CHAPTER 2
Alooohaaaa....
I'm back dengan translate an chapter 2 untuk novel a love so beautiful.......
seneng juga bisa mencoba translate novel ini, sebenarnya belum baca semua chapter juga jadi aku membacanya pas aku sedang menterjemahkan. semoga bisa tetep istikomah dan berlanjut sampai chapter terakhir.
happy reading .....
Musim
panas berakhir, kami memasuki kelas 3 SMP yang sibuk. Aku selalu
memprioritaskan masalah yang paling penting diatas segalanya, oleh karena itu,
menenggelamkan diri dalam urusan romantisme cinta dengan segera,
terkesampingkan. Ditambah lagi, saat itu Meteor Garden sedang tayang dan naik
daun, aku menjadi gila karena Dao Ming
Se.
Kejadian
yang menyebabkan aku menetapkan resolusiku untuk mrnjadi fangirlingnya Jiang
Chen sebagai tujuan hidupku terjadi setengah tahun setelahnya. Pada malam
sebelum ujian, ditengah-tengah ibuku memukul dan mengomeliku “Bagaimana bisa
aku membesarkan anak yang sangat pelupa, kepala-babi sepertimu?”, aku dengan
cepat bergegas pergi ke toko buku Xue You (Teman Belajar), untuk membeli pensil
2B yang kubutuhkan untuk menjawab soal di masa ujianku esok hari.
Walaupun
toko Xue You menyatakan itu adalah toko
buku, namun disini menjual macam-macam benda –mulai dari buku, alat tulis
menulis, stiker, dan mainan, pada dasarnya apapun yang sedang ngetrend dikalangan anak sekolah, akan
tersedia. Suatu hari setelah melewati hidup yang kacau di dunia luar, aku
mengetahui bahwa dua kata toko “Xue You” adalah nama yang biasa dipakai semua
non-franchise toko alat tulis dan toko buku di kota. Aku tidak tahu apakah
karena nama ini yang menyebabkan anak-anak sekolahan merasa faimiliar atau
merasakan kekerabatan seperti bertemu teman, atau mungkin karena semua orang
merasa malas untuk menemukan sebuah nama. Namun, jika suatu saat aku memutuskan
untuk kembali ke masyarakat, aku akan membuka toko buku Xue You, tentu saja
toko yang akan menjual buku dan alat tulis, namun juga akan menjadi pusat para siswa
membayar dan mendapatkan teman, terutama siswa perempuan, meski nantinya ada
permintaan special, kami juga bisa melayani permintaan siswa lelaki dengan
harga tinggi.
Aku
masuk ke toko Xue You dan mengambil sekumpulan pensil 2B. Pada saat itu memakai
computer untuk menandai kertas baru saja menjadi trend. Ku pikir pensil 2B itu
akan dihargai harga tinggi dimasa depan dan aku harus punya stok. Akan tetapi
yang terjadi malah sebaliknya. Sementara harga pensil memang naik 10 sen, ada
banyak pensil yang dibuat khusus untuk menghitamkan OAS mereka, aku masih saja
dengan menyedihkan menajamkan pensil dengan pisau. Nabi memang semuanya adalah
orang-orang kesepian.
Ketika
aku menggenggam sekumpulan pensil dan mau membayar, Jiang Chen masuk melalui pintu, mungkin karena
mental kedewasaan tidak ingin terlihat -yang aneh, tanpa sadar aku mengambil
buku dari rak, memakainya untuk menghalangi wajahku selama aku memperhatikannya
diam-diam.
Jiing
Chen saat itu langsung berjalan menuju ke kasir. Si bos yang seorang wanita iu
melihatnya, dan dengan tersenyum membawakan setumpuk buku dari bawah meja.
“Koleksi Empat novel Cina klasik edisi yang di sulam” yang kamu pesan, aku
secara khusus pergi ke kota untuk mendapatkan stok buku-buku itu.
Jiang
Chen tersenyum dan berkata “terimakasih Nyonya Bos”.
Pada
saat itu uang sekolah kami adalah 200 dolar per semester, Jiang Chen memakai
uang selama dua tahun atau empat semester untuk membeli buku-buku yang hanya akan
membusuk tersebut, jika dia punya lebih banyak uang, dia mungkin akan….
Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan, aku belum pernah
punya begitu banyak uang, jadi aku sangat tidak paham. Sebelumnya, seseorang
memberitahuku candaan ini –seorang reporter berita bertanya kepada seorang
wanita tuayang tinggal jauh di pedalaman gunung, “apa yang akan ibu lakukan
jika saya memberikan ibu 100000dolar?” wanita tua itu menjawab, “makan (kue)
sayuran kukus setiap hari” reporter itu bertanya lagi “jika saya memberikan ibu
200000 dolar?” wanita itu menjawab “aku akan makan daging kukus setiap hari”
reporter itu bertanya untuk terakhir kalinya ““jika saya memberikan ibu 1000000
dolar?” wanita itu menjawab ” makan sayuran kukus di satu tanganku dan aku akan
makan daging kukus di tanganku yang lain setiap hari” sesungguhnya aku sangat
berempati dengan keadaan si wanita tua.
“kaka…kaka…”
Seorang anak yang entah muncul darimana memanggilnya dan menarik celana panjang
Jiang chen”.
Jiang
Chen jongkok dan mengusap kepalanya. Sambil mngerjap dia bertanya, “teman kecil,
kamu laki-laki atau perempuan?”
Anak
kecil itu mnghisap jempol kecilnya dan dengan serius menjawab “Laki-laki”.
Jiang
Chen tidak puas dengan jawabannya “aku tidak suka laki-laki”.
Dia
bersiap untuk berdiri sambil mengatakannya, anak kecil itu dengan cepat menarik
baju Jiang Chen, “aku perempuan”.
Jiang
Chen tertawa “jadi kamu perempuan ternyata. Baiklah, jadi untuk apa kamu
memanggil kakak adik kecil?”
Anak
kecil itu mengeluarkan satu kotak pensil warna dan note kusut seharga 10 sen
dari saku besar overall nya, mengangkat tinggi mereka untuk menjelaskan dia
tidak bisa mencapai kasir. “aku membeli ini.”
Jiang
Chen membawa kotak tersebut dan berdiri melewati nyonya bos. “Bos, ini berapa?”
“10
dolar”.
Jiang Chen mengeluarkan 10 dolar. Setelah
membayar , kemudian dia berjongkok lagi untuk menyerahkannya pada anak kecil
itu. Dia mengusap kepalanya dan berkata “ini, pensil warnamu adik kecil”.
Anak
kecil itu tertawa kegirangan ketika dia mengambil kotak itu “terima kasih kaka”
Setelah
mengucucapkan “sama-sama”, Jiang Chen kali ini benar-benar berdiri. Anak kecil
itu sekali lagi menarik celana bagian bawahnya Jiang Chen, jadi dia berjongkok
lagi. Anak kecil tersebut canggung membuka kotak pensil warna itu dan memilih
satu warna yaitu Pink dan berkata “menggambar itu sangat indah”
“kakak
tidak tahu cara menggambar” Jiang Chen berkata sambil tersenyum “simpanlah ini
untuk kau menggambar”.
Anak
kecil itu menggelengkan kepala dan menunjuk pada buku-buku ditangan Jiang Chen
dan berkata “ Tidak, aku yang akan menggambar”
Jiang
Chen menatap heran sesaat kemudian dia tersenyum. Dia mengeluarkan “Romance of the Three Kingdoms” dan
meminjamkannnya ke anak tersebut.
Anak kecil itu memegang buku dan duduk dilantai, menundukkan
kepala untuk menggambar sesuatu didalamnya dengan sangat serius, sambil terus
berkomat-kamit ngobrol sendiri. Akhirnya dia bertepuk tangan dan berkata
“Selesai”.
Aku
mengendap-ngendap dan menjulurkan kepala dari buku untuk mengintip gambar apa
itu, desainnya seperti gmbar kelinci jika dilihat sekilas, kemudian seperti anjing
jika dilihat semakin dekat, namun gambarnya tenang dan luwes seperti harimau.
Jiang
Chen mengambil kembali bukunya, melihat kedalamnya dengan serius, dan dengan
susngguh-sungguh berkata “gambar anjingnya sangat cantik, terimakasih”.
Anak kecil itu mengerjap kebingungan dan
berkata “itu gambar kucing”.
Jiang
Chen melihat gambarnya lagi, kemudian tertawa”Oh jadi ini adalah gambar kucing”
Aku
menatap lesung pipinya, sepertinya lesung itu semakin dalam entah bagimana, aku
benar-benar ingin pergi kesana dan menyentuhnya.
Yang
biasa di sebut “terpesona oleh keindahan”, yang biasa disebut “terbunuh dalam
sekejap”, Li bi Hua (penulis terkenal cina) berkata “pada saat itu, terpesona
karena keindahan adalah semuanya karena seseorang yang telah melihat sebagian
kecil dari dunia. Namun, hal ini tidak berlaku untukku, suatu saat nanti aku
akan terus mengulangi membubuhi 2 kejadian indah ini di ingatanku, sama halnya
seperti editing pasca produksi sebuah film dan televisi. Aku akan mengatur
angle setiap kejadian, mneambahkan berbagai efek cahaya dan bayangan, lapisan
dan efek-efek lain.
“berapa
lama lagi kamu akan terus berjongkok di pintu masuk rumah sakit?”
“Ah?”
Kehebatan project editing pasca-produksi ku telah di interupsi, aku sedikit
linglung sebentar. Memandang ke arah Jiang Chen yang entah bagaimana menatapku dengan
wajah yang tidak sabaran kemudian, mengulang lagi jawabanku “Ah?”
“Bangun”.
Dia meregangkan tangannya dan dengan sekali tarikan mengangkatku dari lantai,
menyeretku ke ambulan. Sebenarnya aku benar-benar ingin bertanya padanya apakah
dia lupa untuk melepaskan tanganku, atau apakah sehatannya buruk akhir-akhir
ini, tangannya sangat berkeringat….
Ketika
kami sampai di ambulan, si supir dan ibuku dengan serempak menunjukkan ekspresi
muka seperti mereka tengah memergoki kami tengah tidur bersama. Aku dengan
pasrah, memutar mata dan melihat Jiang Chen sedikit dengan penuh kecemasan.
Sedangkan Jiang Chen sepertinya sama sekali tidak terpengaruh dan duduk
disampingku “Li kecil, ayo jalan”.
Setelah
itu dia menoleh kearah ibuku dan berkata “Bibi, aku sudah menghubungi kolegaku
di bagian ortopedik, ketika kita sampai kita akan melakukan pemeriksaan X-Ray
lagi dan jika tidak ada masalah, kami akan melakukan operasi nanti sore. Jadi
tidak usah khawatir, kolegaku merupakan ahli bedah ortopedik terbaik di
industry ini”.
Ibuku
langsung mengangguk tak henti-hentinya, dan memberikan senyuman keibuannya.
“kami benar-benar merepotkanmu Jiang Chen”.
“Ini
tiak merepotkan Bibi, ini adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya saya
lakukan.” Jiang Chen juga tersenyum seperti anak lelaki yang berbakti.
“Sangat
berisik!” Ayahku tiba-tiba berbicara dengan suara keras.
Semenjak
Ayahku di beritahu bahwa dia akan dipindah rumah sakitkan dengan bantuan Jiang
Chen, dia sungguh marah. Kemudian, pada saat ibuku pergi, dia memberiku isyarat
dengan bhasa lidah, tidak ada hal lain selain satu kata –tulang punggung! Dia
seperti itu semenjak Ibu Jiang Chen memperlakukanku dengan buruk dulu, aku
harusnya tetap menjauh, tetap menjauh darinya. Hal yang tebaik adalah bahwa aku
meludahinya tepat dimuka ketika aku melihatnya mengungkapkan rasa terhinaku,
namun sekarang aku hanya akan pergi sebatas menerima kebaikan hatinya.
Tiga
tahun yang lalu aku lulus dari fakultas seni universitas X. Jiang Chen mengejar
kedua gelarnya langsung Sarjana dan Pasca Sarjana di sekolah medis dan
menyelesaikan kuliah selama tujuh tahun, namun karena pencapaiannya sangat
baik, Jiang Chen sudah mulai magang sebagai intern di berbagai jurusan utama di
cabang rumah sakit Universits X pada tahun ke empat.
Saat
itu Jiang Chen sangat baik padaku, pada saat aku menerima srtifikat kelulusanku
dia bilang ingin menikah denganku. Tentu saja hal ini terjadi karena sebagian
besar aku selalu membuat pemalsuan hal tak berdasar mengenai –sekelompok yang
biasa disebut golongan masyarakat elit untuk menakut-nakutinya.
Contohnya
, manager yang membantuku mebukakan pintu setiap hari (yang sebenarnya adalah
pengawal keamanan kantor, untukku yang selalu lupa membawa kartu masuk untuk
masuk dan keluar); Direktur yang selalu membawakanku bunga (kejadian sebenarnya
adalah orang yang menjual bunga dibawah –ketika aku kerja lembur sampai malam,
aku selalu menghampirinya membuang bunga yang rusak dan tidak bisa dijual sambil
berjalan pulang, dengan hal yang kulakukan secara sungguh-sunguh, dia akan
selalu memberiku bunga); klayen yang mentraktirku menonoton film (yang mana
adalah memang klayen, dan aku memang menonton film, namun hanya karena aku
harus menulis laporan proposal publisitas untuk mereka setelah menontonnya)…..
sebuah kreasi seni dibutuhkan dari kejadian aslinya.
Sekali
Jiang Chen mendengar aku sangat populer, dia menjadi kahwatir, dia mengatakan
nilai dari sarapan yang dia kirimkan selama empat tahun di universitas harusnya
tidak sia-sia, lebih baik kita segera menikah.
Aku
langsung setuju tanpa rasa malu sedikitpun. Pemikiranku sangatlah sederhana,
fakultas kedokteras di universitas X merupakan peringkat no. 1 di seluruh kota,
dan Jiang Chen mendapatkan beasiswa unggulan setiap tahun, jadi pada dasarnya
tak harus bimbang karena di penuhi oleh potensi yang hebat. Aku harus
mendapatkannya sesegera mungkin, begitu dia menjadi keping-biru (stabil secara
materi di naungan perusahaan terkenal), aku harus menjadi istri yang siap
menderita dari godaan-godaan secara bersama, jika dia berani menceraikanku, aku
akan berani untuk meminta setengah dari asset yang dimilikiya.
Tentu
saja, pemikiranku yang sederhana sebenarnya adalah aku sangat mencintainya, aku
takut dia akan direnggut dariku oleh seseorang. Suatu hari aku pernah
berkunjung ke rumahsakit tempat dia magang untuk melihatnya, dan dalam satu jam
aku melihat tiga pasien memberikan kartu nama mereka, salah satu dari merka bahkan
adalah seorang laki-laki. Masyarakat disini sangat menakutkan, dan karisma
Jiang Chen sepertinya memprngaruhi wanita dan laki-laki.
Pada
saat itu di masalalu, aku hampir teracuni sepenuhnya oleh televisi dan drama,
ku pikir cintaku tidak terkalahkan. Tapi ibu Jiang Chen membuatku sadar,
gangguan pertama kalinya kisah cintaku, benar-benar mengubah kesenangan.
Pada
suatu sore yang cerah, ibu Jiang Chen mengunjungi ibuku. Status ibuku di rumah
adalah, sebagai ibu rumah tangga professional, yang sudah seperti keturunan Wu
Ze Tian (satu-satunya pemimpin kerajaan wanita di Cina), namun pertama kalinya
aku melihat ibuku yang pemberani menjadi
tidak tahu apa yang harus dilakukan, menjadi begitu penurut tanpa dia sadari. Sebenarnya,
Ibunya Jiang Chen tidak mengatakan ucapan yang tidak pantas, dan juga dia tidak
mengeluarkan cek dan berkata, “tinggalkan anakku, katakan berapa banyak uang
yang kau mau.” Dia dengan tenang membicarakan adat istiadat pernikahanku, namun
itu hanya sikap merendahkan diri, dia merendahkan diri sendiri saat berbicara
dengan ibuku, dia begitu mendominasi menyebabkan ibuku dipenuhi keragu-raguan.
Memperhatikan ibuku dari samping saat dia menggosok tangannya, berkata, “kami
akan melakukan yang terbaik, kami akan bekerja sama”. Hatiku pedih dan sakit, seperti
tengah direndam dalam cuka kuno.
Kemudian
ibu Jiang Chen mencariku untuk bicara empat mata. Dia memberiku beberapa lembar
kertas dan memberitahuku untuk melihatnya baik-baik, dan jika setuju silahkan
tanda tangani. Kertas itu ternyata
adalah perjanjian pranikah, yang isinya secara kasar adalah suatu pernyataan
bahwa aku menikahi Jiang Chen bukan karena harta keluarganya, dan jika kami
bercerai aku tidak berhak mendapatkan harta Jiang Chen sedikitpun, dll.
Pada
saat itu, aku sangat kebingungan. Ayahnya hanya seorang walikota kota kecil,
berapa banyak uang yang mungkin dia miliki? Apakah ini benar-benar diperlukan
untuk bersikap seperti drama di televisi?
Aku
sudah lupa apa yang kupikirkan saat itu, mungkin masalah harga diri seperti
mencintai dan menghargai diri sendiri, namun kemudian aku tidak bisa berpikir
jernih, jadi aku pergi bertanya ke ayahku. Yang bisa ku katakan hal itu adalah
“kesalahan bersejarah”.
Ayah
Jiang Chen adalah supervisor tidak langsung ayahku. Ayahku sudah merasa seperti
pengecut, di gertak dan di tekan disekitarnya oleh para supervisor ini dalam
hari-hari biasa, namun apabila anggota keluarganya di gertak oleh keluarga
supervisor, ini adalah masalah yang dia tidak bisa tahan. Oleh karena itu
ayahku mengatakan jika aku sampai berani menandatanginya, dia tidak akan
mengakuiku sebagai anak.
Hingga
aku melakukan hal bodoh lain, yang mana memberikan surat perjanjian pranikah
tersebut kepada Jiang Chen supaya dia mengembalikannya kepada ibunya. Jiang
Chen sangat terganggu dan marah karenanya, dan pulang ubtuk bertengkar dengan
ibunya. Setelah itu, ibu Jiang Chen meneleponku, yang intinya, jika aku berani
menikahi Jiang Chen, dia lebih baik mati di pernikahanku. Saat itu aku punya
sedikit pengalaman hidup bermasyarakat, jadi aku dengan seketika sakit hati
olehnya. Aku benar-benar tidak memikirkan cara lain untuk menyelesaikan masalah
ini, contohnya seperti tidak perlu mengadakan pesta pernikahan, jadi dia tidak
punya tempat untuk mati….
Masalah
tentang pernikahan oleh karena itu tidak terselesaikan dibiarkan seperti itu,
setelah kejadian itu aku tidak tahu kenapa, mungkin karena pekerjaanku mulai
sibuk, aku sibuk di omeli oleh manajerku, sedangkan Jiang Chen sibuk kuliah dan
menjadi intern, ditambah lagi, sepertinya aku mulai menahan dendam di hatiku,
aku dengan terus menerus melakukan hal bodoh dan mengganggunya, dan akan
memancingnya bahkan untuk urusan sepele dan ngawur. Aku menguji cinta kami
degan menguji kesabarannya.
Ketika
aku mengatakan “Jiang Chen, kita putus saja”.
Dia
terdiam beberapa saat sebelum berkata, “jangan sampai kamu menyesal”. Kemudian
dia membanting pintu dengan keras dan pergi.
Aku
pikir bahwa untuk dua orang yang saling mencintai satu sama lain untuk bisa
putus, paling tidak, ada kejadian utama dengan skala besar, seperti, pesta
ketiga, seperti tiba-tiba ditemukan bahwa aku adalah anak haram dari ayahnya;
seperti, aku atau dia terkena sakit parah…. Namun kenyataannya, hal itu tidak
dibutuhkan. Rasa gelisah, kesibukan, dan rasa lelah sudah cukup untuk jadi alasan.
Kami
berpisah seperti itu. Hal itu cukup mencengangkan untuk dua orangyang asalnya
setuju untuk bersama selamanya, sekarang benar-benar tidak ada kaitannya satu
sama lain dalam sekejap. Untuk waktu yang cukup lama, aku sempat mengira bahwa
mungkin ada orang yang menekan tombol fas-forward untuk hubungan kita berdua,
menyebabkan aku untuk mengilangkan bagian perpisahan yang tak terelakkan.
Ayahku
yang paling bahagia mendengar aku putus dari Jiang Chen. Dia merasa seperti ini
adalah satu kemenangan yang dia miliki atas konfrontasinya dengan kelas sosial para
supervisor. Namun setelahb itu, ketidakmampuanku secara konstan dalam
mendapatkan pacar menyebakan buah dari kemenangan kadang-kadang bisa pahit
juga.
Jadi
kupikir perasaan ayahku terhadap Jiang Chen cukup rumit. Adakalanya, ayahku
berharap akan ada seseorang yang datang kepadaku yang menyedihkan ini, namun
dilain pihak, ayahku merasa lebih baik aku mejadi orangyang menyedihkan
daripada memberikanku kepada Jiang Chen. Ayahku mungkin mengalami konflik batin, yang
mana kapitalis hadir saat keadaan yang paling menyedihkan, disebutkan dalam
buku politik SMA yang lebih baik menumpahkan susu ke sungai daripada
memebrikannya ke orang miskin. Apa yang tidak aku katakan pada ayahku adalah,
orang itu bahkan tidak berminat membelinya darimu.
To be Continue....
Please don't reupload or copy this translation...
