Sabtu, 29 Oktober 2016

MITOS DALAM ESSAY “THE BRAIN OF EINSTEIN” DAN “THE JET-MAN” KARYA ROLAND BARTHES

MITOS DALAM ESSAY  THE BRAIN OF EINSTEIN” DAN
“THE JET-MAN” KARYA ROLAND BARTHES

Makalah

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Semiotics, dengan Dosen Pengampu:

R. Myrna Nur Sakinah, M.Hum.

Disusun Oleh :
Rani                             1135030215
Reni Kharismawati     1135030219
Rini Indriani                1135030231
Rita Choerunnisa       
Siska Oktaviani          







Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Fakultas Adab dan Humaniora
Bahasa dan Sastra Inggris
Bandung
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya saat ini penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Semiotics. Shalawat serta salam, semoga tertutur lembut pada makhluk yang diberikan kesempurnaan dan menjadi suri tauladan bagi setiap umat Islam yang taat kepadanya. Beliau adalah seorang insan yang bijaksana, seorang yang senantiasa diberikan amanah oleh Allah Swt, pemimpin dari setiap Rasul yaitu Nabi Muhammad saw. Tidak lupa kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikut yang taat padanya. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Semiotics yang membahas unsur atau konsep mitos semiotika Roland Barthes. Ucapan terimakasih kepada:
R. Myrna Nur Sakinah, M.Hum., selaku dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dan motivasi untuk belajar.
            Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan kemampuan penulis sebagai manusia biasa. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaikinya di masa yang akan datang. Akhir kata, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, khususnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Bandung,      Oktober 2016


Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah.................................................................................... 2
1.3  Tujuan Penulisan ..................................................................................... 2
BAB II KAJIAN TEORI
2.1  Semiotika Menurut Roland Barthes…………………………………..3
2.2  Mitos Roland Barthes………………………………………………….5
2.3  Ciri-ciri mitos………………………………………………………….8
BAB III PEMBAHASAN
3.1  Konsep konotasi (mitos) dalam “The Brain of Einstein”…………11
3.2. Konsep refleksi konotasi (mitos) dalam The Jet-Man………….18
BAB IV SIMPULAN
4.1 Simpulan .................................................................................................. .
4.2 Saran ........................................................................................................ .
DAFTAR PUSTAKA






BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bahasa dikelompokkan menjadi dua, yaitu bentuk dan makna. Semiotika merupakan sebuah kajian bentuk bahasa yang mendasari terbentuknya suatu pemahaman yang merujuk pada sebuah makna dalam tanda. Pemamahan tentang hakikat tanda bahasa sangat penting, karena bahasa pada hakikatnya adalah sistem tanda. Usaha-usaha menggali makna teks harus dihubungkan dengan aspek-aspek lain di luar bahasa itu sendiri atau sering juga disebut sebagai konteks. Teks dan konteks menjadi dua kata yang tak terpisahkan, keduanya membentuk makna. Adapun tokoh penting semiotika yang mengungkap teks (tanda bahasa) memiliki hubungan dengan konteks adalah Roland Barthes, yang kerap dikenal sebagai tokoh yang mengasumsikan adanya mitos dalam suatu tanda. Ia banyak menulis buku seputar semiotika, salah satunya Mythologies (1972).
Makalah ini kemudian mencakup pembahasan konsep konotasi (mitos) seputar fenomena budaya populer yang dimunculkan Roland Barthes dalam bukunya yang berjudul Mythologies. Dalam buku Mythologies, Barthes mengungkap tulisan-tulisan yang merupakan sejumlah esai seputar topik-topik yang menarik perhatiannya, yang dianggap sebuah refleksi atas mitos-mitos masyarakat. Barthes mengungkapkan sejumlah mitos-mitos modern yang tersembunyi di balik suatu tanda. Mitos inilah yang oleh Barthes disebut sebagai ‘second order semiotic system’, yang harus diungkap signifikansinya. Adapun karya yang dibahas dalam makalah ini yaitu The Brain of Einstein dan The Jet-Man.
The Brain of Einstein dan The Jet-Man dipilih sebagai topik pembahasan makalah ini, karena dianggap sebagai topik dari mitos yang paling mendekati ketidaksadaran makna tanda bahasa secara universal atas serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam pemikiran masyarakat. Seperti halnya topik otak Einstein yang memungkinkan pada saat ini terpatri ideologis yang memainkan peran kontruksi logika sosial yang dipercayai di masa lampau yang sudah jauh dari dunia pembaca, namun juga dapat dilihat bahkan dirasakan konsep mitosnya hari ini. Begitu pula konteks dari topik The Jet-Man, secara universal masih dapat dirasakan sebagai tanda yang memiliki konsep konotasi (mitos). Dengan disusunnya makalah ini, maka salah satu tugas mata kuliah Semiotics telah terpenuhi.

1.2  Rumusan Masalah
            Rumusan masalah adalah langkah yang terpenting dalam suatu penulisan makalah. Berkenaan dengan materi yang akan dibahas, adapun rumusan masalahnya yaitu:
1.      Bagaimana konsep konotasi (mitos) yang dimunculkan dalam “The Brain of Einstein” karya Roland Barthes?
2.      Bagaimana refleksi konotasi (mitos) yang terdapat dalam karya Roland Barthes “The Jet-Man”?

1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu:
1.      Untuk memahami konsep konotasi (mitos) yang dimunculkan dalam “The Brain of Einstein” karya Roland Barthes.
2.      Untuk mengetahui dan memahami refleksi konotasi (mitos) yang terdapat dalam karya Roland Barthes “The Jet-Man”.












BAB II
KAJIAN TEORI
2.1  Semiotika Menurut Roland Barthes

Semiotik berusaha menggali hakikat system tanda yang beranjak keluar kaidah tata bahasa sisntaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi dan bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan (connotative) dan arti pertunjukkan (denotative). (Sobur, 2004: 126-127)
Salah satu pakar semiotik yang memfokuskan permasalahan semiotik pada dua makna tersebut adalah Roland Barthes. Ia adala pakar semiotic Perancis pada tahun 1950-an menarik perhatian dengan telaahnya tentang media dan budaya pop menggunakan semiotic sebagai alat teoritisnya.
Dalam terminilogi Barthes, jenis budaya popular apapun dapat diuraikan kodenya dengan membaca tanda-tanda didalam teks. Tanda-tanda tersebut adalah hak otonom pembacanya atau penonton. Saat sebuah karya selesai dibuat, makna yang dikandung karya itu bukan lagi miliknya, melainkan milik pembaca atau penontonnya untuk menginterpretasikannya begitu rupa. (Irwansyah, 2009: 42)
Representasi menurut Barthes menunjukkan bahwa pembentukan makna tersebut mencakup system tanda menyeluruh yang mendaur ulang sebagai makna yang tertanam dalam-dalam di budaya Barat misalnya, dan menyelewengkan ke tujuan-tujuan komersil. Hal ini kemudian disebut struktur. (Danesi, 2010: 28)
Sehingga dalam semiotic Barthes, proses representasi itu berpusat pada makna denotasi, konotasi dan mitos. Ia mencontohkan, ketika mempertimbangkan sebuah berita laporan, akan menjadi jelas tanda linguistic, visual dan jenis tanda lain mengenai bagaimana berita itu direpresentasikan (seperti tata letak/ lay out, rubrikasi, dsb) tidaklah sederhana mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga menciptakan tingkat konotasu yang dilampirkan pada tanda. Barhes menyebut fenomena ini membawa tanda dan konotasinya untuk membagi pesan tertentu sebagai penciptaan mitos. (Bignell, 1997: 160)
Untuk itulah, Barthes meneruskan pemikiran Saussure dengan meneknkan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan ini dikenal dengan “Two order of signification
                       First Order                                       Second Order

    
      Reality                                  Sign                                                 Culture
Denotation
Signifier
signified
Connotation
 


                                                                                  From
Myth
                                                                                       
                                                                   Content


Pada gambar diatas, Barthes seperti dikutip Fisake, menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara Signifier dan Signified ddi dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Pada signifikansi tahap kedua yang berkaitan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos. (Sobur, 2004: 127-128) Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1.      Makna Denotasi:
Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks dan sebagainya (Danesi, 2010: 274). Makna ini tidak dapat dipastikan dengan tepat, karena mana denotasi merupakan generalisasi. Dalam terminilogi Barthes denotasi adalah system signifikansi tahap pertama.
2.      Makna Konotasi:
Makna yang memiliki sejarah budaya dibelakangnya yaitu bahwa ia hanya bisa dipahami dalam kaitannya dengan signifikansi tertentu. Konotasi adalah mode operatif dalam pembentukan dan penyandian teks kreatif seperti puisi, novel komposisi music, dan karya-karya seni. (Danesi, 2010: 275)
3.      Mitos:
Dalam kerangka Barthes, konotasi identic dengan operasi ideology yang disebut dengan “mitos” dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Sobur, 2003: 71)

2.2  Mitos Roland Barthes
Menurut Barthes, mitos bukan berarti dipandang orang awam, cerita “bohong” sekaligus ditakuti. Mitos hanyalah bagian dari “Types of Speech” (Barthes, 1976: 34). Mitos yang diidentifikasi oleh Barthes ini adalah mitos dalam pendekatan struktural. Mitos dilihat dari unsur terkecil dalam struktur bahasa: penanda (signifier) dan petanda (Signified).
Mitos oleh Barthes disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan bahwa mitos merupakan system komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakinii kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan. Mitos bukan konsep atau ide tertapi merupakan suatu cara pemberian arti. Secara etimologis, mitos merupakan suatu jenis tuturan, tentunya bukan sembarang tuturan. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa mitos adalah suatu system komunikasi, yakni suatu pesan (message). Hal ini memungkinkan kita untuk berpandangan bahwa mitos tidak bisa menjadi sebuah objek, onsep atau ide; mitos adalah cara penanda (signification), sebuah  bentuk segala sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana. (Sobur, 2003- 69)
Contoh yang lain adalah dalam artikel wine atau anggur (Barthes 1972:58). Anggur dalam kebudayaan Perancis merupakan simbol status sosial yang tinggi “keperancisan” dan virtilitas. Pesan yang ditampilkan oleh anggur Perancis adalah suatu “kualitas yang baik”. Tetapi mitos ini harus dipertanyakan karena bukankah anggur Perancis merupakan suatu barang komoditas seperti barang lainnya yang diproduksi rejim kapitalis. Di sisi lain, daerah bagian dari utara Afrika dijadikan sebagai tempat penanaman anggur (vineyard) yang sebenarnya, lahan tersebut lebih dikenal untuk tempat memproduksi makanan, mereka yang bekerja di lahan anggur adalah mayoritas populasi muslim. Jadi dalam hal ini Perancis yang dimitoskan sebagai Negara Anggur yang berkualitas terbaik telah merusak dan mengalienasikan lingkungan dan kultur orang-orang Afrika Utara. Dalam contoh di atas terdapat dua lapisan logika “mitologi”, pertama pesan dibaca sebagai isi pesan tentang sikap dan budaya, yang kedua, adanya suatu keinginan untuk menyembunyikan identitas yang sangat
eksploitatif dengan mengungkapkan kerja struktur sosial ekonomi yang terpendam.
Contoh yang sama dikemukakan Barthes dan soappowder (Barthes 1972:36) iklan sabun milik perusahaan raksasa “PT Unilever”, bahwa segala sesuatu yang ditonjolkan oleh mitos adalah segala sesuatu yang bersifat alamiah dan lazim. Di sisi lain menurut Barthes, bahwa kita harus jeli dalam
melihat apa yang dipresentasikan di hadapan kita. Sesungguhnya segala sesuatu itu tidak ada yang wajar, lazim atau alamiah karena semua itu adalah rekayasa yang mengandung sarat pandangan “ideologis”, untuk kepentingan
sepihak, misalnya minum anggur merupakan pernyataan untuk mengatakan bahwa peminumnya tahu tentang budaya Perancis, mereka termasuk golongan elit dan sekaligus mempertahankan sistem kapitalisme.
Dalam hal ini Barthes memang banyak mengkritik system kapitalis dan terutama politik kanan seperti Le Pen, seorang tokoh rasis yang mempimpin Front Nasional. Contoh-contoh ideologi terpendam lainnya dalam buku Mithologies Barthes adalah rasisme, kolonialisme, stereotip gender, dan propaganda perang dingin. Studi mitos bukan saja terkonsentrasi pada pengeksposan posisi ideologis tetapi analisis bagaimana pesan dikonstitusikan. Mitos menurut Barthes adalah suatu “sistem komunikasi…suatu pesan” (Barthes 1972:109). Barthes dalam hal ini membahas mitos lebih seruis dan menuangkannya pada bagian Myth Today dalam bukunya yang berjudul Mythologies.
Dalam Mythologies, Barthes sering kali mengemukakan kritiknya terhadap aliran politik kanan yakni kaum bourgeois. Menurut Barthes masyarakat Perancis adalah masyarakat bourgeoisie (borjuis) hal tersebut bisa dilihat dari kultur sampai sistem ekonomi telah berpihak pada sistem kapitalisme.
Ideologi kaum borjuis adalah ideologi yang suka kemasan kosmetik dan sering kali meninggalkan essensi. Tuturannya bersifat moralistik, palsu, dan bergaya teater, Misalnya tokohtokoh masyarakat yang gemar tampil dihormati bila berkunjung ke suatu daerah, menyukai suguhan tarian tradisional dan
arak-arakan (Barthes 1972: 74).
Untuk mengetahui atau mendeteksi mitos dapat dengan cara mengetahui karakter-karakter mitos seperti yang dikatakan Barthes sebagai berikut:
1.       Tautologi :
Suatu pendefinisian dari suatu pernyataan yang tidak dapat diperdebatkan lagi, misalnya : “karena dari sananya sudah begitu” isi dari pernyataan tersebut telah direduksi menjadi penampilan. Sebagai contoh lain adanya suatu pernyataan-pernyataan hampa seperti “Midnight’s Summer Dream adalah karya Shakespere“ tidak mengatakan apa-apa tetapi mengandung implikasi lainnya seperti prestise karena dalam pernyataan itu terdapat nama Shakespere.
2.      Identifikasi:
perbedaan, keunikan direduksi menjadi satu identitas fundamental. Misalnya: “semua agama adalah sama” atau sama sekali diasingkan dibuat agar tidak dimengerti.
3.      Neither-norism (bukan ini bukan itu)
Orang yang menganut opini dalam posisi di tengah tidak berani memilih/memihak.
4.      Mengkuantitaskan yang kualitas
Kualitas direduksi ke kuantitas, semua tingkah laku manusia, realitas sosial dan politik direduksikan kepada pertukaran nilai kuantitas. Sebagai contoh misalnya kesuksesan sebuah karya seni jika menghasilkan banyak uang, demikian pula untuk mengukur kesuksesan seorang aktor atau aktris. Masalah besar seperti kemiskinan direduksi menjadi angka-angka belaka.
5.      Privatisasi Sejarah
Mitos membuang arti sejarah yang sebenarnya, sejarah
hanya diperuntukkan sajian tamu/pejabat misalnya objek seni
untuk turis, atau sebagai pertunjukan (Barthes, 1972:74)
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai “mitos”, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.
2.3  Ciri-ciri mitos
Menurut Barthes, mitos merupakan cara berpikir dari suatu kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk mengkoptualisasikan atau memahami sesuatu. Dengan mitos kita dapat menemukan ideologi dalam teks dengan jalan meneliti konotasi-konotasi yang terdapat dalam mitos itu sendiri. Fokus perhatian Barthes lebih tertuju pada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two orders of signification). Ciri-ciri mitos:
a.       Deformatif.
Barthes menerapkan unsur-unsur Saussure menjadi form (signifier), con-cept (signified). Ia menambahkan signification yang merupakan hasil dari hubungan kedua unsur tadi. Signification inilah yang menjadi mitos yang mendistorsi makna sehingga tidak lagi mengacu pada realita yang sebenarnya: The relation which unites the concept of the myth to
its meaning is essentially a relation of deformation. Pada mitos, form dan
concept harus dinyatakan. Mitos tidak disembunyikan; mitos berfungsi mendistorsi, bukan untuk menghilangkan. Dengan demikian, form dikembangkan melalui konteks linear (pada bahasa) atau multidimensi (pada gambar). Distorsi hanya mungkin terjadi apabila makna mitos sudah terkandung di dalam form.
b.      Intensional.
Mitos merupakan salah satu jenis wacana yang dinyatakan secara intensional. Mitos berakar dari konsep historis. Pembacalah yang harus menemukan mitos tersebut. Contoh: Ketika ia berjalan-jalan di Spanyol, ia melihat kesamaan arsitektur rumah-rumah di sana dan ia mengenali arsitektur itu sebagai produk etnik: gaya basque. Secara pribadi, ia tidak merasa terdorong untuk menyebutnya dengan sebuah istilah. Namun, ketika ia berjalan-jalan di Paris dan ia melihat sebuah rumah yang, berbeda dengan sekitarnya, berbentuk villa kecil, rapi, bergenting merah, berdinding setengah kayu berwarna cokelat tua, beratap asimetris, secara spontan, ia menyebutnya sebagai villa bergaya basque.
c.       Motivasi.
Bahasa bersifat arbitrer, tetapi, kearbitreran itu mempunyai batas, misalnya melalui afiksasi, terbentuklah kata-kata turunan: baca-membacadibaca-terbaca-pem-bacaan. Sebaliknya, makna mitos tidak arbitrer, selalu ada motivasi dan analogi. Penafsir dapat menyeleksi motivasi dari beberapa kemungkinan motivasi. Mitos bermain atas analogi antara makna dan bentuk. Analogi ini bukan sesuatu yang alami, tetapi bersifat historis. Dengan meneliti konotasi-denotasi dalam teks kita bisa menemukan ideologi. “Salah satu cara adalah mencari mitologi dalam teks-teks (kesatuan mitos-mitos koheren) menyajikan makna-makna yang mempunyai wadah dalam ideologi. Ideologi itu harus dapat diceritakan, itulah mitos. (Barthes, 1957: 122-130)





BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Konsep konotasi (mitos) dalam “The Brain of Einstein”
            Topik otak Einstein yang diangkat oleh Barthes dalam bukunya yang berjudul Mythologies (1972) merupakan analisis terhadap fenomena budaya popular. Barthes mengungkap mitos modern yang tersembunyi dibalik tokoh Einstein. Adapun yang menjadi perhatian dalam diri Einstein adalah otak yang ia miliki. Otak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan benda putih yang lunak terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf, digunakan untuk berpikir dan mengendalikan gerakan otot refleks serta keseimbangan tubuh. (KBBI, 2008). Tanpa sadar masyarakat mempercayai dan membenarkan atas presepsi dasar bahwa Einstein adalah ikon dari seseorang yang memiliki otak berkemampuan luar biasa. Esai Barthes yang berjudul The Brain of Einstein memberikan konsep konotasi (mitos) dari otak Einstein. Adapun mitos (makna tingkat kedua) yang diungkap Barthes terkait otak Einstein dapat dilihat dari beberapa kutipan dibawah ini.
Einstein's brain is a mythical object: paradoxically, the greatest intelligence of all provides an image of the most up-to-date machine, the man who is too powerful is removed from psychology, and introduced into a world of robots; as is well known, the supermen of science-fiction always have something reified about them. (Barthes, 1972 : 68).
Seperti yang kita ketahui bahwa Albert Einstein adalah seorang ilmuwan fisika teoretis/ fisikiawan yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Ketika kita mendengar kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan genius, karena kita menyadarinya bahwa Einstein adalah orang yang sangat jenius dan dikenal banyak orang dari berbagai negara. Yang menjadikan Einstein menarik perhatian banyak ilmuan lain adalah karena dalam setiao kasus ia mampu mengambil ide teori fisika konsekuensi logis, dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang sebelumnya telah membingungkan para ilmuan beberapa dekade, puncak popularitas Einstein terjadi ketika ia menciptakan Teori Relativitas yang diantaranya menjadi landasan penemuan energy dan bom atom, mungkin dilihat berdasarkan alasan tersebut Barthes memberikan kata up-to-date machine yang menjadikan sebuah mitos dibalik otak Einstein. Sedangkan kata and introduced into a world of robots; as is well known, the supermen of science-fiction always have something reified about them. Dari kalimat tersebut bisa diartikan bahwa Einstein bagaikan seorang robot, yang kita ketahui dari robot adalah mesin yang bisa membantu atau mengerjakasan suatu hal, seperti Einsten yang sudah memberikan rumusan yang dapat orang-orang kerjakan  melalui teori-teorinya.
Narasi diatas menjelaskan bahwa otak Einstein dianggap sebagai sebuah objek mitos. Secara kontradiksi apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan bahwa otak dari tokoh terkenal tersebut merupakan sebuah citra refleksi dari mesin yang up-to-date artinya menjaman (sampai saat ini).
Einstein himself has to some extent been a party to the legend by bequeathing his brain, for the possession of which two hospitals are still fighting as if it were an unusual piece of machinery which it will at last be possible to dismantle.(Barthes, (Barthes, 1972 : 68).
Dalam kutipan diatas Barthes menggambarkan bahwa ketika menjelang kematiannya Einstein yang menjadi legenda yaitu otaknya telah dicuri. Kita bisa lihat dari biografi Einstein setelah kematiannya selama autopsi, ahli patologi dari Rumah Sakit Princeton, Thomas Stoltz Harvey, mengambil otak Einstein untuk pengawetan tanpa izin dari keluarganya, dengan harapan dan penuh perjuangan bahwa ilmu syaraf masa depan akan mampu menemukan apa yang membuat otak Einstein begitu cerdas seperti mesin yang bisa melakukan apa saja, dan  karena otak Einstein yang mampu menciptakan teori-teori yang diakui oleh ilmuan sehingga teorinya mendunia. Sifat-sifat lain dari mitos yang diusulkan oleh Barthes adalah bahwa mitos tidak ditentukan oleh materinya, melainkan oleh pesan yang disampaikan (Barthes dalam Zaimar, 2008: 58). Oleh karena itu kutipan diatas ada pesan yang ingin disampaikan.
He used to produce thought, continuously, as a mill makes flour, and death was above all, for him, the cessation of a localized function (Barthes, 1992:68)
Dalam kutipan diatas, dapat dipahami adalah hasil pemikirannya Einstein digunakan, terus menerus, seperti sebuah pabrik membuat tepung. Kita ketauhi bahwa tepung sudah menjadi bagian bahan pokok yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari begitu diolah maka akan menghasilka sesuatu yang kita butuhkan berdasarkan rumusuan atau resep yang kita buat. Begitupun hasil pemikiran Einstein yang telah mendunia telah digunakan dalam ranah pendidikan terutama dalam bidang studi Fisika, karena Einstein sangat berkaitan erat dengan Fisika.
So has Einstein: he is commonly signified by his brain, which is like an object for anthologies, a true museum exhibit. Perhaps because of his mathematical specialization, superman is here divested of every magical character; no diffuse power in him, no mystery other than mechanical: he is a superior, a prodigious organ, but a real, even a physiological one. (Barthes, 1972 : 68).
            Pada umumnya, sesuai dengan narasi diatas, tokoh Einstein memang dikenal dengan otak yang ia miliki. Otaknya melegenda (ibarat barang sejarah yang ditempatkan di museum), dan dijadikan bahan kajian untuk karya tulis (antologi), mungkin dikarenakan spesialisasi di bidang matematika. Organnya (otak) dianggap luar biasa, namun pada kenyataannya organ tersebut tetap bersifat fisiologis (fungsi organ pada umumnya).
Mythologically, Einstein is matter, his power does not spontaneously draw one towards the spiritual, it needs the help of an independent morality, a reminder about the scientist's 'conscience' (Science without conscience, * they said...).
Einstein himself has to some extent been a party to the legend by bequeathing his brain, for the possession of which two hospitals are still fighting as if it were an unusual piece of machinery which it will at last be possible to dismantle. (Barthes, 1972 : 68).
            Dipandang pada makna tataran kedua Barthes, Einstein adalah sebuah bahan (matter) yang saat itu dijadikan sebagai bahan penelitian para ahli. Sejalan dengan kutipan selanjutnya, Barthes mengungkapkan bahwa Einstein secara tidak langsung (atas kemampuan otaknya) dianggap mewariskan organ otaknya tersebut, yang digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Otak Albert Einstein dijadikan sebagai objek riset dan spekulasi. Hutabalian menyatakan bahwa otak dari tokoh fisika terbesar di abad ke-20 ini diambil 7 jam setelah kematiannya pada tahun 1955. (Hutabalian, 2013). Otak ini menarik perhatian dunia karena reputasi Albert Einstein sebagai seorang jenius, dan para ahli menduga bahwa kita dapat mengetahui ciri khas di dalam otaknya yang dianggap mempunyai korelasi kuat dengan kemampuan intelegensi yang menyebabkan terciptanya banyak ide brillian dalam dunia fisika dan matematika. Namun, pada kenyataannya, para ilmuwan masih memperdebatkan hasil dari penilitian tersebut. Menurut Barthes, it needs the help of an independent morality, a reminder about the scientist's 'conscience', moralitas para peneliti tersebut harus dipertanyakan. Einstein adalah seorang manusia yang memiliki otak biasa pada umumnya, yang membedakan hanyalah ‘usaha’, nampaknya mitos istilah ‘jenius’ dari ikon Einstein telah membuat ilmu pengetahuan tanpa moralitas seperti yang diungkap Barthes.
A photograph shows him lying down, his head bristling with electric wires: the waves of his brain are being recorded, while he is requested to 'think of relativity'. (But for that matter, what does 'to think of' mean, exactly?) What this is meant to convey is probably that the seismograms will be all the more violent since 'relativity' is an arduous subject. Thought itself is thus represented as an energetic material, the measurable product of a complex (quasi-electrical) apparatus which transforms cerebral substance into power. (Barthes, 1972 : 68).
            Barthes menyatakan bahwa potret tokoh Einstein salah satunya nampak ketika ia sedang berbaring dengan kepala yang penuh kabel listrik, gelombang otaknya sedang direkam. Barthes mengungkapkan disini bahwa substansi otak pada makna tataran kedua (konotasinya) dianggap sebagai suatu kekuatan manusia. Namun pada dasarnya, semua organ manusia itu melengkapi fungsinya satu sama lain, tidak ada salah satunya yang menjadi simbol dari suatu kekuatan.
The mythology of Einstein shows him as a genius so lacking in magic that one speaks about his thought as of a functional labour analogous to the mechanical making of sausages, the grinding of corn or the crushing of ore: he used to produce thought, continuously, as a mill makes flour, and death was above all, for him, the cessation of a localized function: 'the most powerful brain of all has stopped thinking'. (Barthes, 1972 : 68-69).
Einstein dipandang sebagai mitos Barthes, karena pada umumnya Einstein dianggap sebagai mesin seperti mesin pembuat sosis, penggiling jagung atau mesin penghancur biji-bijian. Ia dianggap sebagai otak yang memproduksi sebuah pemikiran (menghasilkan produk ilmu pengetahuan), seperi sebuah pengilingan yang menghasilkan tepung, dan ketika ia telah tiada, kematiannya dianggap sebagai pemberhentian pembatasan fungsi (otak yang dianggap paling luar biasa telah berhenti berpikir). Disini, nampak terpatri mitos bahwa ‘the most powerful brain’ (genius) hanya dimiliki Einstein atau segelintir orang , padahal Tuhan sesungguhnya menganugerahkan kejeniusan kepada setiap manusia (yang diberikan otak normal) dan bukan hanya pada manusia tertentu. Setiap manusia berpotensi menjadi genius.
Paradoxically, the more the genius of the man was materialized under the guise of his brain, the more the product of his inventiveness came to acquire a magical dimension, and gave a new incarnation to the old esoteric image of a science entirely contained in a few letters. There is a single secret to the world, and this secret is held in one word; the universe is a safe of which humanity seeks the combination: Einstein almost found it, this is the myth of Einstein. In it, we find all the Gnostic themes: the unity of nature, the ideal possibility of a fundamental reduction of the world, the unfastening power of the word, the age-old struggle between a secret and an utterance, the idea that total knowledge can only be discovered all at once, like a lock which suddenly opens after a thousand unsuccessful attempts. The historic equation E = mc2, by its unexpected simplicity, almost embodies the pure idea of the key, bare, linear, made of one metal, opening with a wholly magical ease a door which had resisted the desperate efforts of centuries. (Barthes, 1972 : 69).
            Paradoksnya, semakin genius seseorang terwujud dengan kedok otaknya, semakin banyak produk dari hasil ciptanya dan memberikan inkarnasi (wujud) baru untuk citra esoteris yang terkandung dalam beberapa huruf (seperti formula Einstein). Barthes lebih lanjut menyatakan bahwa dalam mitos Einstein ini, kita menemukan semua tema gnostik (tema-tema pengetahuan), yang konon seperti kunci yang tiba-tiba terbuka setelah seribu kali gagal mencoba dibuka (Einstein = E = mc2), hal ini merupakan makna tataran kedua seperti yang diungkapkan Barthes (makna lain dari Einstein, yaitu formula).
But since the world is still going on, since research is proliferating, and on the other hand since God's share must be preserved, some failure on the part of Einstein is necessary: Einstein died, it is said, without having been able to verify 'the equation in which the secret of the world was enclosed'. (Barthes, 1972 : 69-70).
            Narasi diatas mengungkapkan bahwa konon, ketika Einstein meninggal dunia ia tanpa dapat meverifikasikan teorinya telah ditutup (maksudnya telah tuntas). Barthes, disini ingin memberikan pemahaman bahwa dunia masih berjalan, penelitian terus berkembang dan kegagalan Einstein sebelum menghasilkan teorinya diperlukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
So in the end the world resisted; hardly opened, the secret closed again, the code was incomplete. In this way Einstein fulfils all the conditions of myth, which could not care less about contradictions so long as it establishes a euphoric security: at once magician and machine, eternal researcher and unfulfilled discoverer, unleashing the best and the worst, brain and conscience, Einstein embodies the most contradictory dreams, and mythically reconciles the infinite power of man over nature with the 'fatality' of the sacrosanct, which man cannot yet do without. * 'Science without conscience is but the ruin of the Soul' (Rabelais, Pantagruel II, ch. 8). (Barthes, 1972 : 70).
Teori Einstein menurut Barthes belum usai, tapi dunia tak membuka jalan (sukar dibuka dan pada akhirnya tertutup kembali). Maka dari itu, Einstein memenuhi kriteria mitos. Akhir kata, Barthes mengutip ungkapan yang merepresentasikan bahwa ilmu pengetahuan tanpa hati nurani hanyalah kehancuran jiwa (ditujukan untuk para scientist khususnya yang mencoba untuk membongkar otak Einstein). Disini jelas terasa nampak dari mitos (pemahaman tataran kedua) dari organ tubuh (otak) Einstein yang dijadikan bahan penelitian yang tidak seharusnya dilakukan. Hakikat otak manusia adalah sumber dari semua sistem saraf yang dimiliki oleh setiap manusia. Pada awalnya, kemampuan otak manusia (normal) adalah sama, yang membedakan adalah ketika terlahir apa saja usaha yang telah dilakukan dan di lingkungan seperti apa manusia itu dibesarkan. Tidak ada istilah jenius yang dipercayai bahwa ‘otak yang dimiliki itu terberi begitu saja’. Jika berkaca pada teks (ayat) al-Qur’an, dalam Qs. Al-ankabut ayat 69 dijelaskan:
Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan- jalan kami (petunjuk). (Qs. Al-ankabut: 69)”.
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa jika seseorang berjihad (berjuang) maka petunjuk (ilmu) akan diraihnya. Umat Islam mengenal istilah ‘ilmu laduni’ yang bagi sebagian orang merupakan ‘ilmu yang terberi begitu saja dari Allah’. Namun, pada dasarnya, ilmu laduni dalam pengertian umum itu terbagi menjadi dua, yakni (1) wahbiy yaitu ilmu yang didapat tanpa melalui tahapan belajar (bukan mitos yang selama ini dikenal dengan ‘orang yang sekaligus pintar dari lahir’), maksudnya disini adalah ilmu syari’at (ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang disampaikan  melalui jalan wahyu), dan ilmu ma’rifat (ilmu tentang sesuatu yang ghaib); (2) kasbiy yaitu ilmu yang diperoleh manusia melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berpikir dan lain sebagainya. Jadi, pada kesimpulannya, sejalan dengan pemikiran Barthes bahwa otak yang paling istimewa adalah Einstein hanyalah sebuah mitos, sebab semua otak manusia (normal) itu istimewa dan luar biasa.
3.2  Konsep refleksi konotasi (mitos) dalam “The Jet-Man”
Mitos oleh Barthes disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan bahwa mitos merupakan system komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan. Mitos bukan konsep atau ide tertapi merupakan suatu cara pemberian arti. Secara etimologis, mitos merupakan suatu jenis tuturan, tentunya bukan sembarang tuturan. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa mitos adalah suatu system komunikasi, yakni suatu pesan (message).
Dalam bukunya yang berjudul Mythologies pada tahun1972 Roland Barthes memuat mitos-mitos yang ada dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Perancis salah satu diataranya yaitu essay yang akan dibahas berjudul “The jet-Man”, di bawah ini kutipan-kutipan yang mengandung mitos menurut pandangan Barthes:
 “The jet-man is a jet-pilot. Match has specified that he belongs to a new race in aviation, nearer to the robot than to the hero…. ..But what strikes one first in the mythology of the jet-man is the elimination of speed: nothing in the legend alludes to this experience.(Barthes, 1992:71)
            Dalam kutipan diatas dapat kita ketahui bahwa Jet-man asalnya adalah seorag pilot pesawat jet, namun Jet-man ini mempunyai kemampuan yang melebihi seorang pilot tersebut, yang mana pada masa itu seorang pilot saja sudah disebut pahlawan oleh masyarakat karena bisa terbang di udara.  Disebutkan oleh Barthes Jet-man lebih mirip robot dibandingkan dengan seorang pahlawan (pilot). Namun sejatinya tak ada manusia yang bisa berubah menjadi sesuatu bentuk yang lain, itu semua hanyalah sebuah mitos yang sudah ada sejak zaman dahulu, contohnya, pertama, raksasa. Semua orang sudah tahu siapa itu raksasa. Mahkluk yang tingginya melebihi tinggi manusia normal, gemar memakan manusia, tetapi idiot dan bodoh. Di banyak kebudayaan pun raksasa sering muncul dalam berbagai bentuk.Hanya saja disini mengikuti paham modern sebab robot itu adalah buatan manusia di zaman modern. Kedua, berubah bentuk atau wujud. Kalau di Indonesia konsep seperti ini biasanya disebut makhluk jadi-jadian. Konsep tentang makhluk jadi-jadian juga ada di seluruh dunia, baik dalam bentuk dongeng dan legenda seperti angsa berubah menjadi perempuan cantik atau kodok berubah menjadi seorang putri. Hanya saja di Jet-man, mengikuti paham modern yang rasional yaitu manusia yang memiliki kemampuan seperti robot yaitu bisa meluncur melebihi kecepatan yang bisa orang biasa lakukan.
“The pilot-hero was made unique by a whole mythology of speed as an experience, of space devoured, of intoxicating motion; the jet-man, on the other hand, is defined by acoenaesthesis of motionlessness” (Barthes, 1992:71)
            Barthes membawa pembaca  untuk memahami cerita bagaimana seorang pilot berubah menjadi sosok “Jet-man”. Dia membawa kita kembali pada saat dimana pilot dianggap seorang pahlawan dan secara tidak langsung bahwa sebelum sosok “Jet-man” di kagumi, masyarakat terlebih dahulu mengagumi sosok pilot yang mempunyai kemampuan untuk bisa terbang dengan cepat di udara, namun tidak melebihi batas kecepatan yang seharusnya. Barthes mngatakan dalam kutipannya “the pilot-hero was made unique by…speed as an experience…of intoxicating motion” menurut Bathes keheranan akan seorang super hero ditutupi tentang baaimana manusia mngalami kecepatan yang tidak bisa dialami manusia pada umumnya pada saat itu, namun di sisi lain “The Jet-man” atau bisa kita sebut dengan pahawan super dapat melebihi apa yang dilakukan oleh pilot tersebut. Namun kecepatan yang dianggap dimiliki super hero tersebut hanyalah mitos, mereka menganggap kecepatan sang Jet-man tidak terdeksi oleh manusia biasa seperti mereka  namun sejatinya pada saat itu tentu saja Jet-man juga masih seorang manusia dan bisa mengedalikan kecepatan. Orang-orang menganggap jet-man super hero karena bisa mengalami dan mengendalikan kecepatan yang luar bisa hebat tersebut namun tentu saja itu semua hanya mitos, karena dengan usaha dan pelatihan dengan cara yang tepat semua orang juga bisa terbang dan mengalami seperti Jet-man.
No wonder if, carried to such a pitch, the myth of the aviator loses all humanism. The hero of classical speed could remain a 'gentleman', inasmuch as motion was for him an occasional exploit, for which courage alone was required: (Barthes, 1992:71)

            Dalam kutipan diatas disebutkan jika penerbang atau pilot membawa beban seperti itu mereka akan kehilangan sisi kemanusiaannya. Namun sepertinya hal itu hanya mitos karena jika pilot tersebut terbang dalam ketinggian dan kecepatan yang sangat cepat  mereka masih bisa merasa layaknya manusia pada umumnya. Para pilot terdahulu masih bisa bersikap seperti seorang lelaki, karena bisa terbang dan mngendalikan kecepatan sesuai dengan keingginan mereka sendiri atau bisa mengendalikannya.
 “the jet-man, on the other hand, no longer seems to know either adventure or destiny, but only a condition…the jet-man is less defined by courage than by his weight, his diet and his habits (temperance, frugality, continence)” (Barthes, 1992:68)
Sebaliknya, Barthes memperkenalkan Superhero, Jet-man menggantikan posisi pilot. Dia menyoroti bahwa perbedaan antara pahlawan (pilot) dan pahlawan super (The Jet-man) adalah tampaknya tak terduga, Jet-man memiliki aura yang lebih kuat dibandingkan dengan pilot. Menurut Barthes, Jet-man bukanlah seorang pahlawan karena kecepatan super yang dapat dicapainya, melainkan karena fakta bahwa kecepatan luar biasa yang tidak dapat di deteksi oleh yang lainnya. Ketika terbang tampaknya tak bergerak atau tenang . Barthes menyoroti bahwa masyarakat yang mengagungkan pahlawan super (Jet-man) tidak hanya untuk kemampuannya yang sangat tinggi untuk memenuhi tugas manuisa pada umumnya , tapi juga untuk melakukan sesuatu hal degan tak terdeteksi oleh yang lainnya. Menurut kutipan diatas Brthes menyebutkan Jet-man tahu yang dilakukannya adalah bukan petualangan atau takdir, yakni hanyalah sebuah kondisi atau keadaan. Jadi anggapan yang lain yang menganggapnya superhero adalah takdir hanyalah mitos. Karena keadaan itu bisa dialami siapa saja dengan syarat dan ketentuan tententu.
 “In fact, and in spite of the scientific garb of this new mythology, there has merely been a displacement of the sacred” (Barthes, 1992:72)
Dalam kutipan di atas terlihat bahwa terdapat mitos dalam esai Barthes ini bahwa dengan kita memakai baju atau seragam apapun dalam mitologi baru manusia jet ini, namun tetap ketika kita menjadi hamba allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya lah yang merupakan manusia super yang hebat, dan yang suci menurut Barthes. Karena dengan begitu kita tidak menghilangkan sifat kemanusiaan kita terhadap tuhan-Nya, sebab meskipun sehebat-hebatnya kita tidak tidak boleh lupa dan sombong dengan kekuatan atau kehebatan appa yang kita punya. Karena tetap tuhanlah yang menciptakan kita, yang menakdirkan kita seperti apa.
“But the mythological peculiarity of the jetman is that he keeps none of the romantic and individualistic elements of the sacred role, without nevertheless forsaking the role itself.” (Barthes, 1992:72)
Karena mitos bukan konsep atau ide tertapi merupakan suatu cara pemberian arti. Secara etimologis, mitos merupakan suatu jenis tuturan, tentunya bukan sembarang tuturan. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa mitos adalah suatu system komunikasi, yakni suatu pesan (message). Kutipan diatas, mempertegas bahwa jet-man hanyalah super hero yang di ciptakan oleh masyarakat, dan jet-man tersebut merupakan fantasi yang selama ini di bayangkan oleh masyarakat. Jet-man tersebut pula bersifat tidak romantis dan hanya individualis. Namun Barthes menegaskan bahwa pehlawan sebenarnya tidak seperti itu seperti yang tercantum dalam kutipan:
“...... human 'happiness'. So truly does the situation of the jet-man comprise the sense of a religious call......” (Barthes, 1992:72)
Jadi yang sebenarnya pahlawan itu merupakan panggilan beragama, Kemudian sebenarnya Barthes hanya mengibaratkan seorang manusia dengan superhero yang biasanya ada di pikiran masyarakat yaitu orang yang super, bisa meluncur sedemikian cepat dengan kekuatan tinggi. Mengambil kata jet-man karena ia mengibaratkan seseorang seperti dalam kutipan:
“triumph in preliminary ordeals is, truth to tell, the fruit of a spiritual gift, one is gifted for jet-flying as others are called to God. All this would be commonplace if we were dealing with the traditional hero “(Barthes, 1992:72)
Jet-man yang dimaksud adalah ketika kita sebagai manusia bersusah-susah dahulu dengan hidup sederhana, menarik diri dari kesenangan duniawi, hidup dengan taat dan terus bertaqwa kepada tuhan, dan lain sebagainya maka kelak kita akan mendapatkan karunia yang luar biasa seperti jet-man yang langsung meluncur tinggi dari manusia yang biasa, apa adanya dan sederhana menjadi manusia yang luar biasa yang berbeda daripada yang lain ketika kelak berhadapan dengan tuhan, tuhan akan mengangkat derajatnya dengan begitu luar biasa seperti jet yang di luncurkan keatas dengan begitu cepat.
            Jadi, menurut saya, hubungan antara manusia yang hebat dan tuhannya itu memiliki arah yang vertikal sehingga seperti arah jet yang meluncur secara vertikal pula. Manusia yang berimanlah yang meluncur dengan cepat diangkat oleh tuhan kedalam surga.
“Society eventually recognizes, a propos of the jet-man, the old theosophical pact, which has always compensated power by an ascetic life” (Barthes, 1992:72)
Dari kutipan di atas, perlu di garis bawahi kata ascetic yang berarti pertapa. Menurut saya ini merupakan sebuah mitos. Karena seseorang yang disebut pertapa itu tidak menyebutkan dirinya sebagai pertapa, melainkan sebutan dari masyarakatlah yang memiliki ciri-ciri tersendiri disebut dengan pertapa.



DAFTAR PUSTAKA :
Alex Sobur. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Alex, Sobur. 2004. Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Barthes, Roland. 1957. Mythologies. New York.
Barthes, Roland. 1972. Mythologies. New York: Noondy Press.
Barthes, Roland. 1972. Mythologies. Terjemahan Annette Lavers. London: Paladin.
Fathullah, L. 2008. Qs. Al-ankabut:69. Terjemahan: software Al-Qur’an al Hadi. Ahmad. Jakarta: Pusat Kajian Al Mughni Islamic Center
Hutabalian , Blestro. 2013 . Otak Albert Einstein. Diakses pada 15 Oktober 2016. Dari: http//:otak-albert-einstein/kary-blestro-huta/2013.blogspot.com.
Jonathan, Bignell. 1997. Media Semiotics: An Introduction. Mancahster and New York: Mancehster University Press.
KBBI. 2008. Otak. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Mobile. Diakses pada hari Jum’at 14 Oktober 2016. Dari: http://yuku/kejut.com/kbbimobile.appiconoluss.com.
Marcel, Danesi. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media.Yogyakarta: Jalasutra.
Zaimar, okke k.S. 2008. Semiotika dan Penerapannya dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar