Minggu, 30 September 2018

Review Novel Perempuan Suci


Judul: Perempuan Suci
Diterjemahkan dari: The Holy Woman
Penulis: Qaisra Shahraz
Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin
Penyunting: Salahuddien Gz
Penerbit: Qanita Edisi Baru (Gold Edition)
Cetakan I: Januari 2002
Jumlah halaman: 599 hlm.
Sinopsis:
            Zarri Bano adalah perempuan muslim yang cantik dan menawan, berpendidikan tinggi, cerdas dan  di dukung dengan kelas sosial yang tinggi. Zarri Bano adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Di usianya yang sudah akhir dua puluhan Zarri bano masih saja melajang dan menolak barisan para pelamar dengan berbagai latar belakangnya, di dukung pula oleh Sahib, sang ayah yang seolah tidak menemukan calon yang yang pantas bagi putrinya yang sangat berharga.
            Pada suatu hari perayaan di mela Zarri Bano secara tak sengaja bertemu dengan Sikander dan mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Sikander mendatangi rumah Zarri Bano datang untuk melamr dan berhadapan dengan orang tua Zarri Bano, Habib dan Shazada. Ibu Zarri Bano sangat senang akhirnya anaknya menemukan tambata hatinya namun dengan kecemburuan sang ayah melihat anaknya akhirya jatuh cinta kepada lelaki, sang ayah bersikeras kurang menyukai Sikander dan tidak akan menyetujui adanya pernikahan diantara mereka.
            Ketika Zarri Bano beberapa hari berada di rumah Sikander untuk lebih mengenal kepribadian masing-masing, akhirnya Zarri Bano memutuskan menerima lamaran Sikander. Tiba-tiba kabar buruk datang dari rumahnya, Jafar sang adik laki-laki meninggal dunia. Dengan kematian anak laki-laki satu-satunya yang akan mewarisi harta warisan keluarga sacara turun temurun, sang ayah seolah didukung untuk menolak pernikahan Zarri bano dan melakukan adat tradisional keluarga dengan memilih anak perempuan tertua untuk mewarisi harta warisan dan menjadikannya seorang perempuan suci, perempuan yang tidak boleh menikah dan hanya dinikahkan dengan Al-Qur’an dengan keyakinannya.
            Pada mulanya Zarri Bano menolak namun dengan kuatnya peran lelaki dan budaya patriarki, keputusan sang ayah di dukung oleh sang penguasa lainnya yaitu sang kakek Siraj Din tidak ada yang bisa dilakukan olehnya. Pembelaan dari sang Ibu dan adiknya Ruby pun tidak mempengaruhi keputusan sang kepala keluarga.
            Ketika menerima nasibnya sebagai perempuan suci, Zarri Bano memastikan pada ayahnya bahwa mulai detik itu juga sang Zarri Bano yang lama sudah mati.  Malam perayaan dan penasbihan Zarri Bano sebagai perempuan suci pun dilakukan secara meriah dan dihadiri oleh banyak orang yang ingin menyaksikan peristiwa langka yaitu Zarri Bano sang perempuan cantik modern dan glamour yang biasa hidup diperkotaan yang ketika memakai kerudung saja nyaris tidak pernah tersampir dengan benar kini akan dinikahkan dengan agamanya dan hanya akan memakai burqo hitam (kain hitam yang menutupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan sebagian kecil wajah yang bisa dilihat).
            Setelah beberapa bulan dinobatkan sebagai Perempuan Suci Zarri Bano melakukan perjalanan ke mesir untuk menimba ilmu di universitas ternama disana dan tinggal dengan kenalan sang Ayah. Setahun telah berlalu, Bilqis ibunya Skander mengkhawatirkan putranya yang masih belum bisa melupakan Zarri Bano dan belum menikah sampai sekarang dan terlintas dibenaknya untuk melamar Ruby adiknya Zarri Bano yang tak kalah cantik dan juga pantas untuk menjadi menantunya. Gagasan itupun disampaikan kepada Sikander, sempat menolak namun akhirnya Sikander menerima usul ibunya untuk menikahi Ruby sebagai bentuk balas dendam kepada Zari Bano. Ayah Zarri Bano pun menerima lamaran Sikander untuk Ruby sebagai bentuk pembalasan hutang budi karena tidak bisa menikahi Zarri bano.
            Pulang dari mesir dan menghadapi kabar bahwa adiknya akan menikah dengan Sikander, Zarri Bano sangat terpukul dan bertanya-tanya mengapa keluaganya sangat kejam kepadanya. Mengapa Ruby boleh menikah dengan Sikander sedangkan dirinya tidak. Setelah perang batin yang dilakukannya semalaman dan menyerahkan diri kepada tuhan Zarri Bano akhirnya merelakan Sikander menikah dengan adiknya.
            Sesaat setelah pernikahan adiknya Zarri Bano kembali ke mesir, disana dia dilamar oleh Ibrahim Musa, anak pemilik rumah yang ditempatinya, seorang dosen universtitas Al-Azhar dan sudah dianggapnya sebagai saudara, namun Zarri Bano menolaknya dan menjelaskan bahwa dia tidak bisa menikah karena dia adalah seorang perempuan suci.
            Tahun demi tahun telah berlalu, Sikander dan Ruby sudah memiliki anak yang bernama Haris.  Zarri Bano, keduaa orangtuanya, Ruby dan Sikander akan berangkat Ibadah Haji bersama. Sebelum berangkat ke Mekah Habib meminta maaf kepada istrinya dan kepada Zarri Bano dari rasa bersalah yang menghantuinya selama ini dan membebaskan Zarri Bano dari ikrar perempun suci dan memperbolehkannya untuk menikah.
            Ketika melakukan ibadah haji, Habib dan Ruby meninggal dunia akibat kecelakaan saat melaksanakan ibadah thawaf. Berita itupun tersebar di kampung halamannya Zarri Bano dan menyebabkan duka yang mendalam bagi semua penduduk desa. Shazada ibu Zarri Bano sangat terpukul, suami dan  kedua anaknya telah meninggal dunia, begitupun Sikander yang terpukul karena istrinya Ruby meninggal dunia apa yang harus dikatakan kepada anaknya bahwa kini ibunya telah tiada.
            Setahun telah berlalu dan sikander mengajukan untuk melamar Zarri Bano untuk menjadi ibu dari anaknya, Haris. Karena Haris sangat dekat dengan Zarri Bano dan telah menganggapnya sebagai ibu kedua baginya. Zarri Bano dengan tegas menolak lamaran Sikander dan tidak ingin menggantikan tempat Ruby dan juga telah menikmati hidupnya sebagai seorang perempuan Suci. Nasehat dari Ibunya, Kakekya, sepupunya, bahkan pembantu rumah tangganya tidak di indahkan oleh Zarri Bano. Namun hati Zarri Bano lulus oleh permintaan Haris yang begitu tulus. Akhirnya Zarri Bano menerima lamaran Sikander dan menikah dengannya. Namun Zarri Bano menikah Hanya untuk menjadi Ibunya Haris, bukan menjadi istrinya Sikander.
            Pada saat Zarri Bano melakukan kunjungan muslim di Malaysia, Sikander menemuinya disana dan menemani perjalanan Zarri Bano. Penolakan-penolakan dalam bentuk penghindaran kerap dilakukan Zarri Bano. Hingga saat Sikander mengajaknya jalan-jalan di pedalaman hutan Malaysia, Sikander menawarkan Zarri Bano meninggalkannya lebih awal dari perjanjiannya yang hanya akan bertahan satu tahun jika memang Zarri Bano sangat terganggu oleh Sikander. Dari sana Zarri bano menyadari bahwa cintanya untuk Sikander masih tersimpan rapi di dalam lubuk hatiya. Akhirnya Zarri Bano menerima ketulusan hati Sikander dan tetap menjadi perempuan yang taat akan agama.
End…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar