna. Nilai adalah sesuatu yang berharga, baik, dan berguna bagi
manusia. Nilai juga diartikan segala sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai
subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau buruk sebagai abstraksi,
pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang
ketat.
Rosenblatt
(dikutip Kurniati, 2013:9), menegaskan bahwa nilai tidak hanya setara yang
diingini, tetapi apa yang ditimbangkan sangat berharga untuk diingini, yang
pantas diingini. Dalam pengertiannya, nilai tidak dapat ditangkap oleh
pancaindra, karena yang dapat dilihat adalah objek yang memiliki nilai atau
tingkah laku yang mempunyai nilai. Nilai mengandung harapan atau sesuatu yang
diharapkan manusia, nilai juga dapat dipandang sebagai konsepsi abstrak dalam
diri manusia mengenai apa yang baik dan buruk.
Sementara
itu, Notonegoro (dikutip Kaelan, 2008:23) menyatakan bahwa ada tiga macam
nilai. Ketiga nilai tersebut sebagai berikut a) Nilai material, yakni segala
sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani atau kebutuhan ragawi manusia b) Nilai
vital, yakni segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan
kegiatan atau aktivitas c) Nilai kerohanian, yakni segala sesuatu yang berguna
bagi rohani manusia.
Berdasarkan
beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah konsep
abstrak mengenai kualitas yang penting, baik, dan berharga dalam pandangan
manusia sebagai anggota masyarakat. Nilai memiliki sesuatu hal yang bersifat
baik dan buruk. Menilai berarti menimbang suatu kegiatan, menghubungkan sesuatu
dengan yang lain dan kemudian mengambil keputusan. Sesuatu dianggap memiliki
nilai jika sesuatu itu dianggap penting, baik, dan berharga bagi kehidupan umat
manusia. Baik ditinjau dari segi religius, politik, hukum, moral, etika,
estetika, ekonomi, dan sosial budaya.
2.3 Hakikat Moral
Menurut Piaget (dalam Kosasih,
1985:20) moral merupakan hal yang bersifat tuntutan dari luar masyarakat/kehidupan
karena kiprah umum atau praktik nyata. Moral juga diartikan suatu hal yang
menunjukkan sikap akhlak manusia (perbuatan yang dinilai) yang menjadi
karakteristik jati diri manusia. Senada dengan itu, Poespoprodjo (1999:118)
mengemukakan bahwa moral adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang
menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia
(Depdiknas, 2008:929) moral mengandung tiga arti; pertama, ajaran baik dan
buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, ahklak, budi
perkerti dan sebagainya; kedua, kondisi mental yang membuat orang tetap berani,
bersemangat, bergairah, dan berdisiplin; ketiga, ajaran kesusilaan yang dapat
ditarik dari suatu cerita.
Jenis-Jenis Nilai
Moral
Moral
bisa diartikan sebagai aturan sikap dan pola tingkah laku yang dibentuk oleh
masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat
tersebut yang mengacu pada baik buruknya perilaku manusia. Partiwintoro dkk.
(2002:120) menjelaskna bahwa jenis-jenis nilai moral yang terkandung dalam
sebuah karya sastra sebagai berikut.
a. Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri merupakan kaidah-kaidah yang mengandung baik
buruknya suatu hal terhadap perbuatan yang dilakukannya dalam kehidupan
sehari-hari yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Nilai moral ini dapat
diklasifikasikan antara lain sebagai berikut, percaya diri, berlaku adil,
berani, kerja keras, dan lain sebagainya.
b.Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusia dengan manusia lain. Sama halnya dengan nilai
moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, nilai
moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan manusia lain juga merupakan
tata aturan perbuatan yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan
manusia lain. Nilai moral ini dapat diklasifikasikan antara lain sebagai
berikut, yakni saling menasihati, cinta kasih terhadap sesama, memberi
perhatian, kesetiakawanan, dan kejujuran.
c. Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusia dengan masyarakat. Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusia dengan masyarakat berupa sikap suka bergotong
royong, tolong-menolong, dan waspada menjaga lingkungan.
d. Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusia dengan alam. Nilai moral yang terkandung
dalam hubungan manusia dengan alam antara lain, mencintai alam, menjaga
keseimbangan alam, dan mengagumi alam.
e. Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusia dengan tuhan. Nilai moral yang terkandung
dalam hubungan manusia dengan tuhan antara lain, bersyukur atas nikmat tuhan,
berkeyakinan pada ketetapan tuhan, dan berserah diri pada tuhan yang mahasa
esa.
2.4
Hakikat Budaya
Sebagai
ciptaan manusia, kebudayaan adalah dunia khas manusia. Kebudayaanlah yang
membedakan manusia dengan hewan. Dalam ruang lingkup kebudayaan, manusia
mengembangkan hidup individual dan sosialnya, dalam rangka pemenuhan martabat
kemanusiaanya. Pengaruh-pengaruh utama yang membentuk dan mengubah kebudayaan
manusia sama halnya dengan pengaruh-pengaruh yang membentuk spesies hewan.
Kata
budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Secara
etimologis, kata kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan
akal (Koentjaraningrat, 2009:9). Namun ada pula anggapan bahwa kata budaya
bersasal kada majemuk budidaya yang berarti daya dan budi atau daya dari akal
yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Selain itu, dalam bahasa Inggris, kata
kebudayaan disebut culture yang berasal dari bahasa Latin yakni colere yang
berarti merawat, memelihara, menjaga, mengolah, terutama mengolah tanah atau
bertani.
Menurut
seorang antropolog Inggris, Sir Edward B. Tylor (dalam Maran, 2007:26)
kebudayaan adalah keseluruhan kompleks dari ide dan segala sesuatu yang
dihasilkan manusia dalam pengalaman historisnya. Rumusan yang hampir sama juga
dikemukankan oleh Robert H. Lowie (dalam Maran, 2007:26) yang menyatakan bahwa
kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat
mencakup kepercayaan, adat-istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan,
keahlian yang diperoleh bukan karena kreativitasnya sendiri melainkan merupakan
warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal.
Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semua hal yang didapat atau dipelajari
oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Selain
itu, Soekanto (2001:193) menjabarkan unsur-unsur kebudayaan atau culture
universals sebagai berikut:
a) Sistem
peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah
tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya) b) Sistem
mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem
produksi, sistem distribusi, dan sebagainya) c) Sistem kemasyarakatan
(kekerabatan, pelapisan sosial, sistem perkawinan, sistem pimpinan politik, dan
sebagainya) d) Bahasa (lisan maupun tertulis) e) Sistem pengetahuan f) Sistem
religi atau kepercayaan g) Sistem kesenian.
Senada
dengan Soekanto, Koentjaraningrat (dalam Maran, 2007:46–47) mengungkapkan bahwa
unsur-unsur kebudayaan terbagi atas tujuh hal yakni, sistem religi dan upacara
keagamaan, sistem sosial dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan,
bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem teknologi dan
peralatan.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Sinopsis Perempuan di Titik Nol
Novel
Perempuan di Titik Nol ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang
perempuan yang bernama Firdaus. Firdaus adalah anak dari seorang
petani miskin, hidupnya sangatlah rumit dan penuh konflik. Sejak kecil Firdaus
sudah menjalani penganiayaan dari segi fisik maupun mental oleh seorang lelaki
yang dikenalnya sebagai ayah. Sesungguhnya tak cuma Firdaus yang mendapat
perlakuan dari sosok ayahnya itu, tapi ibunya pun tidak pernah mempunyai nasib
yang lebih baik dari Firdaus. Ketika ayah dan ibu Firdaus meninggal, Firdaus di
asuh oleh pamannya. Meski pamannya bersikap lebih baik dan lemah lembut
daripada ayahnnya namun pamannya sama saja seperti lelaki lainyang tidak
melewatkan kesempatan untuk melakukan pelecehan seksual kepadanya. Seringkali
pamannya meraba-raba paha Firdaus sambil membacakan buku kepadanya sebelum atau
sesudah Firdaus tinggal bersamanya.
Dalam masa
ini, Firdaus disekolahkan di sekolah menengah. Disitulah ia dapat merasakan
bergaul dengan sebayanya, namun ketika itu juga ia hampir mengenal cinta tetapi
tidak dari lawan jenis, melainkan dari seorang guru perempuan. Lulus dari
sekolah menengah dengan nilai terbaik, lalu pamannya menikah dengan seorang
gadis anak dari guru sewaktu ia sekolah di Al Ezhar. Waktu pun terus belalu,
lama-kelamaan sang bibi tersebut kurang suka dengan keberadaan Firdaus di
rurmahnya. Jadi ia berencana untuk mengenalkan Firdaus pada seorang laki-laki
yang bernama Syekh Mahmoud, orang tua yang berumur 60 tahun yang kaya raya dan
sangat pelit disertai dengan adanya bisul disekitar wajahnya. Untuk membalas
budi sang paman, Firdaus pun menerima pinangan dari Syekh Mahmoud tersebut dan
umurnya waktu itu adalah 18 tahun. Apa boleh buat Firdaus pun harus melayani
lelaki dengan wajahnya yang penuh bisul itu walau dengan setengah hati. Namun
lama-kelamaan Firdaus pun tak tahan dan kemudian melarikan diri. Hal itu
disebabkan Firdaus seringkali mendapatkan perlakuan yang menyakiti fisiknya. Ia
pun terus berlari, dan saking kencangnya ia berlari akhirnya tibalah pada suatu
keindahan pemandangan sungai Nil. Di situlah awal mulanya Firdaus bertemu
dengan lelaki yang bernama Bayoumi. Awalnya ia mengira lelaki yang bernama
Bayoumi adalah seorang laki-laki yang baik, namun ternyata tidak demikian.
Bayoumi lalu mengajak Firdaus untuk tinggal satu rumah. Bayoumi pun tidak
ketinggalan untuk merasakan nikmatnya tubuh Firdaus bersama teman-temannya.
Bayoumi lah yang membawa Firdaus pada suatu profesi yang disebut pelacur.
Kemudian ia
bertemu dengan seorang perempuan cantik yang bernama Sharifa yang ternyata tak
lebih dari seorang Mucikari yan licik. Namun, berkat perempuan itu Firdaus
lebih mengenal lagi tentang dunia pelacuran dan mengetahui bahwa ia memiliki
tubuh dengan harga diri yang tinggi, disitu Firdaus merasakan kenikmatan dunia.
Karena adanya konflik antara Firdaus dan Fawzi (pacar Sharifa), maka Firdaus
pun kembali melarikan diri. Di jalan ia di ajak oleh seseorang untuk masuk kedalam
mobil dan dibawa ke hotel. Setelah melayani lelaki tersebut Firdaus di beri
uang sebesar 10 pon. Jalan hidup membawa Firdaus menjadi seorang pelacur
mandiri dan berharga. Ia bisa membeli apapun yang ia inginkan, ia bisa
berdandan cantik, dan yang paling penting ia bisa memilih dengan siapa ia akan
tidur. Akan tetapi nasib baik belum juga bersahabat dengannya. Ketika itu
Firdaus sedang merasakan frustasi karena ia tidak merasa nyaman dan tenang saat
ia menekuni sebagai seorang pelacur. Lalu ia sempat beralih profesi menjadi
pegawai kantoran. Disana dia bertemu dan bisa merasakan rasanya jatuh cinta
pada teman kerjanya yang bernamaIbrahim, tetapi tetap saja lelaki itu hanya
menyukai dan menginginkan kenikmatan tubuh perempuan. Bahkan perempuan adalah
pelacur dalam hidup seorang lelaki, karena setelah menjadi istri pun wanita
masih menjadi pelacur. Hal yang membedakannya adalah ketika sudah berumah
tangga wanita merasa pasrah, tidak dibayar, dan memakai cinta dalam
berhubungan. Sedangkan pelacur dibayar dan tidak memakai cinta dalam
hubungannya.
Akhirnya
Firdaus pun menekuni profesinya kembali sebagai seorang pelacur, sehingga
seorang mucikari yang bernama Marzouk memaksa Firdaus bekerja untuknya.
Ternyata dari pengalamannya selama ini, Firdaus pun sadar dan menjadi perempuan
yang tak mau lagi di injak-injak harga dirinya oleh kaum pria. Namun karena
sang mucikari memaksa dan mengancamnya, Firdaus pun membunuh sang mucikari.
Dengan perasaan lega, Firdaus meninggalkan tempatnya.
Di sudut
jalan, seorang lelaki dengan mobil mewah mengajaknya ikut. Firdaus menolak.
Lelaki, yang mengenalkan diri sebagai seorang pangeran Arab itu terus
mendesaknya, terjadi tawar-menawar, hingga bertemu pada harga tiga ribu. Selama
di ranjang, pangeran Arab itu terus bertanya “Apakah kau merasa nikmat?” Bagi
Firdaus, itu pertanyaan yang sangat bodoh, namun ia tetap menjawab “Ya.” Tetapi
karena pertanyaan itu terus diulang, Firdaus tidak tahan, akhirnya ia menjawab
“Tidak.” Firdaus masih marah ketika pangeran Arab itu menyerahkan uang. Maka
uang itu ia cabik-cabik menjadi serpihan-serpihan kecil. Pangeran Arab itu
heran, dan menduga bahwa Firdaus seorang puteri. Mereka terlibat perdebatan dan
berujung pertengkaran. Pangeran Arab itu berteriak sampai datang polisi.
Firdaus diborgol dan dibawa ke penjara.
Firdaus
menolak untuk mengirim surat permohonan keringanan hukum karena menurutnya ia
bukan pejahat, para lelakilah yang penjahat. Akibat ulahnya itu, Firdaus pun di
vonis hukuman mati. Namun anehnya dia malah menolak menerima grasi yang telah
diusulkan oleh seorang dokter penjaranya kepada presiden. Firdaus menggunakan
kepasifan sebagai senjata perlawanan untuk mempertahankan harga dirinya,
termasuk kepasifan menerima hukuman mati. Menurut Firdaus, vonis itu justru
merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.
3.2
Nilai moral yang terkandung dalam perempuan di titik nol
Dalam menganalisis novel ini akan
dipaparkan imajinasi pengarang yang ditampilkan melalui tokoh perempuan yang
bernama Firdaus dan juga tokoh-tokoh pendukung lainnya dalam novel ini.
Seperti yang sudah
disebutkan dalam kajian teori diatas bahwa nilai moral di klasifikasikan
menjadi lima bagian diantaranya yang pertama adalah Nilai moral yang terkandung dalam hubungan
manusia dengan dirinya sendiri. Di dalam novel Perempuan di Titik Nol ini Firdaus mempunyai sifat percaya diri seperti
kutipan di bawah ini.
Percaya diri
Sejak hari itu dan seterusnya saya tidak lagi
menundukkan kepala atau mengalihkan pandangan saya. Saya berjalan melalui jalan
raya dengan kepala tegak, dan mata diarahkan lurus ke depan. Saya memandang
orang ke arah matanya, dan apabila saya melihat seseorang menghitung uang saya
memandangnya tanpa berkedip……. (Saadawi, 2003:98)
Salah satu nilai
moral yang patut kita pelajari adalah sifat percaya diri yang digambarkan pada
diri Firdaus. Setelah dia mengalami
berbagai macam perlakuan buruk dari sekelilingnya dan tidak mempunyai
keberanian untuk mempercayai dan menghargai dirinya sendiri, namun setelah itu
dia berani menatap kedepan dengan penuh percaya diri dan menghargai dirinya
sendiri dengan tidak akan mudah untuk di injak-injak oleh orang lain seperti
yan pernah dirasakannya di masa yang lalu. Seperti yang di perlakukan ayahnya,
istri pamannya, dan Sharifa ketika mereka menghitung uang dia akan terbiasa
mengalihkan pandangannya kearah yang lain karena terbiasa. Namun sekarang tidak
demikian, seperti yang di katakan penggalan diatas bahwa jika ada yang
menghitung uang Firdaus tidak akan memalingkan pandangannya dan akan menatapnya
tanpa berkedip dan menghilangkan sikap seperti pengecut dan ketakutannya
terhadap orang lain karena siapa lagi yang akan menghargai dirimu jika bukan
dirimu sendiri yang memulai melakukannya.
Saya bukannya seorang pelacur dalam arti yang
sepenuhnya, demikian maka sewaktu-waktu saya mengatakan tidak. Sebagai hasiInya
saya tetap naik…. Tiada seorang pun yang tahan lerhadap penolakan ganda
lersebut. Maka tiap kali saya berkata tidak, lelaki itu akan rnendesak sampai
berapa tingginya pun harga saya naikkan, ia tetap tidak tahan ditolak oleh
seorang perempuan. (Saadawi, 2003:130)
Bisa kita lihat
dalam kutipan diatas bahwa sebagai seorang perempuan yang berprofesi sebagai
pelacur, Firdaus sangat percaya diri. Kepercayaan diri tersebut dia dapatkan
dari pengalaman, karena meskipun dia menolak seorang lelaki maka lelaki lainnya
pasti akan muncul dan membayarnya lebih tinggi. Firdaus tahu harga dirinya
sangat tinggi dan tidak mau dibayar murah, dan jika dia menolak justru akan
menjadi tantangan bagi para lelaki untuk menaklukannya karena para lelaki tak
tahan akan penolakan.
Hal ini menjadi
pelajaran untuk kaum perempuan saat ini mengenai pemikiran tentang para lelaki.
Yang mana jika ada seorang lelaki yang tidak menghargai kalian para perempuan,
tinggalkan saja karena diluar sana masih banyak lelaki yang akan mengantri
dengan keteguhan dan sifat percaya diri akan harga diri seorang wanita yang
tinggi. Wanita terhormat akan selalu dihargai dibandingkan wanita yang tidak
menghargai dirinya sendirinya.
Berani
Itulah yang menyebabkan mereka takut dan
tergesa-gesa untuk melaksanakan hukumannya terhadap saya. Mereka tidak takut
kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang
menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar. la melindungi
saya dari rasa takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau
ketelanjangan, atau kehancuran. Adalah kebenaran yang menakutkan ini yang
mencegah saya merasa takut kepada kekurangajaran para penguasa dan para petugas
kepolisian. (Saadawi, 2003: 150)
Nilai moral yang
digambarkan dari sifat Firdaus di dalam kutipan diatas adalah keberanian.
Firdaus berani mengungkapkan kebenaran dan berani mngakui kesalahannya setelah
membunuh mucikari yang memang mengacamnya. Kebenaran yang ada dalam diri
Firdaus membuatnya berani menghadapi apapun yang sulit didalam hidupnya
meskipun dia di hadapkan pada kematian namun firdaus tetap teguh dan memegang
kebenaran tersebut.
Hal ini patut kita
teladani bahwa jika memang apa yang kita perjuangkan adalah kebenaran, maka
beranikanlah diri kita, bertarunglah sampai titik darah penghabisan. Karena
kebenaran akan memberikan kita kekuatan dan keberanian yang akan mengalahkan
apapun. Meskipun pada faktanya kebenaran tidak selalu menang karena ada saja
yang bisa membeli kebenaran contohnya dalam segi hukum yang mana sudah menjadi
rahasia umum bahwa yang mempunyai banyak uanglah yang berpeluang besar untuk
menang.
Teguh pendirian
"Anda dapat ikut bersama saya."……………..Ketika
saya tidak berkata apa-apa, ia menyangka saya tidak mendengarnya. Maka ia
mengulangi: "Anda dapat ikut bersama saya. Dengan tenang saya menjawab,
"Harga tubuh saya lebih tinggi daripada yang dapat dibayar dengan suatu kenaikan
gaji." Dia membelalakkan matanya karena terkejut. Barangkali ia heran
bagaimana mungkin saya dengan mudah mengetahui pikirannya. Saya mengamatinya
ketika ia pergi dengan mobilnya dalam kecepatan tinggi. (Saadawi, 2003:108-109)
Teguh pendirian
yang di gambarkan pada penggalan cerita diatas merupakan sikap Firdaus dalam
menghadapi lelaki yang merupakan atasan perusahaan tempat dimana dia bekerja.
Yang mana dalam novel ini para perempuan saat itu digambarkan akan sangat takut
di pecat dan akan menuruti kemauan para atasan di kantornya agar sekedar
mendapat kesan baik dan juga untuk mendapatkan kenaikan gaji, namun Firdaus
tidak demikian. Firdaus dengan keteguhan pendiriannya menolak atasannya
tersebut untuk mengikutinya kedalam
mobil dan yang sudah pasti jika saja Firdaus ikut dengan mobil tersebut Firdaus
akan dimintai macam-macam dan mungkin akan dianggap wanita murahan. Sedangkan
pada saat itu Firdaus sedang menjalani hidup sebagai wanita terhormat yang
seperti dikatakan lelaki bernama Di’aa bahwa wanita terhormat itu bukan
pelacur. Ini menunjukkan bahwa Firdaus.
Kehormatan
Selama tiga tahun itu tak satu kali pun pernah ada
seorang pejabat eksekutif atau atasan lain menyentuh saya. Saya tak punya
keinginan untuk menghina tubuh saya dengan harga rendah, khususnya setelah saya
terbiasa dibayar sangat mahal untuk pelayanan apa pun bentuknya yang harus saya
berikan. Malahan saya pun menolak undangan-undangan makan siang atau pesiar
dengan mobil sepanjang Sungai Nil……….. Saya merasa kasihan kepada gadis-gadis
lainnya yang begitu polosnya untuk menyediakan tubuh dan upaya fisik mereka
setiap malam untuk memperoleh imbalan makan,……… (Saadawi, 2003:110)
Nilai kehormatan
yang ditunjukkan oleh tokoh Firdaus dalam novel ini ditunjukkan dengan
kata-katanya yang cukup pedas yaitu tak punya keinginan untuk menghina tubuhnya
dengan harga rendah yang mana itu adalah cambukan untuk para perempuan yang
menyia-nyiakan hidupnya dengan harga rendah dan mau saja di bodohi oleh para
lelaki. Yang bisa kita petik adalah
Firdaus bisa menentukan nilai dan harga dirinya dan tidak mau diperbudak oleh
para lelaki seperti yang telah dia alami dimasa lalunya.
Bertanggung jawab
“Kau penjahat. Kau memang harus mati." "Setiap
orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan
daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan." (Saadawi,
2003: 148)
Sikap bertanggung
jawab Firdaus ditunjukkannya dengan sikap siap mati karena perbuatannya yang
telah membunuh seseorang dan dia tidak menyangkalnya dan tidak merasa harus di
bebaskan. Bertanggung jawab atas sebuah perbuatan merupakan hal yang harus kita
lakukan sebagai manusia dan segala sesuatu memang ada sebab dan akibatnya
seperti yang di katakana dalam agama pun ada yang namaya neraka tempat hukuman
bagi orang-orang yang di dunianya hanya
berbuat kejahatan dan kemaksiatan.
Nilai moal yang
kedua adalah Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan manusia
lain. antara lain sebagai berikut, yakni
Saling menasihati,
Kenyataan
bahwa saya menolak usaha-usaha mereka yang mulia untuk menyelamatkan saya dari
keyakinan untuk bertahan sebagai pelacur, telah membuktikan kepada saya, bahwa
ini adalah pili han saya dan bahwa saya memiliki seclikit kebebasan paling
tidak kebebasan untuk hidup di dalam keadaan yang lebih baik daripada
kehielupan perempuan lainnya. (Saadawi, 2003:130)
Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusi dengan manusia yang lain juga terdapat dalam
novel ini, contohnya seperti penggalan di atas bahwa ada beberapa orang yang
menasihati Firdaus untuk tidak lagi menekuni pekerjaan pelacur dan mengajaknya
untuk hidup lebih baik daripada menjadi pelacur. Disitu tergambar bahwa
masyarakat Mesir dalam novel itu digambarkan ada juga yang memiliki kepedulia
terhadap sesamanya seperti yang dilakukannya dengan menasehati Firdaus. Ada
juga satu tokoh yang bernama Di’aa yang juga measehati Firdaus bahwa
pekerjaannya tidak terhormat dan membuat Firdaus megubah hidupnya menjadi
pegawai kantoran.
Membalas budi
Setelah kembali saya tak tahu bagaimana saya bertahan
hidup di rumah Paman, saya pun tak ingat lagi bagaimana saya menjadi isteri
Syekh Mahmoud. Apa yang saya ketahui adalah apa yang harus dihadapi di dunia
telah menjadi kurang menakutkan daripada bayangan kedua mata itu, yang
menyebabkan bulu roma saya berdiri apabila teringat kembali. (Saadawi, 2003:60)
Manusia adalah
mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia yang lainnya. Dalam hal ini
seringkali kita juga mempunyai hutang budi yang harus kita balas terhadap orang
lain yang telah membantu kita. Di dalam
novel ini Firdaus digambarkan demi membalas budi terhadap pamannya yang telah
baik, memberinya makan, menyekolahkannya bahkan sampai tingkat sekolah menengah
dan membuatnya bisa bergaul dengan sesamanya Firdaus rela di nikahkan dengan
seorang lelaki tua yang berumur 60an dan mempunyai bisul pada wajahnya. Balas
budi yang dilakukan oleh Firdaus tidak dianjurkan karena membalas budi
seharusnya kita juga ikhlas dan juga tidak seharusnya sangat merugikan diri
kita senidri. Membalas budi terhadap seseorang tidak harus mengorbankan diri
kita dan membuat diri kita menderita jika memang ada alternative yang lain
mengapa yang membuat menderita harus dilakukan.
Berbakti kepada orang tua
Ketika saya bertambah besar sedikit, Ayah meletakkan
mangkuk itu di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan
air. Sekarang saya telah menggantikan Ibu dan melakukan pekerjaan yang biasa
dilakukannya. (Saadawi, 2003:25)
Sebagai seorang
anak tentu saja sudah kewajiban kita untuk berbakti terhadap orang tua yang
sudah melahirkan kita kedunia. Hal ini yang dilakukan oleh Firdaus, dia
berbakti kepada orangtuanya, membantu ibunya bekerja, menuruti apa yang
diperintahkan oleh ayahnya dan yang
lainnya. Meskipunibu dan ayahnya orangyang kasar karena mereka hanya petani
yang miskin Firdaus tetap bebakti dan menurut sampai kedua orang tuanya
meninggal. Seperti dalam penggalan diatas Firdaus membasuh kaki ayahnya
meskipun ayahnya seringkali kasar terhadap dirinya.
Berbakti kepada suami
Tetapi belum lama saya membaringkan tubuh di atasnya
untuk istirahat karena lelah sesudah memasak, mencuci serta membersihkan rumah
yang besar itu dengan ruangan-ruangan yang penuh meubel, maka Syeikh Mahmoud
akan muncul di samping saya. (Saadawi, 2003:61)
Nilai moral yang
bisa kita petik dalam cerita ini adalah kesolehan Firdaus sebagai istri. Dia
mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga karena itu merupakan kewajibannya
sebagai seorang istri. Meskipun dia lelah namun juga dia tetap melayani
suamiya dan menghormatinya. Satu lagi
nilai Firdaus yang menghormati suaminya yang sudah tua, kasar, pelit dan
mukanya di hinggapi bisul besar dia tetap bersikap layaknya seorang istri yang
baik.
Nilai moral yang
ketiga adalah nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan
masyarakat.
Acuh tak acuh
Semua dalam keadaan tergesa-gesa, berlalu cepat, tak
acuh tentang apa yang terjadi di sekeliling mereka. Tak seorang pun yang
memperhatikan saya ketika saya berdiri di sana sendirian. Dan karena mereka
tidak memperhatikan saya, maka saya dapat mengamati mereka. (Saadawi, 2003:58).
Masyarakat Mesir
yang tergambar dalam novel ini adalah acuh tak acuh seperti yang dikatakan
dalam pengalan diatas tak seorangpun memperhatikannya meskipun saat itu dia
sedang sendirian, menderita dengan luka yang dialaminya akibat perbuatan
suaminya yang memukulnya hingga berdarh-darah. Tingkat kepedulian masyarakat
Mesir masih rendah apalagi terhadap perempuan. Perempuan bisa mereka perlakukan
dengan semena-mena.
Diskriminasi perempuan
"Apakah yang akan kau perbuat di Kairo,
Firdaus?" Lalu saya rnenjawab: "Saya ingin ke EI Azhar dan belajar seperti
Paman." Kemudian ia tertawa dan menjelaskan bahwa EI Azhar hanya untuk
kaum pria saja. (Saadawi, 2003:22)
Novel yang menggambarkan kehidupan seorang
perempuan, yang dipenuhi lika-liku masalah gender. Hampir disetiap permasalahan
dalam novel ini adalah gambaran diskriminasi paling umum yang sering dilakukan
oleh laki-laki kepada perempuan.
Pola diskriminasi pada kehidupan Firdaus
tergambarkan dalam budaya patriarkhi, yaitu suatu budaya yang meletakkan
laki-laki sebagai pemegang penuh kekuasaan, atau bisa juga laki-laki disebut
sebagai superior dari perempuan. Dalam novel ini tergambarkan keresahan dalam
diri Firdaus yang merasa sebagai perempuan miskin. Ia hanya akan dijadikan
sebagai alat tukar dengan imbalan mas kawin, hal tersebut dapat saja terjadi
ketika kedua orang tuanya tak menyanggupi untuk menanggung kehidupannya,
selebihnya ia dapat saja dipandang dan di gunakan secara penuh oleh laki-laki
dengan semena-semena.
Seperti perempuan
dan anak-anak yang lain Firdus juga mengharapkan dapat menyentuh pendidikan,
namun pada diskripsi novel tersebut, firdaus dan perempuan-perempuan yang lain
dalam kondisi sosialnya berkedudukan lebih rendah dari pada laki-laki, hal
tersebut menggambarkan bahwa institusi pendidikan tinggi yang hanya di dominasi
dan diperuntukan untuk kaum laki-laki, seperti tempat pamannya menjalani
pendidikan di El Azhar. Sedangkan untuk kaum perempuan tidak ada jaminan
seperti itu. Walaupun sebenarnya dalam novel ini, firdaus sempat mengeyam pendidikan
sampai sekolah menengah, namun ketika dihadapkan bahwa pamannya tak ingin
memasukannya ke perguraan tinggi dengan alasan tak mungkin perempuan seperti
seorang Firdaus dapat dimasukan ke perguruan tinggi yang mana banyak di
dominasi kaum laki-laki.
Nilai yang ke empat
adalah nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan alam. Nilai
mencintai alam, menjaga keseimbangan alam, dan mengagumi alam.
Apabila
saya membuka jendela setiap pagi, saya dapat melihat Sungai Nil mengalir,
menatap warna hijau airnya, dan pohon-pohon, warna hijau yang hidup yang di
dalamnya seakan-akan segalanya hidup, merasakan tenaga kehidupan, tubuh saya,
darah panas di dalam urat-urat darahnya. (Saadawi, 2003:80)
Alam merupakan
tempat tinggal kita umat manusia yang mana didalamnya tidak hanya hidup manusia
namun juga hidup makhluk lainnya seperti binatang dan juga tumbuhan. Keseimbangan alam harus tetap dijaga dan salah
satunya dengan tidak merusak alam dan lebih baik untuk menikmati dan
mengaguminya dengan secara tidak berlebihan dan tidak mengekploitasi secara berebihan
pula.
Firdaus memuja
keindahan alam seperti sliran sungai nil, pepeohonan dan juga udara yang segar
yang belum tercemar. Itu semua adalah bentuk manfaat yang dialami oleh manusia
yang akan kembali kepada dirinya dan efek negative yang dilakukan manusia
seperti membuang sampah sembarangan akan menyebabkan banjir dan akan
menyebabkan manusia menderita.
Nilai moral yang
terkandung dalam hubungan manusia dengan tuhan. bersyukur atas nikmat tuhan,
berkeyakinan pada ketetapan tuhan, dan berserah diri pada tuhan yang mahasa
esa.
Berbakti kepada orang tua
Ketika saya bertambah besar sedikit, Ayah meletakkan
mangkuk itu di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan
air. Sekarang saya telah menggantikan Ibu dan melakukan pekerjaan yang biasa
dilakukannya. (Saadawi, 2003:25)
Nilai moral yang
berhubungan dengan agama atau dengan tuhan salah satunya merupakan berbakti
kepada orang tua kita. Ada juga yang mengatakan bahwa surge ada di kaki Ibu saking
pentingnya berbakti kepada orang tua.
Doa orang tua
selalu didengar tuhan makanya minta doalah kepada orang tua doa yang baik dan
jangan membuat mereka marah karena kemaraha mereka adalah kemarahan tuhan juga.
Berbakti kepada suami
Keesokan paginya, saya menyiapkan makan pagi dan dia
duduk di kursinya untuk sarapan, tetapi menghindar untuk melihat kepada saya.
Ketika saya duduk di dekat meja makan, ia menengok dan mulai melihat ke pi ring
saya. (Saadawi, 2003:64)
Suami adalah
panutan bagi istri dan wajib dihormati oleh sang istri setelah menghormati
orang tua. Sperti yang dicontohkan Firdaus dalam menghormati suami meskipun
suaminya telah memukulinya dia tetap
melayaninya dan menyiapkan makanan untuk suaminya.
Saya katakan, banwa Paman adalah seorang
syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama, dan dia, karena itu,
tak mungkin memiliki kebiasaan memukul isterinya. Dia menjawab, bahwa justru
laki-Iaki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama
mengijinkan untuk melakukan hukuman itu.
Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya.
Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna. (Saadawi, 2003:63)
Rasa hormat sang
istri didalam novel ini cenderung tidak dihargai, istri menjadi sangat rendah
yang bisanya di suruh bekerja, melayani, menuruti kemauan suami, namun sang
suami malah hanya memukul, mencaci dan menyalahkan apa yang seharusnya menjadi
masalah sepele seperti yang dialami Firdaus. Sikap suami sperti itu ada
kaitannya dengan agama. Malah seperti dalam agama islam suami diperbolehkan
memukul istrinya jika mereka salah. Namun bukan berarti pukulan itu harus
selalu dilakukan jika memang masih bisa di nasehati dan masih ada alternative
lain.
Saya melihat dia berjalan-jalan dengan lelaki lainnya
bilamana ia memberi ulasan mengenai khotbah Jumat, betapa meyakinkan cara Sang
Imam berbicara sampai melebihi hal-hal yang tidak dapat d ilampaui. (Saadawi,
2003:17)
Solat Jumat
merupakan kegiatan ibadah kaum lelaki dalam agama Islam yang dilakukan setiap
hari Jumat. Didalamnya selalu disertakan Khotbah Jumat yang didalamya terdapat
ceramah-ceramah keagamaan. Karena negara Mesir cukup kental dengan tradisi agama Islam tentu saja
novelnya pun tak lepas dari pengaruh
Islam seperti yang gambarkan mereka melakukan solat Jumat.
3.3
Nilai budaya yang terkandung dalam novel Perempuan
di Titik Nol
Sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia
la tidak pernah membasuh kaki Paman, dan
Paman tidak pernah memukulnya, atau menyapanya dengan suara keras. (Saadawi,
2003:33)
Membasuh kaki suami adalah kebudayaan
orang Mesir. Karena beberapa kali disebutkan membasuh kaki seuami oleh seorang
isri di dalam novel ini. Sepertinya memukul istri, ataupun berbicara keras
merupakan kebiasaan orang Mesir juga. Karena ssperti yang kita ketahui Mesir
merupakan daerah gurun pasir dan juga cuaca panas membuat mereka keras dalam
berbicara. Dan karena budaya patriarki yang dianut oleh negara Mesir wanita
mudah sekali kena pukul.
Tetapi jika bibinya datang, berpakaian baju
petani yang panjang yang memperlihatkan tangannya yang pecah-pecah dari lubang
lengan baju yang panjang, ia mengundurkan diri ke suatu sudut tanpa mengeluarkan
sepatah kata pun ataupun senyuman. (Saadawi, 2003:33)
Budaya berpakaian bagi para petani seperti
yang disebutkan di dalam penggalan diatas bahwa jenisnya panjang dengan lengan
baju yang panjang pula. Karena Mesir merupakan wilayah gurun pasir tenu saja
suasananya panas meskipun Mesir terdiri dari empat musim namun baju petani
dimana-mana sama saja memakai pakaian panjang untuk melindunginya dari cuaca.
Setiap hari Jumat pagi ia akan mengenakan sebuah
galabeya* yang bersih clan rnenuju mesjid untuk menghadiri shalat berjemaah
mingguan. (Saadawi, 2003:17)
Galabeya merupakan
pakaian orang mesir, mirip seperti pakaian laki-laki Arab berwarna putih
(jubbah) dan dipakai untuk beribadah juga seperti untuk salat jumat.
Pertanian dan peternakan
Seperti halnya negara-negara Arab
yang lain, wilayah Mesir banyak dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus. Hanya
sebagian kecil wilayah Mesir yang cocok untuk pertanian. Salah satu kekayaan
yang menjadi unggulan bagi Mesir adalah Sungai Nil, sekaligus sebagai pendukung
kebudayaan Mesir sejak masa silam. Sungai Nil merupakan sumber kehidupan dan
pendukung mata pencaharian bagi masyarakat Mesir. Sektor pertanian Mesir sangat
mengandalkan pengairan dari Sungai Nil.
Budaya patriakhi
Budaya patriakhi
menjadikan perempuan sebagai pihak yang harus tunduk dan hidup dalam
subordinasi. Patriarki juga dapat dijelaskan dimana keadaan masyarakat yang
menempatkan kedudukan dan posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan
dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi (Pinem, 2009:42). Dalam
hal ini menunjukan bahwa perempuan Mesir menerima berbagai ketidakadilan selama
hidup mereka, terutama menyangkut peran seksual mereka. Peran seksual yang
dipaksakan pada mereka dan subordinasi pada akhirnya membawa tokoh utama pada
kesadaran akan haknya atas tubuh dan hidupnya sendiri. Hal ini adalah cerminan
kehidupan perempuan yang hidup dalam kuasa budaya patriakhi di Mesir dan negara
Arab lainnya.
Diskriminasi hukum terhadap Perempuan
Kemudian saya mencari pertolongan lewat
prosedur hukum. Saya dapati bahwa undang-undang menghukum perempuan macam saya,
tetapi sebaliknya undang-undang tidak menghukum apa yang dikerjakan lelaki. (Saadawi,
2003:135)
Disisi lain, perempuan kerap kali
mengalami diskriminasi hukum, seperti misalnya ketika mereka mengalami
kekerasan, diperlakukan kasar oleh laki-laki, atau ketika mereka harus
mengalami pelecehan seksual, yaitu tak ada jaminan hukum yang kuat untuk
melindungi mereka. Dalam novel ini, peristiwa tersebut terdeskripsikan ketika Firdaus
harus mendekam dipenjara karena kasus pembunuhan. Dalam kasus tersebut firdaus
dihukum tampa proses pembuktian, karena dalam proses tersebut tidak dibuktikan
kebenaran dari latar belakang terjadinya pembunuhan tersebut. Padahal dalam
novel tersebut, firdaus melakukan perlawan karena telah diserang oleh seorang
laki-laki mucikari, yang tertolak karena firdaus tidak menerima tawarannya.
Sebagai bentuk kompromi untuk mengurangi hukumannya, firdaus ditawari untuk
meminta permohonan untuk mengajukan grasi kepada Presiden, namun ditolaknya.
Firdaus lebih memilih untuk melakukan perlawanannya dengan bersikap pasif,
Sebagai bentuk perlawanannya terkutip dalam kalimat ini.
4.
Kesimpulan