MITOS DALAM ESSAY “THE
BRAIN OF EINSTEIN” DAN
“THE JET-MAN” KARYA ROLAND
BARTHES
Makalah
Diajukan untuk
memenuhi salah satu
tugas mata kuliah
Semiotics, dengan Dosen Pengampu:
R. Myrna Nur Sakinah, M.Hum.
Disusun Oleh :
Rani 1135030215
Reni Kharismawati 1135030219
Rini Indriani 1135030231
Rita Choerunnisa
Siska Oktaviani
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Fakultas Adab dan Humaniora
Bahasa dan Sastra Inggris
Bandung
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah Swt, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya saat ini penulis dapat menyelesaikan
tugas mata kuliah Semiotics. Shalawat serta
salam, semoga tertutur lembut pada makhluk yang diberikan kesempurnaan dan
menjadi suri tauladan bagi setiap umat Islam yang taat kepadanya. Beliau adalah
seorang insan yang bijaksana, seorang yang senantiasa diberikan amanah oleh
Allah Swt, pemimpin dari setiap Rasul yaitu Nabi Muhammad saw. Tidak lupa
kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikut yang taat padanya. Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Semiotics yang membahas unsur atau konsep
mitos semiotika Roland Barthes. Ucapan terimakasih
kepada:
R. Myrna Nur Sakinah, M.Hum., selaku dosen pengampu yang telah
memberikan bimbingan dan motivasi untuk belajar.
Penulis menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Hal ini semata-mata
karena keterbatasan kemampuan penulis sebagai manusia
biasa. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran
dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaikinya di
masa yang akan datang. Akhir kata, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak yang berkepentingan, khususnya bagi perkembangan ilmu
pengetahuan.
Bandung,
Oktober 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah.................................................................................... 2
1.3
Tujuan Penulisan ..................................................................................... 2
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Semiotika Menurut Roland Barthes…………………………………..3
2.2 Mitos
Roland Barthes………………………………………………….5
2.3 Ciri-ciri mitos………………………………………………………….8
BAB III PEMBAHASAN
3.1
Konsep konotasi (mitos) dalam “The Brain of Einstein”…………11
3.2. Konsep refleksi konotasi (mitos) dalam “The Jet-Man”………….18
BAB IV SIMPULAN
4.1 Simpulan .................................................................................................. .
4.2 Saran ........................................................................................................ .
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Bahasa
dikelompokkan menjadi dua, yaitu bentuk dan makna. Semiotika merupakan sebuah
kajian bentuk bahasa yang mendasari terbentuknya suatu pemahaman yang merujuk
pada sebuah makna dalam tanda. Pemamahan tentang hakikat tanda bahasa sangat
penting, karena bahasa pada hakikatnya adalah sistem tanda. Usaha-usaha
menggali makna teks harus dihubungkan dengan aspek-aspek lain di luar bahasa
itu sendiri atau sering juga disebut sebagai konteks. Teks dan konteks menjadi
dua kata yang tak terpisahkan, keduanya membentuk makna. Adapun tokoh penting
semiotika yang mengungkap teks (tanda bahasa) memiliki hubungan dengan konteks
adalah Roland Barthes, yang kerap dikenal sebagai tokoh yang mengasumsikan
adanya mitos dalam suatu tanda. Ia banyak menulis buku seputar semiotika, salah
satunya Mythologies (1972).
Makalah ini kemudian mencakup
pembahasan konsep konotasi (mitos) seputar fenomena budaya populer yang dimunculkan
Roland Barthes dalam bukunya yang berjudul Mythologies.
Dalam buku Mythologies, Barthes mengungkap tulisan-tulisan yang merupakan
sejumlah esai seputar topik-topik yang menarik perhatiannya, yang dianggap
sebuah refleksi atas mitos-mitos masyarakat. Barthes mengungkapkan sejumlah
mitos-mitos modern yang tersembunyi di balik suatu tanda. Mitos inilah yang
oleh Barthes disebut sebagai ‘second
order semiotic system’, yang harus diungkap signifikansinya. Adapun karya
yang dibahas dalam makalah ini yaitu The Brain of Einstein dan The Jet-Man.
The Brain of Einstein dan The Jet-Man dipilih sebagai topik pembahasan makalah ini, karena
dianggap sebagai topik dari mitos yang paling mendekati ketidaksadaran makna
tanda bahasa secara universal atas serangkaian kepercayaan mendasar yang
terpendam dalam pemikiran masyarakat. Seperti halnya topik otak Einstein yang
memungkinkan pada saat ini terpatri ideologis yang memainkan peran kontruksi
logika sosial yang dipercayai di masa lampau yang sudah jauh dari dunia
pembaca, namun juga dapat dilihat bahkan dirasakan konsep mitosnya hari ini.
Begitu pula konteks dari topik The Jet-Man,
secara universal masih dapat dirasakan sebagai tanda yang memiliki konsep
konotasi (mitos). Dengan disusunnya makalah ini, maka salah
satu tugas mata kuliah Semiotics telah
terpenuhi.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan masalah
adalah langkah yang terpenting dalam suatu penulisan
makalah. Berkenaan dengan materi yang akan dibahas, adapun rumusan masalahnya yaitu:
1. Bagaimana konsep konotasi (mitos) yang dimunculkan dalam “The Brain of Einstein” karya Roland
Barthes?
2. Bagaimana refleksi konotasi (mitos) yang terdapat dalam karya Roland
Barthes “The Jet-Man”?
1.3
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu:
1. Untuk memahami konsep konotasi (mitos) yang dimunculkan dalam “The Brain of Einstein” karya Roland
Barthes.
2. Untuk mengetahui dan memahami refleksi konotasi (mitos) yang
terdapat dalam karya Roland Barthes “The Jet-Man”.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Semiotika Menurut Roland Barthes
Semiotik
berusaha menggali hakikat system tanda yang beranjak keluar kaidah tata bahasa
sisntaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi dan bergantung
pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan (connotative) dan arti pertunjukkan (denotative). (Sobur, 2004: 126-127)
Salah
satu pakar semiotik yang memfokuskan permasalahan semiotik pada dua makna
tersebut adalah Roland Barthes. Ia adala pakar semiotic Perancis pada tahun
1950-an menarik perhatian dengan telaahnya tentang media dan budaya pop
menggunakan semiotic sebagai alat teoritisnya.
Dalam
terminilogi Barthes, jenis budaya popular apapun dapat diuraikan kodenya dengan
membaca tanda-tanda didalam teks. Tanda-tanda tersebut adalah hak otonom
pembacanya atau penonton. Saat sebuah karya selesai dibuat, makna yang
dikandung karya itu bukan lagi miliknya, melainkan milik pembaca atau
penontonnya untuk menginterpretasikannya begitu rupa. (Irwansyah, 2009: 42)
Representasi
menurut Barthes menunjukkan bahwa pembentukan makna tersebut mencakup system
tanda menyeluruh yang mendaur ulang sebagai makna yang tertanam dalam-dalam di
budaya Barat misalnya, dan menyelewengkan ke tujuan-tujuan komersil. Hal ini
kemudian disebut struktur. (Danesi, 2010: 28)
Sehingga
dalam semiotic Barthes, proses representasi itu berpusat pada makna denotasi,
konotasi dan mitos. Ia mencontohkan, ketika mempertimbangkan sebuah berita
laporan, akan menjadi jelas tanda linguistic, visual dan jenis tanda lain
mengenai bagaimana berita itu direpresentasikan (seperti tata letak/ lay out,
rubrikasi, dsb) tidaklah sederhana mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga
menciptakan tingkat konotasu yang dilampirkan pada tanda. Barhes menyebut
fenomena ini membawa tanda dan konotasinya untuk membagi pesan tertentu sebagai
penciptaan mitos. (Bignell, 1997: 160)
Untuk itulah, Barthes
meneruskan pemikiran Saussure dengan meneknkan interaksi antara teks dengan
pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam
teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan ini
dikenal dengan “Two order of
signification”
First Order Second Order
Reality Sign Culture
|
Denotation
|
|
Signifier
signified
|
|
Connotation
|
From
|
Myth
|
Content
Pada
gambar diatas, Barthes seperti dikutip Fisake, menjelaskan signifikasi tahap
pertama merupakan hubungan antara Signifier
dan Signified ddi dalam sebuah
tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi.
Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk signifikasi tahap kedua.
Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan
perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Pada
signifikansi tahap kedua yang berkaitan dengan isi, tanda bekerja melalui
mitos. (Sobur, 2004: 127-128) Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1. Makna
Denotasi:
Makna denotasi adalah
makna awal utama dari sebuah tanda, teks dan sebagainya (Danesi, 2010: 274).
Makna ini tidak dapat dipastikan dengan tepat, karena mana denotasi merupakan
generalisasi. Dalam terminilogi Barthes denotasi adalah system signifikansi
tahap pertama.
2. Makna
Konotasi:
Makna yang memiliki
sejarah budaya dibelakangnya yaitu bahwa ia hanya bisa dipahami dalam kaitannya
dengan signifikansi tertentu. Konotasi adalah mode operatif dalam pembentukan
dan penyandian teks kreatif seperti puisi, novel komposisi music, dan
karya-karya seni. (Danesi, 2010: 275)
3. Mitos:
Dalam kerangka Barthes,
konotasi identic dengan operasi ideology yang disebut dengan “mitos” dan
berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai
dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Sobur, 2003: 71)
2.2
Mitos
Roland Barthes
Menurut
Barthes, mitos bukan berarti dipandang orang awam, cerita “bohong” sekaligus
ditakuti. Mitos hanyalah bagian dari “Types
of Speech” (Barthes, 1976: 34). Mitos
yang diidentifikasi oleh Barthes ini adalah mitos dalam pendekatan struktural.
Mitos dilihat dari unsur terkecil dalam struktur bahasa: penanda (signifier) dan petanda (Signified).
Mitos
oleh Barthes disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan bahwa mitos
merupakan system komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakinii
kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan. Mitos bukan konsep atau ide tertapi
merupakan suatu cara pemberian arti. Secara
etimologis, mitos merupakan suatu jenis tuturan, tentunya bukan sembarang
tuturan. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa mitos adalah suatu system komunikasi,
yakni suatu pesan (message). Hal ini memungkinkan
kita untuk berpandangan bahwa mitos tidak bisa menjadi sebuah objek, onsep atau
ide; mitos adalah cara penanda (signification),
sebuah bentuk segala sesuatu bisa
menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana. (Sobur, 2003- 69)
Contoh yang lain adalah dalam artikel wine atau anggur (Barthes
1972:58). Anggur dalam kebudayaan Perancis merupakan simbol status sosial yang
tinggi “keperancisan” dan virtilitas. Pesan yang ditampilkan oleh anggur
Perancis adalah suatu “kualitas yang baik”. Tetapi mitos ini harus
dipertanyakan karena bukankah anggur Perancis merupakan suatu barang komoditas
seperti barang lainnya yang diproduksi rejim kapitalis. Di sisi lain, daerah
bagian dari utara Afrika dijadikan sebagai tempat penanaman anggur (vineyard)
yang sebenarnya, lahan tersebut lebih dikenal untuk tempat memproduksi
makanan, mereka yang bekerja di lahan anggur adalah mayoritas populasi muslim.
Jadi dalam hal ini Perancis yang dimitoskan sebagai Negara Anggur yang
berkualitas terbaik telah merusak dan mengalienasikan lingkungan dan kultur
orang-orang Afrika Utara. Dalam contoh di atas terdapat dua lapisan logika
“mitologi”, pertama pesan dibaca sebagai isi pesan tentang sikap dan budaya,
yang kedua, adanya suatu keinginan untuk menyembunyikan identitas yang sangat
eksploitatif dengan mengungkapkan kerja struktur sosial ekonomi yang terpendam.
eksploitatif dengan mengungkapkan kerja struktur sosial ekonomi yang terpendam.
Contoh yang sama dikemukakan Barthes dan soappowder (Barthes
1972:36) iklan sabun milik perusahaan raksasa “PT Unilever”, bahwa segala
sesuatu yang ditonjolkan oleh mitos adalah segala sesuatu yang bersifat alamiah
dan lazim. Di sisi lain menurut Barthes, bahwa kita harus jeli dalam
melihat apa yang dipresentasikan di hadapan kita. Sesungguhnya segala sesuatu itu tidak ada yang wajar, lazim atau alamiah karena semua itu adalah rekayasa yang mengandung sarat pandangan “ideologis”, untuk kepentingan
sepihak, misalnya minum anggur merupakan pernyataan untuk mengatakan bahwa peminumnya tahu tentang budaya Perancis, mereka termasuk golongan elit dan sekaligus mempertahankan sistem kapitalisme.
melihat apa yang dipresentasikan di hadapan kita. Sesungguhnya segala sesuatu itu tidak ada yang wajar, lazim atau alamiah karena semua itu adalah rekayasa yang mengandung sarat pandangan “ideologis”, untuk kepentingan
sepihak, misalnya minum anggur merupakan pernyataan untuk mengatakan bahwa peminumnya tahu tentang budaya Perancis, mereka termasuk golongan elit dan sekaligus mempertahankan sistem kapitalisme.
Dalam hal ini Barthes memang banyak mengkritik system kapitalis
dan terutama politik kanan seperti Le Pen, seorang tokoh rasis yang mempimpin
Front Nasional. Contoh-contoh ideologi terpendam lainnya dalam buku Mithologies
Barthes adalah rasisme, kolonialisme, stereotip gender, dan propaganda
perang dingin. Studi mitos bukan saja terkonsentrasi pada pengeksposan posisi
ideologis tetapi analisis bagaimana pesan dikonstitusikan. Mitos menurut Barthes
adalah suatu “sistem komunikasi…suatu pesan” (Barthes 1972:109). Barthes dalam
hal ini membahas mitos lebih seruis dan menuangkannya pada bagian Myth Today dalam
bukunya yang berjudul Mythologies.
Dalam Mythologies, Barthes sering kali mengemukakan kritiknya
terhadap aliran politik kanan yakni kaum bourgeois. Menurut Barthes
masyarakat Perancis adalah masyarakat bourgeoisie (borjuis) hal tersebut
bisa dilihat dari kultur sampai sistem ekonomi telah berpihak pada sistem
kapitalisme.
Ideologi kaum borjuis adalah ideologi yang suka kemasan kosmetik dan sering kali meninggalkan essensi. Tuturannya bersifat moralistik, palsu, dan bergaya teater, Misalnya tokohtokoh masyarakat yang gemar tampil dihormati bila berkunjung ke suatu daerah, menyukai suguhan tarian tradisional dan
arak-arakan (Barthes 1972: 74).
Ideologi kaum borjuis adalah ideologi yang suka kemasan kosmetik dan sering kali meninggalkan essensi. Tuturannya bersifat moralistik, palsu, dan bergaya teater, Misalnya tokohtokoh masyarakat yang gemar tampil dihormati bila berkunjung ke suatu daerah, menyukai suguhan tarian tradisional dan
arak-arakan (Barthes 1972: 74).
Untuk mengetahui atau mendeteksi mitos dapat dengan cara
mengetahui karakter-karakter mitos seperti yang dikatakan Barthes sebagai
berikut:
1.
Tautologi :
Suatu pendefinisian dari suatu pernyataan yang tidak dapat
diperdebatkan lagi, misalnya : “karena dari sananya sudah begitu” isi dari pernyataan
tersebut telah direduksi menjadi penampilan. Sebagai contoh lain adanya suatu pernyataan-pernyataan
hampa seperti “Midnight’s Summer Dream adalah karya Shakespere“
tidak mengatakan apa-apa tetapi mengandung implikasi lainnya seperti prestise
karena dalam pernyataan itu terdapat nama Shakespere.
2.
Identifikasi:
perbedaan, keunikan
direduksi menjadi satu identitas fundamental. Misalnya: “semua agama adalah
sama” atau sama sekali diasingkan dibuat agar tidak dimengerti.
3.
Neither-norism
(bukan ini bukan itu)
Orang yang
menganut opini dalam posisi di tengah tidak berani memilih/memihak.
4.
Mengkuantitaskan
yang kualitas
Kualitas
direduksi ke kuantitas, semua tingkah laku manusia, realitas sosial dan politik
direduksikan kepada pertukaran nilai kuantitas. Sebagai contoh misalnya kesuksesan
sebuah karya seni jika menghasilkan banyak uang, demikian pula untuk mengukur
kesuksesan seorang aktor atau aktris. Masalah besar seperti kemiskinan
direduksi menjadi angka-angka belaka.
5.
Privatisasi
Sejarah
Mitos
membuang arti sejarah yang sebenarnya, sejarah
hanya diperuntukkan sajian tamu/pejabat misalnya objek seni
untuk turis, atau sebagai pertunjukan (Barthes, 1972:74)
hanya diperuntukkan sajian tamu/pejabat misalnya objek seni
untuk turis, atau sebagai pertunjukan (Barthes, 1972:74)
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi,
yang disebutnya sebagai “mitos”, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan
memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode
tertentu.
2.3 Ciri-ciri
mitos
Menurut Barthes, mitos merupakan cara berpikir dari suatu
kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk mengkoptualisasikan atau memahami
sesuatu. Dengan mitos kita dapat menemukan ideologi dalam teks dengan jalan
meneliti konotasi-konotasi yang terdapat dalam mitos itu sendiri. Fokus
perhatian Barthes lebih tertuju pada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two
orders of signification). Ciri-ciri mitos:
a.
Deformatif.
Barthes menerapkan unsur-unsur Saussure menjadi form (signifier),
con-cept (signified). Ia menambahkan signification yang
merupakan hasil dari hubungan kedua unsur tadi. Signification inilah
yang menjadi mitos yang mendistorsi makna sehingga tidak lagi mengacu pada
realita yang sebenarnya: The relation which unites the concept of the myth
to
its meaning is essentially a relation of deformation. Pada mitos, form dan
concept harus dinyatakan. Mitos tidak disembunyikan; mitos berfungsi mendistorsi, bukan untuk menghilangkan. Dengan demikian, form dikembangkan melalui konteks linear (pada bahasa) atau multidimensi (pada gambar). Distorsi hanya mungkin terjadi apabila makna mitos sudah terkandung di dalam form.
its meaning is essentially a relation of deformation. Pada mitos, form dan
concept harus dinyatakan. Mitos tidak disembunyikan; mitos berfungsi mendistorsi, bukan untuk menghilangkan. Dengan demikian, form dikembangkan melalui konteks linear (pada bahasa) atau multidimensi (pada gambar). Distorsi hanya mungkin terjadi apabila makna mitos sudah terkandung di dalam form.
b.
Intensional.
Mitos merupakan salah satu jenis wacana yang dinyatakan secara
intensional. Mitos berakar dari konsep historis. Pembacalah yang harus
menemukan mitos tersebut. Contoh: Ketika ia berjalan-jalan di Spanyol, ia melihat
kesamaan arsitektur rumah-rumah di sana dan ia mengenali arsitektur itu sebagai
produk etnik: gaya basque. Secara pribadi, ia tidak merasa terdorong
untuk menyebutnya dengan sebuah istilah. Namun, ketika ia berjalan-jalan di
Paris dan ia melihat sebuah rumah yang, berbeda dengan sekitarnya, berbentuk
villa kecil, rapi, bergenting merah, berdinding setengah kayu berwarna cokelat
tua, beratap asimetris, secara spontan, ia menyebutnya sebagai villa bergaya basque.
c.
Motivasi.
Bahasa bersifat arbitrer, tetapi, kearbitreran itu mempunyai
batas, misalnya melalui afiksasi, terbentuklah kata-kata turunan: baca-membacadibaca-terbaca-pem-bacaan.
Sebaliknya, makna mitos tidak arbitrer, selalu ada motivasi dan analogi.
Penafsir dapat menyeleksi motivasi dari beberapa kemungkinan motivasi. Mitos
bermain atas analogi antara makna dan bentuk. Analogi ini bukan sesuatu yang
alami, tetapi bersifat historis. Dengan meneliti konotasi-denotasi dalam teks
kita bisa menemukan ideologi. “Salah satu cara adalah mencari mitologi dalam
teks-teks (kesatuan mitos-mitos koheren) menyajikan makna-makna yang mempunyai
wadah dalam ideologi. Ideologi itu harus dapat diceritakan, itulah mitos.
(Barthes, 1957: 122-130)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Konsep konotasi (mitos) dalam “The Brain
of Einstein”
Topik otak Einstein
yang diangkat oleh Barthes dalam bukunya yang berjudul Mythologies (1972) merupakan analisis terhadap fenomena budaya popular.
Barthes mengungkap mitos modern yang tersembunyi dibalik tokoh Einstein. Adapun
yang menjadi perhatian dalam diri Einstein adalah otak yang ia miliki. Otak
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan benda putih yang lunak terdapat
di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf, digunakan untuk berpikir
dan mengendalikan gerakan otot refleks serta keseimbangan tubuh. (KBBI, 2008). Tanpa
sadar masyarakat mempercayai dan membenarkan atas presepsi dasar bahwa Einstein
adalah ikon dari seseorang yang memiliki otak berkemampuan luar biasa. Esai
Barthes yang berjudul The Brain of
Einstein memberikan konsep konotasi (mitos) dari otak Einstein. Adapun
mitos (makna tingkat kedua) yang diungkap Barthes terkait otak Einstein dapat
dilihat dari beberapa kutipan dibawah ini.
Einstein's brain is a mythical object:
paradoxically, the greatest intelligence of all provides an image of the most
up-to-date machine, the man who is too powerful is removed from psychology, and
introduced into a world of robots; as is well known, the supermen of
science-fiction always have something reified about them. (Barthes, 1972 : 68).
Seperti
yang kita ketahui bahwa Albert Einstein adalah seorang ilmuwan fisika teoretis/ fisikiawan yang dipandang luas
sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Ketika kita mendengar kata Einstein
dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan genius, karena kita menyadarinya bahwa Einstein adalah orang yang sangat jenius dan dikenal banyak orang dari
berbagai negara. Yang menjadikan Einstein menarik perhatian banyak ilmuan lain
adalah karena dalam setiao kasus ia mampu mengambil ide teori fisika
konsekuensi logis, dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang sebelumnya
telah membingungkan para ilmuan beberapa dekade, puncak popularitas Einstein
terjadi ketika ia menciptakan Teori Relativitas yang diantaranya menjadi
landasan penemuan energy dan bom atom, mungkin dilihat berdasarkan alasan
tersebut Barthes memberikan kata up-to-date
machine yang menjadikan sebuah mitos dibalik otak Einstein. Sedangkan kata and introduced into a world of
robots; as is well known, the supermen of science-fiction always have
something reified about them. Dari
kalimat tersebut bisa diartikan bahwa Einstein bagaikan seorang robot, yang
kita ketahui dari robot adalah mesin yang bisa membantu atau mengerjakasan
suatu hal, seperti Einsten yang sudah memberikan rumusan yang dapat orang-orang
kerjakan melalui teori-teorinya.
Narasi diatas menjelaskan bahwa otak Einstein dianggap sebagai sebuah objek
mitos. Secara kontradiksi apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan
bahwa otak dari tokoh terkenal tersebut merupakan sebuah citra refleksi dari
mesin yang up-to-date artinya
menjaman (sampai saat ini).
Einstein himself has to some extent been
a party to the legend by bequeathing his brain, for the possession of which two
hospitals are still fighting as if it were an unusual piece of machinery which
it will at last be possible to dismantle.(Barthes, (Barthes, 1972 : 68).
Dalam
kutipan diatas Barthes menggambarkan bahwa ketika menjelang kematiannya
Einstein yang menjadi legenda yaitu otaknya telah dicuri. Kita bisa lihat dari
biografi Einstein setelah kematiannya selama autopsi, ahli patologi dari Rumah
Sakit Princeton, Thomas Stoltz
Harvey, mengambil otak Einstein
untuk pengawetan tanpa izin dari keluarganya, dengan harapan dan penuh
perjuangan bahwa ilmu
syaraf masa depan akan mampu menemukan apa
yang membuat otak Einstein begitu cerdas seperti mesin yang bisa melakukan apa
saja, dan karena otak Einstein yang
mampu menciptakan teori-teori yang diakui oleh ilmuan sehingga teorinya
mendunia. Sifat-sifat lain dari mitos
yang diusulkan oleh Barthes adalah bahwa mitos tidak ditentukan oleh materinya,
melainkan oleh pesan yang disampaikan (Barthes dalam Zaimar, 2008: 58). Oleh
karena itu kutipan diatas ada pesan yang ingin disampaikan.
He
used to produce thought, continuously, as a mill makes flour, and death was
above all, for him, the cessation of a localized function (Barthes, 1992:68)
Dalam kutipan diatas, dapat dipahami adalah hasil pemikirannya
Einstein digunakan,
terus menerus, seperti sebuah pabrik membuat tepung. Kita ketauhi bahwa tepung
sudah menjadi bagian bahan pokok yang sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari begitu diolah maka akan menghasilka sesuatu yang kita butuhkan
berdasarkan rumusuan atau resep yang kita buat. Begitupun hasil pemikiran
Einstein yang telah mendunia telah digunakan dalam ranah pendidikan terutama
dalam bidang studi Fisika, karena Einstein sangat berkaitan erat dengan Fisika.
So has Einstein: he is commonly
signified by his brain, which is like an object for anthologies, a true museum
exhibit. Perhaps because of his mathematical specialization, superman is here
divested of every magical character; no diffuse power in him, no mystery other
than mechanical: he is a superior, a prodigious organ, but a real, even a
physiological one. (Barthes, 1972 : 68).
Pada umumnya, sesuai dengan narasi diatas, tokoh Einstein
memang dikenal dengan otak yang ia miliki. Otaknya melegenda (ibarat barang
sejarah yang ditempatkan di museum), dan dijadikan bahan kajian untuk karya
tulis (antologi), mungkin dikarenakan spesialisasi di bidang matematika.
Organnya (otak) dianggap luar biasa, namun pada kenyataannya organ tersebut
tetap bersifat fisiologis (fungsi organ pada umumnya).
Mythologically, Einstein is matter, his
power does not spontaneously draw one towards the spiritual, it needs the help
of an independent morality, a reminder about the scientist's 'conscience' (Science without conscience, * they
said...).
Einstein himself has to some extent been
a party to the legend by bequeathing his brain, for the possession of which two
hospitals are still fighting as if it were an unusual piece of machinery which
it will at last be possible to dismantle. (Barthes, 1972 : 68).
Dipandang pada makna tataran kedua Barthes, Einstein
adalah sebuah bahan (matter) yang
saat itu dijadikan sebagai bahan penelitian para ahli. Sejalan dengan kutipan
selanjutnya, Barthes mengungkapkan bahwa Einstein secara tidak langsung (atas
kemampuan otaknya) dianggap mewariskan organ otaknya tersebut, yang digunakan
untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Otak Albert Einstein dijadikan sebagai
objek riset dan spekulasi. Hutabalian menyatakan bahwa otak dari tokoh fisika
terbesar di abad ke-20 ini diambil 7 jam setelah kematiannya pada tahun 1955.
(Hutabalian, 2013). Otak ini menarik perhatian dunia karena reputasi Albert
Einstein sebagai seorang jenius, dan para ahli menduga bahwa kita dapat
mengetahui ciri khas di dalam otaknya yang dianggap mempunyai korelasi kuat
dengan kemampuan intelegensi yang menyebabkan terciptanya banyak ide brillian
dalam dunia fisika dan matematika. Namun, pada kenyataannya, para ilmuwan masih
memperdebatkan hasil dari penilitian tersebut. Menurut Barthes, it needs the help of an independent
morality, a reminder about the scientist's 'conscience', moralitas para
peneliti tersebut harus dipertanyakan. Einstein adalah seorang manusia yang
memiliki otak biasa pada umumnya, yang membedakan hanyalah ‘usaha’, nampaknya
mitos istilah ‘jenius’ dari ikon Einstein telah membuat ilmu pengetahuan tanpa
moralitas seperti yang diungkap Barthes.
A photograph shows him lying down, his
head bristling with electric wires: the waves of his brain are being recorded,
while he is requested to 'think of relativity'. (But for that matter, what does
'to think of' mean, exactly?) What this is meant to convey is probably that the
seismograms will be all the more violent since 'relativity' is an arduous
subject. Thought itself is thus represented as an energetic material, the
measurable product of a complex (quasi-electrical) apparatus which transforms
cerebral substance into power. (Barthes,
1972 : 68).
Barthes menyatakan bahwa potret tokoh Einstein salah
satunya nampak ketika ia sedang berbaring dengan kepala yang penuh kabel
listrik, gelombang otaknya sedang direkam. Barthes mengungkapkan disini bahwa
substansi otak pada makna tataran kedua (konotasinya) dianggap sebagai suatu
kekuatan manusia. Namun pada dasarnya, semua organ manusia itu melengkapi
fungsinya satu sama lain, tidak ada salah satunya yang menjadi simbol dari
suatu kekuatan.
The mythology of Einstein shows him as a
genius so lacking in magic that one speaks about his thought as of a functional
labour analogous to the mechanical making of sausages, the grinding of corn or
the crushing of ore: he used to produce thought, continuously, as a mill makes
flour, and death was above all, for him, the cessation of a localized function: 'the
most powerful brain of all has stopped thinking'. (Barthes, 1972 : 68-69).
Einstein dipandang sebagai mitos Barthes, karena pada umumnya
Einstein dianggap sebagai mesin seperti mesin pembuat sosis, penggiling jagung
atau mesin penghancur biji-bijian. Ia dianggap sebagai otak yang memproduksi
sebuah pemikiran (menghasilkan produk ilmu pengetahuan), seperi sebuah
pengilingan yang menghasilkan tepung, dan ketika ia telah tiada, kematiannya
dianggap sebagai pemberhentian pembatasan fungsi (otak yang dianggap paling
luar biasa telah berhenti berpikir). Disini, nampak terpatri mitos bahwa ‘the most powerful brain’ (genius) hanya
dimiliki Einstein atau segelintir orang , padahal Tuhan sesungguhnya
menganugerahkan kejeniusan kepada setiap manusia (yang diberikan otak normal)
dan bukan hanya pada manusia tertentu. Setiap manusia berpotensi menjadi
genius.
Paradoxically, the more the genius of the man was
materialized under the guise of his brain, the more the product of his
inventiveness came to acquire a magical dimension, and gave a new incarnation
to the old esoteric image of a science entirely contained in a few letters.
There is a single secret to the world, and this secret is held in one word; the
universe is a safe of which humanity seeks the combination: Einstein almost
found it, this is the myth of Einstein. In it, we find all the Gnostic themes:
the unity of nature, the ideal possibility of a fundamental reduction of the
world, the unfastening power of the word, the age-old struggle between a secret
and an utterance, the idea that total knowledge can only be discovered all at
once, like a lock which suddenly opens after a thousand unsuccessful attempts.
The historic equation E = mc2, by its unexpected simplicity, almost embodies
the pure idea of the key, bare, linear, made of one metal, opening with a
wholly magical ease a door which had resisted the desperate efforts of
centuries. (Barthes, 1972 : 69).
Paradoksnya,
semakin genius seseorang terwujud dengan kedok otaknya, semakin banyak produk
dari hasil ciptanya dan memberikan inkarnasi (wujud) baru untuk citra esoteris yang
terkandung dalam beberapa huruf (seperti formula Einstein). Barthes lebih
lanjut menyatakan bahwa dalam mitos Einstein ini, kita menemukan semua tema gnostik (tema-tema pengetahuan), yang
konon seperti kunci yang tiba-tiba terbuka setelah seribu kali gagal mencoba
dibuka (Einstein = E = mc2), hal ini merupakan makna tataran kedua seperti yang
diungkapkan Barthes (makna lain dari Einstein, yaitu formula).
But since the world is still going on, since
research is proliferating, and on the other hand since God's share must be
preserved, some failure on the part of Einstein is
necessary: Einstein died, it is said, without
having been able to verify 'the
equation in which the secret of the world was enclosed'. (Barthes, 1972 : 69-70).
Narasi diatas mengungkapkan bahwa konon, ketika Einstein
meninggal dunia ia tanpa dapat meverifikasikan teorinya telah ditutup
(maksudnya telah tuntas). Barthes, disini ingin memberikan pemahaman bahwa
dunia masih berjalan, penelitian terus berkembang dan kegagalan Einstein
sebelum menghasilkan teorinya diperlukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
So in the end the world resisted; hardly opened, the secret closed again, the code was incomplete.
In this way Einstein fulfils all the
conditions of myth, which could not care less
about contradictions so long as it establishes a euphoric security: at once magician and machine, eternal researcher
and unfulfilled discoverer, unleashing the
best and the worst, brain and conscience,
Einstein embodies the most contradictory dreams, and mythically reconciles the infinite power of man over nature
with the 'fatality' of the sacrosanct, which
man cannot yet do without. * 'Science without conscience is but the ruin of the Soul'
(Rabelais, Pantagruel II, ch.
8). (Barthes, 1972 : 70).
Teori Einstein menurut Barthes belum usai, tapi dunia tak membuka
jalan (sukar dibuka dan pada akhirnya tertutup kembali). Maka dari itu,
Einstein memenuhi kriteria mitos. Akhir
kata, Barthes mengutip ungkapan yang merepresentasikan bahwa ilmu pengetahuan
tanpa hati nurani hanyalah kehancuran jiwa (ditujukan untuk para scientist khususnya yang mencoba untuk
membongkar otak Einstein). Disini jelas terasa nampak dari mitos (pemahaman
tataran kedua) dari organ tubuh (otak) Einstein yang dijadikan bahan penelitian
yang tidak seharusnya dilakukan. Hakikat otak manusia adalah sumber dari semua
sistem saraf yang dimiliki oleh setiap manusia. Pada awalnya, kemampuan otak
manusia (normal) adalah sama, yang membedakan adalah ketika terlahir apa saja
usaha yang telah dilakukan dan di lingkungan seperti apa manusia itu
dibesarkan. Tidak ada istilah jenius yang dipercayai bahwa ‘otak yang dimiliki
itu terberi begitu saja’. Jika berkaca pada teks (ayat) al-Qur’an, dalam Qs.
Al-ankabut ayat 69 dijelaskan:
“Dan orang-orang yang
berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami
tunjukan kepada mereka jalan- jalan kami (petunjuk). (Qs. Al-ankabut: 69)”.
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa jika seseorang berjihad
(berjuang) maka petunjuk (ilmu) akan diraihnya. Umat Islam mengenal istilah
‘ilmu laduni’ yang bagi sebagian orang merupakan ‘ilmu yang terberi begitu saja
dari Allah’. Namun, pada dasarnya, ilmu laduni dalam pengertian umum itu
terbagi menjadi dua, yakni (1) wahbiy
yaitu ilmu yang didapat tanpa melalui tahapan belajar (bukan mitos yang selama
ini dikenal dengan ‘orang yang sekaligus pintar dari lahir’), maksudnya disini
adalah ilmu syari’at (ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang
disampaikan melalui jalan wahyu), dan
ilmu ma’rifat (ilmu tentang sesuatu yang ghaib); (2) kasbiy yaitu ilmu yang diperoleh manusia melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca,
menulis, mendengar, meneliti, berpikir dan lain sebagainya. Jadi, pada
kesimpulannya, sejalan dengan pemikiran Barthes bahwa otak yang paling istimewa
adalah Einstein hanyalah sebuah mitos, sebab semua otak manusia (normal) itu
istimewa dan luar biasa.
3.2 Konsep refleksi konotasi (mitos) dalam “The Jet-Man”
Mitos oleh
Barthes disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan bahwa mitos merupakan
system komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Mitos adalah suatu bentuk
pesan atau tuturan yang harus diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat
dibuktikan. Mitos bukan konsep atau ide tertapi merupakan suatu cara pemberian
arti. Secara etimologis, mitos merupakan suatu jenis tuturan, tentunya bukan
sembarang tuturan. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa mitos adalah suatu
system komunikasi, yakni suatu pesan (message).
Dalam bukunya yang
berjudul Mythologies pada tahun1972 Roland Barthes
memuat mitos-mitos yang ada dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Perancis
salah satu diataranya yaitu essay yang akan dibahas berjudul “The jet-Man”, di
bawah ini kutipan-kutipan yang mengandung mitos menurut pandangan Barthes:
“The jet-man is a jet-pilot. Match has
specified that he belongs to a new race in aviation, nearer to the robot than
to the hero…. ..But what strikes one first in
the mythology of the jet-man is the elimination of speed: nothing in the legend
alludes to this experience.” (Barthes, 1992:71)
Dalam
kutipan diatas dapat kita ketahui bahwa Jet-man asalnya adalah seorag pilot pesawat jet, namun
Jet-man ini mempunyai kemampuan yang melebihi seorang pilot tersebut, yang mana
pada masa itu seorang pilot saja sudah disebut pahlawan oleh masyarakat karena
bisa terbang di udara. Disebutkan oleh Barthes Jet-man lebih mirip robot dibandingkan dengan
seorang pahlawan
(pilot). Namun sejatinya tak
ada manusia yang bisa berubah menjadi sesuatu bentuk yang lain, itu semua
hanyalah sebuah mitos yang sudah ada sejak zaman dahulu, contohnya, pertama,
raksasa. Semua orang sudah tahu siapa itu raksasa. Mahkluk yang tingginya
melebihi tinggi manusia normal, gemar memakan manusia, tetapi idiot dan bodoh.
Di banyak kebudayaan pun raksasa sering muncul dalam berbagai bentuk.Hanya saja
disini mengikuti paham modern sebab robot itu adalah buatan manusia di zaman modern.
Kedua, berubah bentuk atau wujud. Kalau di Indonesia konsep seperti ini
biasanya disebut makhluk jadi-jadian. Konsep tentang makhluk jadi-jadian juga
ada di seluruh dunia, baik dalam bentuk dongeng dan legenda seperti angsa
berubah menjadi perempuan cantik atau kodok berubah menjadi seorang putri.
Hanya saja di Jet-man, mengikuti paham modern yang rasional yaitu manusia yang
memiliki kemampuan seperti robot yaitu bisa meluncur melebihi kecepatan yang bisa
orang biasa lakukan.
“The
pilot-hero was made unique by a whole mythology of speed as an experience, of
space devoured, of intoxicating motion;
the jet-man, on the other hand, is defined by acoenaesthesis of
motionlessness” (Barthes, 1992:71)
Barthes
membawa pembaca untuk memahami cerita
bagaimana seorang pilot berubah menjadi sosok “Jet-man”. Dia membawa kita
kembali pada saat dimana pilot dianggap seorang pahlawan dan secara tidak
langsung bahwa sebelum sosok “Jet-man” di kagumi,
masyarakat terlebih dahulu mengagumi sosok pilot yang mempunyai kemampuan untuk
bisa terbang dengan cepat di udara, namun tidak
melebihi batas kecepatan yang seharusnya. Barthes mngatakan dalam kutipannya “the pilot-hero was made unique by…speed as
an experience…of intoxicating motion” menurut Bathes keheranan akan seorang
super hero ditutupi tentang baaimana manusia mngalami kecepatan yang tidak bisa
dialami manusia pada umumnya pada saat itu, namun di sisi lain “The Jet-man”
atau bisa kita sebut dengan pahawan super dapat melebihi apa yang dilakukan
oleh pilot tersebut. Namun kecepatan yang dianggap dimiliki super hero tersebut
hanyalah mitos,
mereka menganggap kecepatan sang Jet-man tidak terdeksi oleh manusia biasa
seperti mereka namun sejatinya pada saat itu tentu saja Jet-man juga
masih seorang manusia dan bisa mengedalikan kecepatan. Orang-orang menganggap
jet-man super hero karena bisa mengalami dan mengendalikan kecepatan yang luar
bisa hebat tersebut namun tentu saja itu semua hanya mitos, karena dengan usaha
dan pelatihan dengan cara yang tepat semua orang juga bisa terbang dan
mengalami seperti Jet-man.
No
wonder if, carried to such a pitch, the myth of the aviator loses all humanism.
The hero of classical speed could remain a 'gentleman', inasmuch as motion was
for him an occasional exploit, for which courage alone was required: (Barthes, 1992:71)
Dalam
kutipan diatas disebutkan jika penerbang atau pilot membawa beban seperti itu
mereka akan kehilangan sisi kemanusiaannya. Namun sepertinya hal itu hanya
mitos karena jika pilot tersebut terbang dalam ketinggian dan kecepatan yang
sangat cepat mereka masih bisa merasa
layaknya manusia pada umumnya. Para pilot terdahulu masih bisa bersikap seperti
seorang lelaki, karena bisa terbang dan mngendalikan kecepatan sesuai dengan
keingginan mereka sendiri atau bisa mengendalikannya.
“the jet-man, on the other hand, no longer
seems to know either adventure or destiny, but only a condition…the jet-man is
less defined by courage than by his weight, his diet and his habits
(temperance, frugality, continence)” (Barthes,
1992:68)
Sebaliknya, Barthes
memperkenalkan Superhero, Jet-man menggantikan posisi pilot. Dia menyoroti
bahwa perbedaan antara pahlawan (pilot) dan pahlawan super (The Jet-man) adalah
tampaknya tak terduga, Jet-man memiliki aura yang lebih kuat dibandingkan dengan
pilot. Menurut Barthes, Jet-man bukanlah seorang pahlawan karena kecepatan
super yang dapat dicapainya, melainkan karena fakta bahwa kecepatan luar biasa
yang tidak dapat di deteksi oleh yang lainnya. Ketika terbang tampaknya tak
bergerak atau tenang . Barthes menyoroti bahwa masyarakat yang mengagungkan
pahlawan super (Jet-man) tidak hanya untuk kemampuannya yang sangat tinggi
untuk memenuhi tugas manuisa pada umumnya , tapi juga untuk melakukan sesuatu
hal degan tak terdeteksi oleh yang lainnya. Menurut kutipan diatas Brthes menyebutkan Jet-man tahu
yang dilakukannya adalah bukan petualangan atau takdir, yakni hanyalah sebuah
kondisi atau keadaan. Jadi anggapan yang lain yang menganggapnya superhero
adalah takdir hanyalah mitos. Karena keadaan itu bisa dialami siapa saja dengan
syarat dan ketentuan tententu.
“In fact, and in spite of the scientific garb of this new mythology,
there
has merely been a displacement of the sacred”
(Barthes, 1992:72)
Dalam
kutipan di atas terlihat bahwa terdapat
mitos dalam esai Barthes ini bahwa dengan kita memakai baju atau seragam apapun
dalam mitologi baru manusia jet ini, namun tetap ketika kita menjadi hamba
allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya lah yang merupakan manusia super
yang hebat, dan yang suci menurut Barthes. Karena dengan begitu kita tidak
menghilangkan sifat kemanusiaan kita terhadap tuhan-Nya, sebab meskipun
sehebat-hebatnya kita tidak tidak boleh lupa dan sombong dengan kekuatan atau
kehebatan appa yang kita punya. Karena tetap tuhanlah yang menciptakan kita,
yang menakdirkan kita seperti apa.
“But the
mythological peculiarity of the jetman is that he keeps none of the romantic
and individualistic elements of the sacred role, without nevertheless forsaking
the role itself.” (Barthes, 1992:72)
Karena mitos bukan konsep atau ide tertapi merupakan suatu cara
pemberian arti. Secara etimologis, mitos merupakan suatu jenis tuturan,
tentunya bukan sembarang tuturan. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa mitos
adalah suatu system komunikasi, yakni suatu pesan (message).
Kutipan diatas, mempertegas bahwa jet-man hanyalah super hero yang di ciptakan
oleh masyarakat, dan jet-man tersebut merupakan fantasi yang selama ini di
bayangkan oleh masyarakat. Jet-man tersebut pula bersifat tidak romantis dan
hanya individualis. Namun Barthes menegaskan bahwa pehlawan sebenarnya tidak
seperti itu seperti yang tercantum dalam kutipan:
“...... human
'happiness'. So truly does the situation of the jet-man comprise the sense of a
religious call......” (Barthes,
1992:72)
Jadi yang sebenarnya
pahlawan itu merupakan panggilan beragama,
Kemudian
sebenarnya Barthes hanya mengibaratkan seorang manusia dengan superhero yang
biasanya ada di pikiran masyarakat yaitu orang yang super, bisa meluncur
sedemikian cepat dengan kekuatan tinggi. Mengambil kata jet-man karena ia
mengibaratkan seseorang seperti dalam kutipan:
“triumph in preliminary
ordeals is, truth to tell, the fruit of a spiritual gift, one is gifted for
jet-flying as others are called to God. All this would be
commonplace if we were dealing with the traditional hero “(Barthes, 1992:72)
Jet-man
yang dimaksud adalah ketika kita sebagai manusia bersusah-susah dahulu dengan
hidup sederhana, menarik diri dari kesenangan duniawi, hidup dengan taat dan
terus bertaqwa kepada tuhan, dan lain sebagainya maka kelak kita akan
mendapatkan karunia yang luar biasa seperti jet-man yang langsung meluncur
tinggi dari manusia yang biasa, apa adanya dan sederhana menjadi manusia yang
luar biasa yang berbeda daripada yang lain ketika kelak berhadapan dengan
tuhan, tuhan akan mengangkat derajatnya dengan begitu luar biasa seperti jet
yang di luncurkan keatas dengan begitu cepat.
Jadi, menurut saya, hubungan antara
manusia yang hebat dan tuhannya itu memiliki arah yang vertikal sehingga
seperti arah jet yang meluncur secara vertikal pula. Manusia yang berimanlah
yang meluncur dengan cepat diangkat oleh tuhan kedalam surga.
“Society
eventually recognizes, a propos of the jet-man,
the old theosophical
pact, which has always compensated power by an ascetic life” (Barthes, 1992:72)
Dari kutipan di atas, perlu di garis
bawahi kata ascetic yang berarti
pertapa. Menurut saya
ini merupakan sebuah mitos. Karena seseorang yang disebut pertapa itu tidak
menyebutkan dirinya sebagai pertapa, melainkan sebutan dari masyarakatlah yang
memiliki ciri-ciri tersendiri disebut dengan pertapa.
DAFTAR PUSTAKA :
Alex Sobur. 2003. Semiotika
Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Alex, Sobur. 2004. Analisis Teks Media; Suatu Pengantar
Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Barthes, Roland. 1957. Mythologies. New York.
Barthes, Roland. 1972. Mythologies.
New York: Noondy Press.
Barthes,
Roland. 1972. Mythologies. Terjemahan
Annette Lavers. London: Paladin.
Fathullah, L. 2008.
Qs. Al-ankabut:69. Terjemahan: software Al-Qur’an al Hadi. Ahmad.
Jakarta: Pusat Kajian Al Mughni Islamic Center
Hutabalian
, Blestro. 2013 . Otak Albert Einstein.
Diakses pada 15 Oktober 2016. Dari:
http//:otak-albert-einstein/kary-blestro-huta/2013.blogspot.com.
Jonathan,
Bignell. 1997. Media Semiotics: An
Introduction. Mancahster and New York: Mancehster University Press.
KBBI. 2008. Otak. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional. Mobile. Diakses pada hari
Jum’at 14 Oktober 2016. Dari: http://yuku/kejut.com/kbbimobile.appiconoluss.com.
Marcel, Danesi.
2010. Pengantar Memahami Semiotika Media.Yogyakarta:
Jalasutra.
Zaimar, okke k.S. 2008. Semiotika
dan Penerapannya dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.