Jumat, 01 April 2016

NILAI MORAL DAN BUDAYA DALAM NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL SAADAWI



NILAI  MORAL DAN BUDAYA DALAM NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL SAADAWI
Moral and Culture Value in “Perempuan di Titik Nol”
RANI SAILENDRA(1135030215)
Program S1 Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Sunan Guung Djati Bandung,
Jl. AH Nasution No. 105,
Telepon 022-7800525/Fax 022-7803936, Pos-el: contact.uin[at]uinsgd.ac.id


Abstrak: Penelitian ini memaparkan nilai moral dan budaya dalam  Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi. Nilai moral dan budaya tidak lepas dari peran Firdaus sebagai perempuan Mesir yang tertindas oleh kaum lelaki karena budaya  Mesir yang berada dalam kekuasaan patriarki  yang cenderung menempatkan perempuan sebagai nomor dua setelah lelaki. Dianalisis menggunakan pendekatan pragmatik dengan memakai nilai-nilai dalam karya sastra yaitu menggunakan kajian tentang nilai moral menurut Partiwintoro dkk. dan nilai budaya menurut Partiwintoro dkk. yang ada di Mesir dengan kacamata  Firdaus sebagai tokoh sentral.  Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai moral yang menonjol  dalam novel ini ini yaitu tentang keberanian, percaya diri, kehormatan, berbakti, dan nilai budaya yang menonjol dalam novel ini adalah patriarki, diskriminasi perempuan.
Kata kunci: pendekatan pragmatik, nilai moral, nilai budaya, perempuan, patriarki
Abstract: This research is aimed moral and cultural values in the novel " Perempuan d Titik Nol " by Nawal El Saadawi. Moral values and culture can not be separated from the role of Firdaus as Egyptian women oppressed by men for Egyptian patriarchal culture that tends to regard women as second to the man. Analyzed using a pragmatic approach by using the values in the literature that is using the study of moral values according to Partiwintoro et al. and cultural values by Partiwintoro et al. in Egypt with Firdaus view as the central figure. The results showed that the moral values that stand out in this novel is that of courage, confidence, honor, worship, and cultural values that stand out in this novel is patriarchy, discrimination of women.
Keywords: a pragmatic approach, moral values, cultural values, women, patriarchy


1.      Pendahuluan


 Perempuan Di Titik Nol merupakan salah satu karya fenomenal yang di tulis oleh Nawal El Saadawi. Nawal El Saadawi yang lahir di Kafr Tahla-tepi Sungai Nil-Mesir  pada tahun 1931 adalah seorang  tokoh perempuan Mesir terkemuka, sosiolog, dokter dan penulis militan yang konsisten berbicara dalam isu-isu masalah wanita Arab atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan feminis. Beliau seorang penulis produktif  terkenal di dunia dan sudah banyak tulisan beliau yang menjadi inspirasi baik di timur maupun dibarat.  lebih dari empat puluh buku fiksi dan non fiksi telah ia tulis. Ia merupakan salah satu penulis yang karyanya paling banyak diterjemahkan kedalam dua belas bahasa dunia. Novel dan buku-bukunya tentang  perempuan (feminisme) memiliki efek yang mendalam pada generasi ke generasi secara berturut-turut  baik perempuan muda dan laki-laki selama lima dekade terakhir.
Nawal lebih suka menulis dalam bahasa Arab. Nawal el Saadawi selalu menampilkan dan menonjolkan kritik yang cukup pedas sekaligus penggambaran realitas sosial politik dengan menggunakan colloquaialism atau gaya bahasa harian dalam penceritaannya, natural, dan tanpa embel-embel analitik. Nawal el Saadawi tidak mengikuti aliran al-fanna al-kamil (keindahan) yang kebanyakan digunakan sastrawan Arab.
Bahasa sarkatis yang sering digunakan Nawal cukup membuat geram para intelektual dan Pemerintah Mesir. Hal itu harus dibayar mahal olehnya. Pada 6 September 1981 ia dijebloskan ke dalam penjara Barrages di Mesir pada masa pemerintahan Anwar Sadat atas tuduhan perbuatan kriminal melawan pemerintahan yang sah. Namun, di dalam sel Saadawi terus berkarya. Meski dengan kertas toilet dan pensil alis, Saadawi diam-diam tetap menulis. Sekeluarnya dari penjara, tulisan itu menghasilkan esai berjudul Memoar dari Penjara Perempuan. Dalam buku itu, dia  mengisahkan bahwa ketimpangan sosial-ekonomi dan jender merupakan penyebab masuknya perempuan ke dalam sel penjara tersebut.
Novel Perempuan di Titik Nol ini menceritakan sekelumit kisah perjuangan seorang perempuan yang menghadapi tekanan hidup yang amat keras, dibanting oleh zaman, dihimpit dan dipaksa tunduk oleh kekuasaan. Novel yang menceritakan tokoh sentral seorang perempuan bernama Firdaus, yang harus menjalani kehidupan kelam dalam budaya patriakhi di Mesir. Firdaus seorang perempuan tertuduh kasus pembunuhan, yang diakhir hidupnya berada dibalik jeruji untuk menunggu eksekusi mati. Di dalamnya sarat akan nila-nilai kehidupan yang patut untuk kita kaji dan kita renungkan yang digambarkan secara menarik dan juga tak biasa oleh kisah hidup Firdaus yang penuh lika-liku.
Terkait dengan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam novel perempuan di Titik Nol ini memang menjadi hal yang penting untuk kita kaji secara lebih dalam dalam menganalisis karya sastra. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan seputar nilai-nilai kehidupan di dalam karya sastra dan menambah wawasan kita mengenai sastra dan masyarakat. Penelitian ini dapat memberikan konsep penerapan pendekatan pragmatik mengenai nilai-nilai yang ada di masyarakat seperti nilai agama, moral dan budaya.
2.      Kajian Teori
2.1  Pendekatan pragmatik
Pendekatan pragmatik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati karya sastra. Pembaca memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan sebuah karya merupakan karya sastra atau bukan.  Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994).
Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai karya sastra tersebut.
Penerapan pendekatan pragmatik misalnya memahami karya sastra dalam hubungannya dengan nilai moral, religius, dan pendidikan, seperti tampak pada judul-judul berikut. “Ajaran Moral dalam Novel Sitti Nurbaya”, “Nilai Religiositas dalam puisi-puisi Emha Ainun Nadjib” juga “Nilai Edukatif dalam Novel Salah Asuhan”. Dari judul-judul tersebut akan tampak bahwa dalam membahas dan menilai karya sastra kita kaitkan nilai-nilai pendidikan, etika, dan religius yang terdapat dalam karya sastra yang dapat berguna sebagai contoh atau teladan bagi pembaca.

2.2  Hakikat Nilai
Secara etimologis nilai berasal dari bahasa Latin yakni, volore yang berarti berharga, baik, dan berguna. Nilai adalah sesuatu yang berharga, baik, dan berguna bagi manusia. Nilai juga diartikan segala sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat.
Rosenblatt (dikutip Kurniati, 2013:9), menegaskan bahwa nilai tidak hanya setara yang diingini, tetapi apa yang ditimbangkan sangat berharga untuk diingini, yang pantas diingini. Dalam pengertiannya, nilai tidak dapat ditangkap oleh pancaindra, karena yang dapat dilihat adalah objek yang memiliki nilai atau tingkah laku yang mempunyai nilai. Nilai mengandung harapan atau sesuatu yang diharapkan manusia, nilai juga dapat dipandang sebagai konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang baik dan buruk.
Sementara itu, Notonegoro (dikutip Kaelan, 2008:23) menyatakan bahwa ada tiga macam nilai. Ketiga nilai tersebut sebagai berikut a) Nilai material, yakni segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani atau kebutuhan ragawi manusia b) Nilai vital, yakni segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas c) Nilai kerohanian, yakni segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah konsep abstrak mengenai kualitas yang penting, baik, dan berharga dalam pandangan manusia sebagai anggota masyarakat. Nilai memiliki sesuatu hal yang bersifat baik dan buruk. Menilai berarti menimbang suatu kegiatan, menghubungkan sesuatu dengan yang lain dan kemudian mengambil keputusan. Sesuatu dianggap memiliki nilai jika sesuatu itu dianggap penting, baik, dan berharga bagi kehidupan umat manusia. Baik ditinjau dari segi religius, politik, hukum, moral, etika, estetika, ekonomi, dan sosial budaya.
2.3  Hakikat Moral
            Menurut Piaget (dalam Kosasih, 1985:20) moral merupakan hal yang bersifat tuntutan dari luar masyarakat/kehidupan karena kiprah umum atau praktik nyata. Moral juga diartikan suatu hal yang menunjukkan sikap akhlak manusia (perbuatan yang dinilai) yang menjadi karakteristik jati diri manusia. Senada dengan itu, Poespoprodjo (1999:118) mengemukakan bahwa moral adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk.
            Menurut kamus besar bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008:929) moral mengandung tiga arti; pertama, ajaran baik dan buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, ahklak, budi perkerti dan sebagainya; kedua, kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, dan berdisiplin; ketiga, ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita.
Jenis-Jenis Nilai Moral
Moral bisa diartikan sebagai aturan sikap dan pola tingkah laku yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat tersebut yang mengacu pada baik buruknya perilaku manusia. Partiwintoro dkk. (2002:120) menjelaskna bahwa jenis-jenis nilai moral yang terkandung dalam sebuah karya sastra sebagai berikut.
a. Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri  merupakan kaidah-kaidah yang mengandung baik buruknya suatu hal terhadap perbuatan yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Nilai moral ini dapat diklasifikasikan antara lain sebagai berikut, percaya diri, berlaku adil, berani, kerja keras, dan lain sebagainya.
b.Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan manusia lain. Sama halnya dengan nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan manusia lain juga merupakan tata aturan perbuatan yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan manusia lain. Nilai moral ini dapat diklasifikasikan antara lain sebagai berikut, yakni saling menasihati, cinta kasih terhadap sesama, memberi perhatian, kesetiakawanan, dan kejujuran.
c. Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan masyarakat. Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan masyarakat berupa sikap suka bergotong royong, tolong-menolong, dan waspada menjaga lingkungan.
d.   Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan alam. Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan alam antara lain, mencintai alam, menjaga keseimbangan alam, dan mengagumi alam.
e. Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan tuhan. Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan tuhan antara lain, bersyukur atas nikmat tuhan, berkeyakinan pada ketetapan tuhan, dan berserah diri pada tuhan yang mahasa esa.

2.4  Hakikat Budaya
Sebagai ciptaan manusia, kebudayaan adalah dunia khas manusia. Kebudayaanlah yang membedakan manusia dengan hewan. Dalam ruang lingkup kebudayaan, manusia mengembangkan hidup individual dan sosialnya, dalam rangka pemenuhan martabat kemanusiaanya. Pengaruh-pengaruh utama yang membentuk dan mengubah kebudayaan manusia sama halnya dengan pengaruh-pengaruh yang membentuk spesies hewan.
Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Secara etimologis, kata kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal (Koentjaraningrat, 2009:9). Namun ada pula anggapan bahwa kata budaya bersasal kada majemuk budidaya yang berarti daya dan budi atau daya dari akal yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Selain itu, dalam bahasa Inggris, kata kebudayaan disebut culture yang berasal dari bahasa Latin yakni colere yang berarti merawat, memelihara, menjaga, mengolah, terutama mengolah tanah atau bertani.
Menurut seorang antropolog Inggris, Sir Edward B. Tylor (dalam Maran, 2007:26) kebudayaan adalah keseluruhan kompleks dari ide dan segala sesuatu yang dihasilkan manusia dalam pengalaman historisnya. Rumusan yang hampir sama juga dikemukankan oleh Robert H. Lowie (dalam Maran, 2007:26) yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat mencakup kepercayaan, adat-istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan karena kreativitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semua hal yang didapat atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Selain itu, Soekanto (2001:193) menjabarkan unsur-unsur kebudayaan atau culture universals sebagai berikut:
a) Sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya) b) Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya) c) Sistem kemasyarakatan (kekerabatan, pelapisan sosial, sistem perkawinan, sistem pimpinan politik, dan sebagainya) d) Bahasa (lisan maupun tertulis) e) Sistem pengetahuan f) Sistem religi atau kepercayaan g) Sistem kesenian.
Senada dengan Soekanto, Koentjaraningrat (dalam Maran, 2007:46–47) mengungkapkan bahwa unsur-unsur kebudayaan terbagi atas tujuh hal yakni, sistem religi dan upacara keagamaan, sistem sosial dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem teknologi dan peralatan.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Sinopsis Perempuan di Titik Nol
Novel Perempuan di Titik Nol ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang perempuan yang bernama Firdaus. Firdaus adalah anak dari seorang petani miskin, hidupnya sangatlah rumit dan penuh konflik. Sejak kecil Firdaus sudah menjalani penganiayaan dari segi fisik maupun mental oleh seorang lelaki yang dikenalnya sebagai ayah. Sesungguhnya tak cuma Firdaus yang mendapat perlakuan dari sosok ayahnya itu, tapi ibunya pun tidak pernah mempunyai nasib yang lebih baik dari Firdaus. Ketika ayah dan ibu Firdaus meninggal, Firdaus di asuh oleh pamannya. Meski pamannya bersikap lebih baik dan lemah lembut daripada ayahnnya namun pamannya sama saja seperti lelaki lainyang tidak melewatkan kesempatan untuk melakukan pelecehan seksual kepadanya. Seringkali pamannya meraba-raba paha Firdaus sambil membacakan buku kepadanya sebelum atau sesudah Firdaus tinggal bersamanya.
Dalam masa ini, Firdaus disekolahkan di sekolah menengah. Disitulah ia dapat merasakan bergaul dengan sebayanya, namun ketika itu juga ia hampir mengenal cinta tetapi tidak dari lawan jenis, melainkan dari seorang guru perempuan. Lulus dari sekolah menengah dengan nilai terbaik, lalu pamannya menikah dengan seorang gadis anak dari guru sewaktu ia sekolah di Al Ezhar. Waktu pun terus belalu, lama-kelamaan sang bibi tersebut kurang suka dengan keberadaan Firdaus di rurmahnya. Jadi ia berencana untuk mengenalkan Firdaus pada seorang laki-laki yang bernama Syekh Mahmoud, orang tua yang berumur 60 tahun yang kaya raya dan sangat pelit disertai dengan adanya bisul disekitar wajahnya. Untuk membalas budi sang paman, Firdaus pun menerima pinangan dari Syekh Mahmoud tersebut dan umurnya waktu itu adalah 18 tahun. Apa boleh buat Firdaus pun harus melayani lelaki dengan wajahnya yang penuh bisul itu walau dengan setengah hati. Namun lama-kelamaan Firdaus pun tak tahan dan kemudian melarikan diri. Hal itu disebabkan Firdaus seringkali mendapatkan perlakuan yang menyakiti fisiknya. Ia pun terus berlari, dan saking kencangnya ia berlari akhirnya tibalah pada suatu keindahan pemandangan sungai Nil. Di situlah awal mulanya Firdaus bertemu dengan lelaki yang bernama Bayoumi. Awalnya ia mengira lelaki yang bernama Bayoumi adalah seorang laki-laki yang baik, namun ternyata tidak demikian. Bayoumi lalu mengajak Firdaus untuk tinggal satu rumah. Bayoumi pun tidak ketinggalan untuk merasakan nikmatnya tubuh Firdaus bersama teman-temannya. Bayoumi lah yang membawa Firdaus pada suatu profesi yang disebut pelacur.
Kemudian ia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang bernama Sharifa yang ternyata tak lebih dari seorang Mucikari yan licik. Namun, berkat perempuan itu Firdaus lebih mengenal lagi tentang dunia pelacuran dan mengetahui bahwa ia memiliki tubuh dengan harga diri yang tinggi, disitu Firdaus merasakan kenikmatan dunia. Karena adanya konflik antara Firdaus dan Fawzi (pacar Sharifa), maka Firdaus pun kembali melarikan diri. Di jalan ia di ajak oleh seseorang untuk masuk kedalam mobil dan dibawa ke hotel. Setelah melayani lelaki tersebut Firdaus di beri uang sebesar 10 pon. Jalan hidup membawa Firdaus menjadi seorang pelacur mandiri dan berharga. Ia bisa membeli apapun yang ia inginkan, ia bisa berdandan cantik, dan yang paling penting ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Akan tetapi nasib baik belum juga bersahabat dengannya. Ketika itu Firdaus sedang merasakan frustasi karena ia tidak merasa nyaman dan tenang saat ia menekuni sebagai seorang pelacur. Lalu ia sempat beralih profesi menjadi pegawai kantoran. Disana dia bertemu dan bisa merasakan rasanya jatuh cinta pada teman kerjanya yang bernamaIbrahim, tetapi tetap saja lelaki itu hanya menyukai dan menginginkan kenikmatan tubuh perempuan. Bahkan perempuan adalah pelacur dalam hidup seorang lelaki, karena setelah menjadi istri pun wanita masih menjadi pelacur. Hal yang membedakannya adalah ketika sudah berumah tangga wanita merasa pasrah, tidak dibayar, dan memakai cinta dalam berhubungan. Sedangkan pelacur dibayar dan tidak memakai cinta dalam hubungannya.
Akhirnya Firdaus pun menekuni profesinya kembali sebagai seorang pelacur, sehingga seorang mucikari yang bernama Marzouk memaksa Firdaus bekerja untuknya. Ternyata dari pengalamannya selama ini, Firdaus pun sadar dan menjadi perempuan yang tak mau lagi di injak-injak harga dirinya oleh kaum pria. Namun karena sang mucikari memaksa dan mengancamnya, Firdaus pun membunuh sang mucikari. Dengan perasaan lega, Firdaus meninggalkan tempatnya.
Di sudut jalan, seorang lelaki dengan mobil mewah mengajaknya ikut. Firdaus menolak. Lelaki, yang mengenalkan diri sebagai seorang pangeran Arab itu terus mendesaknya, terjadi tawar-menawar, hingga bertemu pada harga tiga ribu. Selama di ranjang, pangeran Arab itu terus bertanya “Apakah kau merasa nikmat?” Bagi Firdaus, itu pertanyaan yang sangat bodoh, namun ia tetap menjawab “Ya.” Tetapi karena pertanyaan itu terus diulang, Firdaus tidak tahan, akhirnya ia menjawab “Tidak.” Firdaus masih marah ketika pangeran Arab itu menyerahkan uang. Maka uang itu ia cabik-cabik menjadi serpihan-serpihan kecil. Pangeran Arab itu heran, dan menduga bahwa Firdaus seorang puteri. Mereka terlibat perdebatan dan berujung pertengkaran. Pangeran Arab itu berteriak sampai datang polisi. Firdaus diborgol dan dibawa ke penjara.
Firdaus menolak untuk mengirim surat permohonan keringanan hukum karena menurutnya ia bukan pejahat, para lelakilah yang penjahat. Akibat ulahnya itu, Firdaus pun di vonis hukuman mati. Namun anehnya dia malah menolak menerima grasi yang telah diusulkan oleh seorang dokter penjaranya kepada presiden. Firdaus menggunakan kepasifan sebagai senjata perlawanan untuk mempertahankan harga dirinya, termasuk kepasifan menerima hukuman mati. Menurut Firdaus, vonis itu justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.
3.2 Nilai moral yang terkandung dalam perempuan di titik nol
            Dalam menganalisis novel ini akan dipaparkan imajinasi pengarang yang ditampilkan melalui tokoh perempuan yang bernama Firdaus dan juga tokoh-tokoh pendukung lainnya dalam novel ini.
Seperti yang sudah disebutkan dalam kajian teori diatas bahwa nilai moral di klasifikasikan menjadi lima bagian diantaranya yang pertama adalah  Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Di dalam novel Perempuan di Titik Nol ini  Firdaus mempunyai sifat percaya diri seperti kutipan di bawah ini.
Percaya diri
Sejak hari itu dan seterusnya saya tidak lagi menundukkan kepala atau mengalihkan pandangan saya. Saya berjalan melalui jalan raya dengan kepala tegak, dan mata diarahkan lurus ke depan. Saya memandang orang ke arah matanya, dan apabila saya melihat seseorang menghitung uang saya memandangnya tanpa berkedip……. (Saadawi, 2003:98)
Salah satu nilai moral yang patut kita pelajari adalah sifat percaya diri yang digambarkan pada diri Firdaus.  Setelah dia mengalami berbagai macam perlakuan buruk dari sekelilingnya dan tidak mempunyai keberanian untuk mempercayai dan menghargai dirinya sendiri, namun setelah itu dia berani menatap kedepan dengan penuh percaya diri dan menghargai dirinya sendiri dengan tidak akan mudah untuk di injak-injak oleh orang lain seperti yan pernah dirasakannya di masa yang lalu. Seperti yang di perlakukan ayahnya, istri pamannya, dan Sharifa ketika mereka menghitung uang dia akan terbiasa mengalihkan pandangannya kearah yang lain karena terbiasa. Namun sekarang tidak demikian, seperti yang di katakan penggalan diatas bahwa jika ada yang menghitung uang Firdaus tidak akan memalingkan pandangannya dan akan menatapnya tanpa berkedip dan menghilangkan sikap seperti pengecut dan ketakutannya terhadap orang lain karena siapa lagi yang akan menghargai dirimu jika bukan dirimu sendiri yang memulai melakukannya.
Saya bukannya seorang pelacur dalam arti yang sepenuhnya, demikian maka sewaktu-waktu saya mengatakan tidak. Sebagai hasiInya saya tetap naik…. Tiada seorang pun yang tahan lerhadap penolakan ganda lersebut. Maka tiap kali saya berkata tidak, lelaki itu akan rnendesak sampai berapa tingginya pun harga saya naikkan, ia tetap tidak tahan ditolak oleh seorang perempuan. (Saadawi, 2003:130)
Bisa kita lihat dalam kutipan diatas bahwa sebagai seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur, Firdaus sangat percaya diri. Kepercayaan diri tersebut dia dapatkan dari pengalaman, karena meskipun dia menolak seorang lelaki maka lelaki lainnya pasti akan muncul dan membayarnya lebih tinggi. Firdaus tahu harga dirinya sangat tinggi dan tidak mau dibayar murah, dan jika dia menolak justru akan menjadi tantangan bagi para lelaki untuk menaklukannya karena para lelaki tak tahan akan penolakan.
Hal ini menjadi pelajaran untuk kaum perempuan saat ini mengenai pemikiran tentang para lelaki. Yang mana jika ada seorang lelaki yang tidak menghargai kalian para perempuan, tinggalkan saja karena diluar sana masih banyak lelaki yang akan mengantri dengan keteguhan dan sifat percaya diri akan harga diri seorang wanita yang tinggi. Wanita terhormat akan selalu dihargai dibandingkan wanita yang tidak menghargai dirinya sendirinya.
Berani
Itulah yang menyebabkan mereka takut dan tergesa-gesa untuk melaksanakan hukumannya terhadap saya. Mereka tidak takut kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar. la melindungi saya dari rasa takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau ketelanjangan, atau kehancuran. Adalah kebenaran yang menakutkan ini yang mencegah saya merasa takut kepada kekurangajaran para penguasa dan para petugas kepolisian. (Saadawi, 2003: 150)

Nilai moral yang digambarkan dari sifat Firdaus di dalam kutipan diatas adalah keberanian. Firdaus berani mengungkapkan kebenaran dan berani mngakui kesalahannya setelah membunuh mucikari yang memang mengacamnya. Kebenaran yang ada dalam diri Firdaus membuatnya berani menghadapi apapun yang sulit didalam hidupnya meskipun dia di hadapkan pada kematian namun firdaus tetap teguh dan memegang kebenaran tersebut.
Hal ini patut kita teladani bahwa jika memang apa yang kita perjuangkan adalah kebenaran, maka beranikanlah diri kita, bertarunglah sampai titik darah penghabisan. Karena kebenaran akan memberikan kita kekuatan dan keberanian yang akan mengalahkan apapun. Meskipun pada faktanya kebenaran tidak selalu menang karena ada saja yang bisa membeli kebenaran contohnya dalam segi hukum yang mana sudah menjadi rahasia umum bahwa yang mempunyai banyak uanglah yang berpeluang besar untuk menang.
Teguh pendirian
"Anda dapat ikut bersama saya."……………..Ketika saya tidak berkata apa-apa, ia menyangka saya tidak mendengarnya. Maka ia mengulangi: "Anda dapat ikut bersama saya. Dengan tenang saya menjawab, "Harga tubuh saya lebih tinggi daripada yang dapat dibayar dengan suatu kenaikan gaji." Dia membelalakkan matanya karena terkejut. Barangkali ia heran bagaimana mungkin saya dengan mudah mengetahui pikirannya. Saya mengamatinya ketika ia pergi dengan mobilnya dalam kecepatan tinggi. (Saadawi, 2003:108-109)
Teguh pendirian yang di gambarkan pada penggalan cerita diatas merupakan sikap Firdaus dalam menghadapi lelaki yang merupakan atasan perusahaan tempat dimana dia bekerja. Yang mana dalam novel ini para perempuan saat itu digambarkan akan sangat takut di pecat dan akan menuruti kemauan para atasan di kantornya agar sekedar mendapat kesan baik dan juga untuk mendapatkan kenaikan gaji, namun Firdaus tidak demikian. Firdaus dengan keteguhan pendiriannya menolak atasannya tersebut  untuk mengikutinya kedalam mobil dan yang sudah pasti jika saja Firdaus ikut dengan mobil tersebut Firdaus akan dimintai macam-macam dan mungkin akan dianggap wanita murahan. Sedangkan pada saat itu Firdaus sedang menjalani hidup sebagai wanita terhormat yang seperti dikatakan lelaki bernama Di’aa bahwa wanita terhormat itu bukan pelacur. Ini menunjukkan bahwa Firdaus.
Kehormatan
Selama tiga tahun itu tak satu kali pun pernah ada seorang pejabat eksekutif atau atasan lain menyentuh saya. Saya tak punya keinginan untuk menghina tubuh saya dengan harga rendah, khususnya setelah saya terbiasa dibayar sangat mahal untuk pelayanan apa pun bentuknya yang harus saya berikan. Malahan saya pun menolak undangan-undangan makan siang atau pesiar dengan mobil sepanjang Sungai Nil……….. Saya merasa kasihan kepada gadis-gadis lainnya yang begitu polosnya untuk menyediakan tubuh dan upaya fisik mereka setiap malam untuk memperoleh imbalan makan,……… (Saadawi, 2003:110)
Nilai kehormatan yang ditunjukkan oleh tokoh Firdaus dalam novel ini ditunjukkan dengan kata-katanya yang cukup pedas yaitu tak punya keinginan untuk menghina tubuhnya dengan harga rendah yang mana itu adalah cambukan untuk para perempuan yang menyia-nyiakan hidupnya dengan harga rendah dan mau saja di bodohi oleh para lelaki.  Yang bisa kita petik adalah Firdaus bisa menentukan nilai dan harga dirinya dan tidak mau diperbudak oleh para lelaki seperti yang telah dia alami dimasa lalunya.
Bertanggung jawab
“Kau penjahat. Kau memang harus mati." "Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan." (Saadawi, 2003: 148)
Sikap bertanggung jawab Firdaus ditunjukkannya dengan sikap siap mati karena perbuatannya yang telah membunuh seseorang dan dia tidak menyangkalnya dan tidak merasa harus di bebaskan. Bertanggung jawab atas sebuah perbuatan merupakan hal yang harus kita lakukan sebagai manusia dan segala sesuatu memang ada sebab dan akibatnya seperti yang di katakana dalam agama pun ada yang namaya neraka tempat hukuman bagi  orang-orang yang di dunianya hanya berbuat kejahatan dan kemaksiatan.
Nilai moal yang kedua adalah Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan manusia lain. antara lain sebagai berikut, yakni
Saling menasihati,
Kenyataan bahwa saya menolak usaha-usaha mereka yang mulia untuk menyelamatkan saya dari keyakinan untuk bertahan sebagai pelacur, telah membuktikan kepada saya, bahwa ini adalah pili han saya dan bahwa saya memiliki seclikit kebebasan paling tidak kebebasan untuk hidup di dalam keadaan yang lebih baik daripada kehielupan perempuan lainnya. (Saadawi, 2003:130)
Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusi dengan manusia yang lain juga terdapat dalam novel ini, contohnya seperti penggalan di atas bahwa ada beberapa orang yang menasihati Firdaus untuk tidak lagi menekuni pekerjaan pelacur dan mengajaknya untuk hidup lebih baik daripada menjadi pelacur. Disitu tergambar bahwa masyarakat Mesir dalam novel itu digambarkan ada juga yang memiliki kepedulia terhadap sesamanya seperti yang dilakukannya dengan menasehati Firdaus. Ada juga satu tokoh yang bernama Di’aa yang juga measehati Firdaus bahwa pekerjaannya tidak terhormat dan membuat Firdaus megubah hidupnya menjadi pegawai kantoran.
Membalas budi
Setelah kembali saya tak tahu bagaimana saya bertahan hidup di rumah Paman, saya pun tak ingat lagi bagaimana saya menjadi isteri Syekh Mahmoud. Apa yang saya ketahui adalah apa yang harus dihadapi di dunia telah menjadi kurang menakutkan daripada bayangan kedua mata itu, yang menyebabkan bulu roma saya berdiri apabila teringat kembali. (Saadawi, 2003:60)
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia yang lainnya. Dalam hal ini seringkali kita juga mempunyai hutang budi yang harus kita balas terhadap orang lain  yang telah membantu kita. Di dalam novel ini Firdaus digambarkan demi membalas budi terhadap pamannya yang telah baik, memberinya makan, menyekolahkannya bahkan sampai tingkat sekolah menengah dan membuatnya bisa bergaul dengan sesamanya Firdaus rela di nikahkan dengan seorang lelaki tua yang berumur 60an dan mempunyai bisul pada wajahnya. Balas budi yang dilakukan oleh Firdaus tidak dianjurkan karena membalas budi seharusnya kita juga ikhlas dan juga tidak seharusnya sangat merugikan diri kita senidri. Membalas budi terhadap seseorang tidak harus mengorbankan diri kita dan membuat diri kita menderita jika memang ada alternative yang lain mengapa yang membuat menderita harus dilakukan.
Berbakti kepada orang tua
Ketika saya bertambah besar sedikit, Ayah meletakkan mangkuk itu di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan air. Sekarang saya telah menggantikan Ibu dan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukannya. (Saadawi, 2003:25)
Sebagai seorang anak tentu saja sudah kewajiban kita untuk berbakti terhadap orang tua yang sudah melahirkan kita kedunia. Hal ini yang dilakukan oleh Firdaus, dia berbakti kepada orangtuanya, membantu ibunya bekerja, menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya  dan yang lainnya. Meskipunibu dan ayahnya orangyang kasar karena mereka hanya petani yang miskin Firdaus tetap bebakti dan menurut sampai kedua orang tuanya meninggal. Seperti dalam penggalan diatas Firdaus membasuh kaki ayahnya meskipun ayahnya seringkali kasar terhadap dirinya.
Berbakti kepada suami
Tetapi belum lama saya membaringkan tubuh di atasnya untuk istirahat karena lelah sesudah memasak, mencuci serta membersihkan rumah yang besar itu dengan ruangan-ruangan yang penuh meubel, maka Syeikh Mahmoud akan muncul di samping saya. (Saadawi, 2003:61)
Nilai moral yang bisa kita petik dalam cerita ini adalah kesolehan Firdaus sebagai istri. Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga karena itu merupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Meskipun dia lelah namun juga dia tetap melayani suamiya  dan menghormatinya. Satu lagi nilai Firdaus yang menghormati suaminya yang sudah tua, kasar, pelit dan mukanya di hinggapi bisul besar dia tetap bersikap layaknya seorang istri yang baik.
Nilai moral yang ketiga adalah nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan masyarakat.
Acuh tak acuh
Semua dalam keadaan tergesa-gesa, berlalu cepat, tak acuh tentang apa yang terjadi di sekeliling mereka. Tak seorang pun yang memperhatikan saya ketika saya berdiri di sana sendirian. Dan karena mereka tidak memperhatikan saya, maka saya dapat mengamati mereka. (Saadawi, 2003:58).
Masyarakat Mesir yang tergambar dalam novel ini adalah acuh tak acuh seperti yang dikatakan dalam pengalan diatas tak seorangpun memperhatikannya meskipun saat itu dia sedang sendirian, menderita dengan luka yang dialaminya akibat perbuatan suaminya yang memukulnya hingga berdarh-darah. Tingkat kepedulian masyarakat Mesir masih rendah apalagi terhadap perempuan. Perempuan bisa mereka perlakukan dengan semena-mena.
Diskriminasi perempuan
"Apakah yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?" Lalu saya rnenjawab: "Saya ingin ke EI Azhar dan belajar seperti Paman." Kemudian ia tertawa dan menjelaskan bahwa EI Azhar hanya untuk kaum pria saja. (Saadawi, 2003:22)
Novel yang menggambarkan kehidupan seorang perempuan, yang dipenuhi lika-liku masalah gender. Hampir disetiap permasalahan dalam novel ini adalah gambaran diskriminasi paling umum yang sering dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan.
Pola diskriminasi pada kehidupan Firdaus tergambarkan dalam budaya patriarkhi, yaitu suatu budaya yang meletakkan laki-laki sebagai pemegang penuh kekuasaan, atau bisa juga laki-laki disebut sebagai superior dari perempuan. Dalam novel ini tergambarkan keresahan dalam diri Firdaus yang merasa sebagai perempuan miskin. Ia hanya akan dijadikan sebagai alat tukar dengan imbalan mas kawin, hal tersebut dapat saja terjadi ketika kedua orang tuanya tak menyanggupi untuk menanggung kehidupannya, selebihnya ia dapat saja dipandang dan di gunakan secara penuh oleh laki-laki dengan semena-semena.
Seperti perempuan dan anak-anak yang lain Firdus juga mengharapkan dapat menyentuh pendidikan, namun pada diskripsi novel tersebut, firdaus dan perempuan-perempuan yang lain dalam kondisi sosialnya berkedudukan lebih rendah dari pada laki-laki, hal tersebut menggambarkan bahwa institusi pendidikan tinggi yang hanya di dominasi dan diperuntukan untuk kaum laki-laki, seperti tempat pamannya menjalani pendidikan di El Azhar. Sedangkan untuk kaum perempuan tidak ada jaminan seperti itu. Walaupun sebenarnya dalam novel ini, firdaus sempat mengeyam pendidikan sampai sekolah menengah, namun ketika dihadapkan bahwa pamannya tak ingin memasukannya ke perguraan tinggi dengan alasan tak mungkin perempuan seperti seorang Firdaus dapat dimasukan ke perguruan tinggi yang mana banyak di dominasi kaum laki-laki.
Nilai yang ke empat adalah nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan alam. Nilai mencintai alam, menjaga keseimbangan alam, dan mengagumi alam.
Apabila saya membuka jendela setiap pagi, saya dapat melihat Sungai Nil mengalir, menatap warna hijau airnya, dan pohon-pohon, warna hijau yang hidup yang di dalamnya seakan-akan segalanya hidup, merasakan tenaga kehidupan, tubuh saya, darah panas di dalam urat-urat darahnya. (Saadawi, 2003:80)
Alam merupakan tempat tinggal kita umat manusia yang mana didalamnya tidak hanya hidup manusia namun juga hidup makhluk lainnya seperti binatang dan juga tumbuhan.  Keseimbangan alam harus tetap dijaga dan salah satunya dengan tidak merusak alam dan lebih baik untuk menikmati dan mengaguminya dengan secara tidak berlebihan dan tidak mengekploitasi secara berebihan pula.
Firdaus memuja keindahan alam seperti sliran sungai nil, pepeohonan dan juga udara yang segar yang belum tercemar. Itu semua adalah bentuk manfaat yang dialami oleh manusia yang akan kembali kepada dirinya dan efek negative yang dilakukan manusia seperti membuang sampah sembarangan akan menyebabkan banjir dan akan menyebabkan manusia menderita.
Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan tuhan. bersyukur atas nikmat tuhan, berkeyakinan pada ketetapan tuhan, dan berserah diri pada tuhan yang mahasa esa.
Berbakti kepada orang tua
Ketika saya bertambah besar sedikit, Ayah meletakkan mangkuk itu di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan air. Sekarang saya telah menggantikan Ibu dan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukannya. (Saadawi, 2003:25)
Nilai moral yang berhubungan dengan agama atau dengan tuhan salah satunya merupakan berbakti kepada orang tua kita. Ada juga yang mengatakan bahwa surge ada di kaki Ibu saking pentingnya berbakti kepada orang tua.
Doa orang tua selalu didengar tuhan makanya minta doalah kepada orang tua doa yang baik dan jangan membuat mereka marah karena kemaraha mereka adalah kemarahan tuhan juga.  
Berbakti kepada suami
Keesokan paginya, saya menyiapkan makan pagi dan dia duduk di kursinya untuk sarapan, tetapi menghindar untuk melihat kepada saya. Ketika saya duduk di dekat meja makan, ia menengok dan mulai melihat ke pi ring saya. (Saadawi, 2003:64)
Suami adalah panutan bagi istri dan wajib dihormati oleh sang istri setelah menghormati orang tua. Sperti yang dicontohkan Firdaus dalam menghormati suami meskipun suaminya telah memukulinya  dia tetap melayaninya dan menyiapkan makanan untuk suaminya.
Saya katakan, banwa Paman adalah seorang syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama, dan dia, karena itu, tak mungkin memiliki kebiasaan memukul isterinya. Dia menjawab, bahwa justru laki-Iaki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu.  Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna. (Saadawi, 2003:63)
Rasa hormat sang istri didalam novel ini cenderung tidak dihargai, istri menjadi sangat rendah yang bisanya di suruh bekerja, melayani, menuruti kemauan suami, namun sang suami malah hanya memukul, mencaci dan menyalahkan apa yang seharusnya menjadi masalah sepele seperti yang dialami Firdaus. Sikap suami sperti itu ada kaitannya dengan agama. Malah seperti dalam agama islam suami diperbolehkan memukul istrinya jika mereka salah. Namun bukan berarti pukulan itu harus selalu dilakukan jika memang masih bisa di nasehati dan masih ada alternative lain.
Saya melihat dia berjalan-jalan dengan lelaki lainnya bilamana ia memberi ulasan mengenai khotbah Jumat, betapa meyakinkan cara Sang Imam berbicara sampai melebihi hal-hal yang tidak dapat d ilampaui. (Saadawi, 2003:17)
Solat Jumat merupakan kegiatan ibadah kaum lelaki dalam agama Islam yang dilakukan setiap hari Jumat. Didalamnya selalu disertakan Khotbah Jumat yang didalamya terdapat ceramah-ceramah keagamaan. Karena negara Mesir cukup  kental dengan tradisi agama Islam tentu saja novelnya pun  tak lepas dari pengaruh Islam seperti yang gambarkan mereka melakukan solat Jumat.
3.3 Nilai budaya yang terkandung dalam novel Perempuan di Titik Nol
Sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia
la tidak pernah membasuh kaki Paman, dan Paman tidak pernah memukulnya, atau menyapanya dengan suara keras. (Saadawi, 2003:33)
            Membasuh kaki suami adalah kebudayaan orang Mesir. Karena beberapa kali disebutkan membasuh kaki seuami oleh seorang isri di dalam novel ini. Sepertinya memukul istri, ataupun berbicara keras merupakan kebiasaan orang Mesir juga. Karena ssperti yang kita ketahui Mesir merupakan daerah gurun pasir dan juga cuaca panas membuat mereka keras dalam berbicara. Dan karena budaya patriarki yang dianut oleh negara Mesir wanita mudah sekali kena pukul.
Tetapi jika bibinya datang, berpakaian baju petani yang panjang yang memperlihatkan tangannya yang pecah-pecah dari lubang lengan baju yang panjang, ia mengundurkan diri ke suatu sudut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ataupun senyuman. (Saadawi, 2003:33)
            Budaya berpakaian bagi para petani seperti yang disebutkan di dalam penggalan diatas bahwa jenisnya panjang dengan lengan baju yang panjang pula. Karena Mesir merupakan wilayah gurun pasir tenu saja suasananya panas meskipun Mesir terdiri dari empat musim namun baju petani dimana-mana sama saja memakai pakaian panjang untuk melindunginya dari cuaca.
Setiap hari Jumat pagi ia akan mengenakan sebuah galabeya* yang bersih clan rnenuju mesjid untuk menghadiri shalat berjemaah mingguan. (Saadawi, 2003:17)
Galabeya merupakan pakaian orang mesir, mirip seperti pakaian laki-laki Arab berwarna putih (jubbah) dan dipakai untuk beribadah juga seperti  untuk salat jumat.
Pertanian dan peternakan
            Seperti halnya negara-negara Arab yang lain, wilayah Mesir banyak dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus. Hanya sebagian kecil wilayah Mesir yang cocok untuk pertanian. Salah satu kekayaan yang menjadi unggulan bagi Mesir adalah Sungai Nil, sekaligus sebagai pendukung kebudayaan Mesir sejak masa silam. Sungai Nil merupakan sumber kehidupan dan pendukung mata pencaharian bagi masyarakat Mesir. Sektor pertanian Mesir sangat mengandalkan pengairan dari Sungai Nil.
Budaya patriakhi
Budaya patriakhi menjadikan perempuan sebagai pihak yang harus tunduk dan hidup dalam subordinasi. Patriarki juga dapat dijelaskan dimana keadaan masyarakat yang menempatkan kedudukan dan posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi (Pinem, 2009:42). Dalam hal ini menunjukan bahwa perempuan Mesir menerima berbagai ketidakadilan selama hidup mereka, terutama menyangkut peran seksual mereka. Peran seksual yang dipaksakan pada mereka dan subordinasi pada akhirnya membawa tokoh utama pada kesadaran akan haknya atas tubuh dan hidupnya sendiri. Hal ini adalah cerminan kehidupan perempuan yang hidup dalam kuasa budaya patriakhi di Mesir dan negara Arab lainnya.
Diskriminasi hukum terhadap Perempuan
Kemudian saya mencari pertolongan lewat prosedur hukum. Saya dapati bahwa undang-undang menghukum perempuan macam saya, tetapi sebaliknya undang-undang tidak menghukum apa yang dikerjakan lelaki. (Saadawi, 2003:135)
            Disisi lain, perempuan kerap kali mengalami diskriminasi hukum, seperti misalnya ketika mereka mengalami kekerasan, diperlakukan kasar oleh laki-laki, atau ketika mereka harus mengalami pelecehan seksual, yaitu tak ada jaminan hukum yang kuat untuk melindungi mereka. Dalam novel ini, peristiwa tersebut terdeskripsikan ketika Firdaus harus mendekam dipenjara karena kasus pembunuhan. Dalam kasus tersebut firdaus dihukum tampa proses pembuktian, karena dalam proses tersebut tidak dibuktikan kebenaran dari latar belakang terjadinya pembunuhan tersebut. Padahal dalam novel tersebut, firdaus melakukan perlawan karena telah diserang oleh seorang laki-laki mucikari, yang tertolak karena firdaus tidak menerima tawarannya. Sebagai bentuk kompromi untuk mengurangi hukumannya, firdaus ditawari untuk meminta permohonan untuk mengajukan grasi kepada Presiden, namun ditolaknya. Firdaus lebih memilih untuk melakukan perlawanannya dengan bersikap pasif, Sebagai bentuk perlawanannya terkutip dalam kalimat ini.
4.      Kesimpulan


Berdasarkan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai karya sastra yang diantaranya adalah nilai moral dan budaya di dalam novel Perempuan di Titik Nol ni dapat dilihat dari gambaran tokoh Firdaus dan juga tokoh lainnya. Dalam analisis ini ditampilkan jenis-jenis nilai moral dan jenis-jenis budaya yang ada di alam novel yang di dominasi oleh Firdaus.
Nilai moral yang dibahas adalah nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan manusia lain, nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan masyarakat, nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan masyarakat berupa sikap suka bergotong royong, tolong-menolong, dan waspada menjaga lingkungan,  nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan alam, nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan tuhan, nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan tuhan.
Dan budaya yang di bahas adalah sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia, sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi,  Sistem kemasyarakatan.


Daftar Pustaka
Buku
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Edisi Keempat). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kaelan. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Kurniati, Nur. 2013. Tesis: Nilai-Nilai Pendidikan dan Budaya dalam Novel Dunia Kecil Karya Yoyon Indra Joni. Palembang: Universita PGRI Palembang.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
Kosasih, E. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.
Maran, Rafael Raga. 2007. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Pinem, Saroba. 2009. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi. Jakarta: Trans Media.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres.   
Poespoprodjo, W. 1999. Filsafat Moral, Kesusilaan dalam Teori dan Prakrek. Bandung: CV. Pustaka Grafika.
Partiwintoro. 2002. Pengkajian Nilai-Nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa, Daerah Jawa Timur. Depdikbud.
Sastryani, S. 2007. Glosarium, Seks dan Gender. Yogyakarta: Carasuati Books.
Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar