Judul: Perempuan Suci
Diterjemahkan dari: The
Holy Woman
Penulis: Qaisra Shahraz
Penerjemah: Anton Kurnia
dan Atta Verin
Penyunting: Salahuddien Gz
Penerbit: Qanita Edisi
Baru (Gold Edition)
Cetakan I: Januari 2002
Jumlah halaman: 599 hlm.
Sinopsis:
Zarri Bano adalah perempuan muslim
yang cantik dan menawan, berpendidikan tinggi, cerdas dan di dukung dengan kelas sosial yang tinggi. Zarri
Bano adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Di usianya yang sudah akhir dua
puluhan Zarri bano masih saja melajang dan menolak barisan para pelamar dengan
berbagai latar belakangnya, di dukung pula oleh Sahib, sang ayah yang seolah
tidak menemukan calon yang yang pantas bagi putrinya yang sangat berharga.
Pada suatu hari perayaan di mela
Zarri Bano secara tak sengaja bertemu dengan Sikander dan mereka saling jatuh
cinta pada pandangan pertama. Sikander mendatangi rumah Zarri Bano datang untuk
melamr dan berhadapan dengan orang tua Zarri Bano, Habib dan Shazada. Ibu Zarri
Bano sangat senang akhirnya anaknya menemukan tambata hatinya namun dengan
kecemburuan sang ayah melihat anaknya akhirya jatuh cinta kepada lelaki, sang
ayah bersikeras kurang menyukai Sikander dan tidak akan menyetujui adanya
pernikahan diantara mereka.
Ketika Zarri Bano beberapa hari berada
di rumah Sikander untuk lebih mengenal kepribadian masing-masing, akhirnya
Zarri Bano memutuskan menerima lamaran Sikander. Tiba-tiba kabar buruk datang
dari rumahnya, Jafar sang adik laki-laki meninggal dunia. Dengan kematian anak
laki-laki satu-satunya yang akan mewarisi harta warisan keluarga sacara turun
temurun, sang ayah seolah didukung untuk menolak pernikahan Zarri bano dan
melakukan adat tradisional keluarga dengan memilih anak perempuan tertua untuk
mewarisi harta warisan dan menjadikannya seorang perempuan suci, perempuan yang
tidak boleh menikah dan hanya dinikahkan dengan Al-Qur’an dengan keyakinannya.
Pada mulanya Zarri Bano menolak
namun dengan kuatnya peran lelaki dan budaya patriarki, keputusan sang ayah di
dukung oleh sang penguasa lainnya yaitu sang kakek Siraj Din tidak ada yang
bisa dilakukan olehnya. Pembelaan dari sang Ibu dan adiknya Ruby pun tidak
mempengaruhi keputusan sang kepala keluarga.
Ketika menerima nasibnya sebagai
perempuan suci, Zarri Bano memastikan pada ayahnya bahwa mulai detik itu juga
sang Zarri Bano yang lama sudah mati. Malam
perayaan dan penasbihan Zarri Bano sebagai perempuan suci pun dilakukan secara
meriah dan dihadiri oleh banyak orang yang ingin menyaksikan peristiwa langka
yaitu Zarri Bano sang perempuan cantik modern dan glamour yang biasa hidup
diperkotaan yang ketika memakai kerudung saja nyaris tidak pernah tersampir
dengan benar kini akan dinikahkan dengan agamanya dan hanya akan memakai burqo
hitam (kain hitam yang menutupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan sebagian
kecil wajah yang bisa dilihat).
Setelah beberapa bulan dinobatkan
sebagai Perempuan Suci Zarri Bano melakukan perjalanan ke mesir untuk menimba
ilmu di universitas ternama disana dan tinggal dengan kenalan sang Ayah.
Setahun telah berlalu, Bilqis ibunya Skander mengkhawatirkan putranya yang
masih belum bisa melupakan Zarri Bano dan belum menikah sampai sekarang dan
terlintas dibenaknya untuk melamar Ruby adiknya Zarri Bano yang tak kalah
cantik dan juga pantas untuk menjadi menantunya. Gagasan itupun disampaikan
kepada Sikander, sempat menolak namun akhirnya Sikander menerima usul ibunya
untuk menikahi Ruby sebagai bentuk balas dendam kepada Zari Bano. Ayah Zarri
Bano pun menerima lamaran Sikander untuk Ruby sebagai bentuk pembalasan hutang budi
karena tidak bisa menikahi Zarri bano.
Pulang dari mesir dan menghadapi
kabar bahwa adiknya akan menikah dengan Sikander, Zarri Bano sangat terpukul
dan bertanya-tanya mengapa keluaganya sangat kejam kepadanya. Mengapa Ruby
boleh menikah dengan Sikander sedangkan dirinya tidak. Setelah perang batin
yang dilakukannya semalaman dan menyerahkan diri kepada tuhan Zarri Bano
akhirnya merelakan Sikander menikah dengan adiknya.
Sesaat setelah pernikahan adiknya Zarri
Bano kembali ke mesir, disana dia dilamar oleh Ibrahim Musa, anak pemilik rumah
yang ditempatinya, seorang dosen universtitas Al-Azhar dan sudah dianggapnya
sebagai saudara, namun Zarri Bano menolaknya dan menjelaskan bahwa dia tidak
bisa menikah karena dia adalah seorang perempuan suci.
Tahun demi tahun telah berlalu,
Sikander dan Ruby sudah memiliki anak yang bernama Haris. Zarri Bano, keduaa orangtuanya, Ruby dan
Sikander akan berangkat Ibadah Haji bersama. Sebelum berangkat ke Mekah Habib
meminta maaf kepada istrinya dan kepada Zarri Bano dari rasa bersalah yang
menghantuinya selama ini dan membebaskan Zarri Bano dari ikrar perempun suci
dan memperbolehkannya untuk menikah.
Ketika melakukan ibadah haji, Habib
dan Ruby meninggal dunia akibat kecelakaan saat melaksanakan ibadah thawaf.
Berita itupun tersebar di kampung halamannya Zarri Bano dan menyebabkan duka
yang mendalam bagi semua penduduk desa. Shazada ibu Zarri Bano sangat terpukul,
suami dan kedua anaknya telah meninggal
dunia, begitupun Sikander yang terpukul karena istrinya Ruby meninggal dunia
apa yang harus dikatakan kepada anaknya bahwa kini ibunya telah tiada.
Setahun telah berlalu dan sikander
mengajukan untuk melamar Zarri Bano untuk menjadi ibu dari anaknya, Haris.
Karena Haris sangat dekat dengan Zarri Bano dan telah menganggapnya sebagai ibu
kedua baginya. Zarri Bano dengan tegas menolak lamaran Sikander dan tidak ingin
menggantikan tempat Ruby dan juga telah menikmati hidupnya sebagai seorang
perempuan Suci. Nasehat dari Ibunya, Kakekya, sepupunya, bahkan pembantu rumah
tangganya tidak di indahkan oleh Zarri Bano. Namun hati Zarri Bano lulus oleh
permintaan Haris yang begitu tulus. Akhirnya Zarri Bano menerima lamaran
Sikander dan menikah dengannya. Namun Zarri Bano menikah Hanya untuk menjadi
Ibunya Haris, bukan menjadi istrinya Sikander.
Pada saat Zarri Bano melakukan
kunjungan muslim di Malaysia, Sikander menemuinya disana dan menemani
perjalanan Zarri Bano. Penolakan-penolakan dalam bentuk penghindaran kerap
dilakukan Zarri Bano. Hingga saat Sikander mengajaknya jalan-jalan di pedalaman
hutan Malaysia, Sikander menawarkan Zarri Bano meninggalkannya lebih awal dari
perjanjiannya yang hanya akan bertahan satu tahun jika memang Zarri Bano sangat
terganggu oleh Sikander. Dari sana Zarri bano menyadari bahwa cintanya untuk
Sikander masih tersimpan rapi di dalam lubuk hatiya. Akhirnya Zarri Bano
menerima ketulusan hati Sikander dan tetap menjadi perempuan yang taat akan
agama.
End…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar