Minggu, 07 Oktober 2018

Novel A Love So Beautiful Chapter 2

CHAPTER 2

Alooohaaaa....
I'm back dengan translate an chapter 2 untuk novel a love so beautiful.......
seneng juga bisa mencoba translate novel ini, sebenarnya belum baca semua chapter juga jadi aku membacanya pas aku sedang menterjemahkan. semoga bisa tetep istikomah dan berlanjut sampai chapter terakhir. 
happy reading .....





Musim panas berakhir, kami memasuki kelas 3 SMP yang sibuk. Aku selalu memprioritaskan masalah yang paling penting diatas segalanya, oleh karena itu, menenggelamkan diri dalam urusan romantisme cinta dengan segera, terkesampingkan. Ditambah lagi, saat itu Meteor Garden sedang tayang dan naik daun,  aku menjadi gila karena Dao Ming Se.
Kejadian yang menyebabkan aku menetapkan resolusiku untuk mrnjadi fangirlingnya Jiang Chen sebagai tujuan hidupku terjadi setengah tahun setelahnya. Pada malam sebelum ujian, ditengah-tengah ibuku memukul dan mengomeliku “Bagaimana bisa aku membesarkan anak yang sangat pelupa, kepala-babi sepertimu?”, aku dengan cepat bergegas pergi ke toko buku Xue You (Teman Belajar), untuk membeli pensil 2B yang kubutuhkan untuk menjawab soal di masa ujianku esok hari.
Walaupun toko  Xue You menyatakan itu adalah toko buku, namun disini menjual macam-macam benda –mulai dari buku, alat tulis menulis, stiker, dan mainan, pada dasarnya apapun yang sedang ngetrend dikalangan anak sekolah, akan tersedia. Suatu hari setelah melewati hidup yang kacau di dunia luar, aku mengetahui bahwa dua kata toko “Xue You” adalah nama yang biasa dipakai semua non-franchise toko alat tulis dan toko buku di kota. Aku tidak tahu apakah karena nama ini yang menyebabkan anak-anak sekolahan merasa faimiliar atau merasakan kekerabatan seperti bertemu teman, atau mungkin karena semua orang merasa malas untuk menemukan sebuah nama. Namun, jika suatu saat aku memutuskan untuk kembali ke masyarakat, aku akan membuka toko buku Xue You, tentu saja toko yang akan menjual buku dan alat tulis, namun juga akan menjadi pusat para siswa membayar dan mendapatkan teman, terutama siswa perempuan, meski nantinya ada permintaan special, kami juga bisa melayani permintaan siswa lelaki dengan harga tinggi.
Aku masuk ke toko Xue You dan mengambil sekumpulan pensil 2B. Pada saat itu memakai computer untuk menandai kertas baru saja menjadi trend. Ku pikir pensil 2B itu akan dihargai harga tinggi dimasa depan dan aku harus punya stok. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Sementara harga pensil memang naik 10 sen, ada banyak pensil yang dibuat khusus untuk menghitamkan OAS mereka, aku masih saja dengan menyedihkan menajamkan pensil dengan pisau. Nabi memang semuanya adalah orang-orang kesepian.
Ketika aku menggenggam sekumpulan pensil dan mau membayar,  Jiang Chen masuk melalui pintu, mungkin karena mental kedewasaan tidak ingin terlihat -yang aneh, tanpa sadar aku mengambil buku dari rak, memakainya untuk menghalangi wajahku selama aku memperhatikannya diam-diam.
Jiing Chen saat itu langsung berjalan menuju ke kasir. Si bos yang seorang wanita iu melihatnya, dan dengan tersenyum membawakan setumpuk buku dari bawah meja. “Koleksi Empat novel Cina klasik edisi yang di sulam” yang kamu pesan, aku secara khusus pergi ke kota untuk mendapatkan stok buku-buku itu.
Jiang Chen tersenyum dan berkata “terimakasih Nyonya Bos”.
Pada saat itu uang sekolah kami adalah 200 dolar per semester, Jiang Chen memakai uang selama dua tahun atau empat semester untuk membeli buku-buku yang hanya akan membusuk tersebut, jika dia punya lebih banyak uang, dia mungkin akan…. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan, aku belum pernah punya begitu banyak uang, jadi aku sangat tidak paham. Sebelumnya, seseorang memberitahuku candaan ini –seorang reporter berita bertanya kepada seorang wanita tuayang tinggal jauh di pedalaman gunung, “apa yang akan ibu lakukan jika saya memberikan ibu 100000dolar?” wanita tua itu menjawab, “makan (kue) sayuran kukus setiap hari” reporter itu bertanya lagi “jika saya memberikan ibu 200000 dolar?” wanita itu menjawab “aku akan makan daging kukus setiap hari” reporter itu bertanya untuk terakhir kalinya ““jika saya memberikan ibu 1000000 dolar?” wanita itu menjawab ” makan sayuran kukus di satu tanganku dan aku akan makan daging kukus di tanganku yang lain setiap hari” sesungguhnya aku sangat berempati dengan keadaan si wanita tua.
“kaka…kaka…” Seorang anak yang entah muncul darimana memanggilnya dan menarik celana panjang Jiang chen”.
Jiang Chen jongkok dan mengusap kepalanya. Sambil mngerjap dia bertanya, “teman kecil, kamu laki-laki atau perempuan?”
Anak kecil itu mnghisap jempol kecilnya dan dengan serius menjawab “Laki-laki”.
Jiang Chen tidak puas dengan jawabannya “aku tidak suka laki-laki”.
Dia bersiap untuk berdiri sambil mengatakannya, anak kecil itu dengan cepat menarik baju Jiang Chen, “aku perempuan”.
Jiang Chen tertawa “jadi kamu perempuan ternyata. Baiklah, jadi untuk apa kamu memanggil kakak adik kecil?”
Anak kecil itu mengeluarkan satu kotak pensil warna dan note kusut seharga 10 sen dari saku besar overall nya, mengangkat tinggi mereka untuk menjelaskan dia tidak bisa mencapai kasir. “aku membeli ini.”
Jiang Chen membawa kotak tersebut dan berdiri melewati nyonya bos. “Bos, ini berapa?”
“10 dolar”.
 Jiang Chen mengeluarkan 10 dolar. Setelah membayar , kemudian dia berjongkok lagi untuk menyerahkannya pada anak kecil itu. Dia mengusap kepalanya dan berkata “ini, pensil warnamu adik kecil”.
Anak kecil itu tertawa kegirangan ketika dia mengambil kotak itu “terima kasih kaka”
Setelah mengucucapkan “sama-sama”, Jiang Chen kali ini benar-benar berdiri. Anak kecil itu sekali lagi menarik celana bagian bawahnya Jiang Chen, jadi dia berjongkok lagi. Anak kecil tersebut canggung membuka kotak pensil warna itu dan memilih satu warna yaitu Pink dan berkata “menggambar itu sangat indah”
“kakak tidak tahu cara menggambar” Jiang Chen berkata sambil tersenyum “simpanlah ini untuk kau menggambar”.
Anak kecil itu menggelengkan kepala dan menunjuk pada buku-buku ditangan Jiang Chen dan berkata “ Tidak, aku yang akan menggambar”
Jiang Chen menatap heran sesaat kemudian dia tersenyum. Dia mengeluarkan “Romance of the Three Kingdoms” dan meminjamkannnya ke anak tersebut.
Anak kecil itu memegang buku dan duduk dilantai, menundukkan kepala untuk menggambar sesuatu didalamnya dengan sangat serius, sambil terus berkomat-kamit ngobrol sendiri. Akhirnya dia bertepuk tangan dan berkata “Selesai”.
Aku mengendap-ngendap dan menjulurkan kepala dari buku untuk mengintip gambar apa itu, desainnya seperti gmbar kelinci jika dilihat sekilas, kemudian seperti anjing jika dilihat semakin dekat, namun gambarnya tenang dan luwes seperti harimau.
Jiang Chen mengambil kembali bukunya, melihat kedalamnya dengan serius, dan dengan susngguh-sungguh berkata “gambar anjingnya sangat cantik, terimakasih”.
 Anak kecil itu mengerjap kebingungan dan berkata “itu gambar kucing”.
Jiang Chen melihat gambarnya lagi, kemudian tertawa”Oh jadi ini adalah gambar kucing”
Aku menatap lesung pipinya, sepertinya lesung itu semakin dalam entah bagimana, aku benar-benar ingin pergi kesana dan menyentuhnya.
Yang biasa di sebut “terpesona oleh keindahan”, yang biasa disebut “terbunuh dalam sekejap”, Li bi Hua (penulis terkenal cina) berkata “pada saat itu, terpesona karena keindahan adalah semuanya karena seseorang yang telah melihat sebagian kecil dari dunia. Namun, hal ini tidak berlaku untukku, suatu saat nanti aku akan terus mengulangi membubuhi 2 kejadian indah ini di ingatanku, sama halnya seperti editing pasca produksi sebuah film dan televisi. Aku akan mengatur angle setiap kejadian, mneambahkan berbagai efek cahaya dan bayangan, lapisan dan efek-efek lain.
“berapa lama lagi kamu akan terus berjongkok di pintu masuk rumah sakit?”
“Ah?” Kehebatan project editing pasca-produksi ku telah di interupsi, aku sedikit linglung sebentar. Memandang ke arah Jiang Chen yang entah bagaimana menatapku dengan wajah yang tidak sabaran kemudian, mengulang lagi jawabanku “Ah?”
“Bangun”. Dia meregangkan tangannya dan dengan sekali tarikan mengangkatku dari lantai, menyeretku ke ambulan. Sebenarnya aku benar-benar ingin bertanya padanya apakah dia lupa untuk melepaskan tanganku, atau apakah sehatannya buruk akhir-akhir ini, tangannya sangat berkeringat….
Ketika kami sampai di ambulan, si supir dan ibuku dengan serempak menunjukkan ekspresi muka seperti mereka tengah memergoki kami tengah tidur bersama. Aku dengan pasrah, memutar mata dan melihat Jiang Chen sedikit dengan penuh kecemasan. Sedangkan Jiang Chen sepertinya sama sekali tidak terpengaruh dan duduk disampingku “Li kecil, ayo jalan”.
Setelah itu dia menoleh kearah ibuku dan berkata “Bibi, aku sudah menghubungi kolegaku di bagian ortopedik, ketika kita sampai kita akan melakukan pemeriksaan X-Ray lagi dan jika tidak ada masalah, kami akan melakukan operasi nanti sore. Jadi tidak usah khawatir, kolegaku merupakan ahli bedah ortopedik terbaik di industry ini”.
Ibuku langsung mengangguk tak henti-hentinya, dan memberikan senyuman keibuannya. “kami benar-benar merepotkanmu Jiang Chen”.
“Ini tiak merepotkan Bibi, ini adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya saya lakukan.” Jiang Chen juga tersenyum seperti anak lelaki yang berbakti.
“Sangat berisik!” Ayahku tiba-tiba berbicara dengan suara keras.
Semenjak Ayahku di beritahu bahwa dia akan dipindah rumah sakitkan dengan bantuan Jiang Chen, dia sungguh marah. Kemudian, pada saat ibuku pergi, dia memberiku isyarat dengan bhasa lidah, tidak ada hal lain selain satu kata –tulang punggung! Dia seperti itu semenjak Ibu Jiang Chen memperlakukanku dengan buruk dulu, aku harusnya tetap menjauh, tetap menjauh darinya. Hal yang tebaik adalah bahwa aku meludahinya tepat dimuka ketika aku melihatnya mengungkapkan rasa terhinaku, namun sekarang aku hanya akan pergi sebatas menerima kebaikan hatinya.
Tiga tahun yang lalu aku lulus dari fakultas seni universitas X. Jiang Chen mengejar kedua gelarnya langsung Sarjana dan Pasca Sarjana di sekolah medis dan menyelesaikan kuliah selama tujuh tahun, namun karena pencapaiannya sangat baik, Jiang Chen sudah mulai magang sebagai intern di berbagai jurusan utama di cabang rumah sakit Universits X pada tahun ke empat.
Saat itu Jiang Chen sangat baik padaku, pada saat aku menerima srtifikat kelulusanku dia bilang ingin menikah denganku. Tentu saja hal ini terjadi karena sebagian besar aku selalu membuat pemalsuan hal tak berdasar mengenai –sekelompok yang biasa disebut golongan masyarakat elit untuk  menakut-nakutinya.
Contohnya , manager yang membantuku mebukakan pintu setiap hari (yang sebenarnya adalah pengawal keamanan kantor, untukku yang selalu lupa membawa kartu masuk untuk masuk dan keluar); Direktur yang selalu membawakanku bunga (kejadian sebenarnya adalah orang yang menjual bunga dibawah –ketika aku kerja lembur sampai malam, aku selalu menghampirinya membuang bunga yang rusak dan tidak bisa dijual sambil berjalan pulang, dengan hal yang kulakukan secara sungguh-sunguh, dia akan selalu memberiku bunga); klayen yang mentraktirku menonoton film (yang mana adalah memang klayen, dan aku memang menonton film, namun hanya karena aku harus menulis laporan proposal publisitas untuk mereka setelah menontonnya)….. sebuah kreasi seni dibutuhkan dari kejadian aslinya.
Sekali Jiang Chen mendengar aku sangat populer, dia menjadi kahwatir, dia mengatakan nilai dari sarapan yang dia kirimkan selama empat tahun di universitas harusnya tidak sia-sia, lebih baik kita segera menikah.
Aku langsung setuju tanpa rasa malu sedikitpun. Pemikiranku sangatlah sederhana, fakultas kedokteras di universitas X merupakan peringkat no. 1 di seluruh kota, dan Jiang Chen mendapatkan beasiswa unggulan setiap tahun, jadi pada dasarnya tak harus bimbang karena di penuhi oleh potensi yang hebat. Aku harus mendapatkannya sesegera mungkin, begitu dia menjadi keping-biru (stabil secara materi di naungan perusahaan terkenal), aku harus menjadi istri yang siap menderita dari godaan-godaan secara bersama, jika dia berani menceraikanku, aku akan berani untuk meminta setengah dari asset yang dimilikiya.
Tentu saja, pemikiranku yang sederhana sebenarnya adalah aku sangat mencintainya, aku takut dia akan direnggut dariku oleh seseorang. Suatu hari aku pernah berkunjung ke rumahsakit tempat dia magang untuk melihatnya, dan dalam satu jam aku melihat tiga pasien memberikan kartu nama mereka, salah satu dari merka bahkan adalah seorang laki-laki. Masyarakat disini sangat menakutkan, dan karisma Jiang Chen sepertinya memprngaruhi wanita dan laki-laki.
Pada saat itu di masalalu, aku hampir teracuni sepenuhnya oleh televisi dan drama, ku pikir cintaku tidak terkalahkan. Tapi ibu Jiang Chen membuatku sadar, gangguan pertama kalinya kisah cintaku, benar-benar mengubah kesenangan.
Pada suatu sore yang cerah, ibu Jiang Chen mengunjungi ibuku. Status ibuku di rumah adalah, sebagai ibu rumah tangga professional, yang sudah seperti keturunan Wu Ze Tian (satu-satunya pemimpin kerajaan wanita di Cina), namun pertama kalinya aku melihat ibuku yang pemberani  menjadi tidak tahu apa yang harus dilakukan, menjadi begitu penurut tanpa dia sadari. Sebenarnya, Ibunya Jiang Chen tidak mengatakan ucapan yang tidak pantas, dan juga dia tidak mengeluarkan cek dan berkata, “tinggalkan anakku, katakan berapa banyak uang yang kau mau.” Dia dengan tenang membicarakan adat istiadat pernikahanku, namun itu hanya sikap merendahkan diri, dia merendahkan diri sendiri saat berbicara dengan ibuku, dia begitu mendominasi menyebabkan ibuku dipenuhi keragu-raguan. Memperhatikan ibuku dari samping saat dia menggosok tangannya, berkata, “kami akan melakukan yang terbaik, kami akan bekerja sama”. Hatiku pedih dan sakit, seperti tengah direndam dalam cuka kuno.
Kemudian ibu Jiang Chen mencariku untuk bicara empat mata. Dia memberiku beberapa lembar kertas dan memberitahuku untuk melihatnya baik-baik, dan jika setuju silahkan tanda tangani. Kertas itu  ternyata adalah perjanjian pranikah, yang isinya secara kasar adalah suatu pernyataan bahwa aku menikahi Jiang Chen bukan karena harta keluarganya, dan jika kami bercerai aku tidak berhak mendapatkan harta Jiang Chen sedikitpun, dll.
Pada saat itu, aku sangat kebingungan. Ayahnya hanya seorang walikota kota kecil, berapa banyak uang yang mungkin dia miliki? Apakah ini benar-benar diperlukan untuk bersikap seperti drama di televisi?
Aku sudah lupa apa yang kupikirkan saat itu, mungkin masalah harga diri seperti mencintai dan menghargai diri sendiri, namun kemudian aku tidak bisa berpikir jernih, jadi aku pergi bertanya ke ayahku. Yang bisa ku katakan hal itu adalah “kesalahan bersejarah”.
Ayah Jiang Chen adalah supervisor tidak langsung ayahku. Ayahku sudah merasa seperti pengecut, di gertak dan di tekan disekitarnya oleh para supervisor ini dalam hari-hari biasa, namun apabila anggota keluarganya di gertak oleh keluarga supervisor, ini adalah masalah yang dia tidak bisa tahan. Oleh karena itu ayahku mengatakan jika aku sampai berani menandatanginya, dia tidak akan mengakuiku sebagai anak.
Hingga aku melakukan hal bodoh lain, yang mana memberikan surat perjanjian pranikah tersebut kepada Jiang Chen supaya dia mengembalikannya kepada ibunya. Jiang Chen sangat terganggu dan marah karenanya, dan pulang ubtuk bertengkar dengan ibunya. Setelah itu, ibu Jiang Chen meneleponku, yang intinya, jika aku berani menikahi Jiang Chen, dia lebih baik mati di pernikahanku. Saat itu aku punya sedikit pengalaman hidup bermasyarakat, jadi aku dengan seketika sakit hati olehnya. Aku benar-benar tidak memikirkan cara lain untuk menyelesaikan masalah ini, contohnya seperti tidak perlu mengadakan pesta pernikahan, jadi dia tidak punya tempat untuk mati….
Masalah tentang pernikahan oleh karena itu tidak terselesaikan dibiarkan seperti itu, setelah kejadian itu aku tidak tahu kenapa, mungkin karena pekerjaanku mulai sibuk, aku sibuk di omeli oleh manajerku, sedangkan Jiang Chen sibuk kuliah dan menjadi intern, ditambah lagi, sepertinya aku mulai menahan dendam di hatiku, aku dengan terus menerus melakukan hal bodoh dan mengganggunya, dan akan memancingnya bahkan untuk urusan sepele dan ngawur. Aku menguji cinta kami degan menguji kesabarannya.
Ketika aku mengatakan “Jiang Chen, kita putus saja”.
Dia terdiam beberapa saat sebelum berkata, “jangan sampai kamu menyesal”. Kemudian dia membanting pintu dengan keras dan pergi.
Aku pikir bahwa untuk dua orang yang saling mencintai satu sama lain untuk bisa putus, paling tidak, ada kejadian utama dengan skala besar, seperti, pesta ketiga, seperti tiba-tiba ditemukan bahwa aku adalah anak haram dari ayahnya; seperti, aku atau dia terkena sakit parah…. Namun kenyataannya, hal itu tidak dibutuhkan. Rasa gelisah, kesibukan, dan rasa lelah sudah cukup untuk jadi alasan.
Kami berpisah seperti itu. Hal itu cukup mencengangkan untuk dua orangyang asalnya setuju untuk bersama selamanya, sekarang benar-benar tidak ada kaitannya satu sama lain dalam sekejap. Untuk waktu yang cukup lama, aku sempat mengira bahwa mungkin ada orang yang menekan tombol fas-forward untuk hubungan kita berdua, menyebabkan aku untuk mengilangkan bagian perpisahan yang tak terelakkan.
Ayahku yang paling bahagia mendengar aku putus dari Jiang Chen. Dia merasa seperti ini adalah satu kemenangan yang dia miliki atas konfrontasinya dengan kelas sosial para supervisor. Namun setelahb itu, ketidakmampuanku secara konstan dalam mendapatkan pacar menyebakan buah dari kemenangan kadang-kadang bisa pahit juga.
Jadi kupikir perasaan ayahku terhadap Jiang Chen cukup rumit. Adakalanya, ayahku berharap akan ada seseorang yang datang kepadaku yang menyedihkan ini, namun dilain pihak, ayahku merasa lebih baik aku mejadi orangyang menyedihkan daripada memberikanku kepada Jiang Chen.  Ayahku mungkin mengalami konflik batin, yang mana kapitalis hadir saat keadaan yang paling menyedihkan, disebutkan dalam buku politik SMA yang lebih baik menumpahkan susu ke sungai daripada memebrikannya ke orang miskin. Apa yang tidak aku katakan pada ayahku adalah, orang itu bahkan tidak berminat membelinya darimu.



 To be Continue....

Please don't reupload or copy this translation...



Senin, 01 Oktober 2018

Novel A Love So Beautiful Chapter 1

Chapter1
 




Comrade Old Chen, atau Ayahku, Februari tahun ini secara resmi pensiun. Old Chen yang biasa bekerja keras selama hidupnya tidak bis*a berdiam diri atau bersantai setelah (hanya) menghabiskan setengah bulan menganggur dirumah. Dan hal itu terjadi, bahwa klub warga senior di kota kami sedang merekrut anggota, dan ayahku mendaftar. Ketika dia disana, dia sadar bahwa umurnya yang baru 50 tahunan tergolong muda di klub warga senior yang rata-rata anggotanya berumur 70an.  Oleh karena itu, ayahku sangat bersemangat. Setiap hari ayahku pergi bersepeda menuju klub untuk mengurus kegiatan rekreasi. Semangatnya yang seperti ini berlangsung selama beberapa tahun.
Karena untuk sementara waktu ayahku tidak terlalu menunjukan semangatnya, dan hanya menunjukan semangatnya di awal-awal tahun. Ayahku menaiki kursi untuk menggantungkan banner aktifitas klubnya dan menyebabkannya terpeleset dan terjatuh.
Aku sedang di jalan melihat-lihat billboard ketika ibuku menelpon. Tubuhku berkeringat dingin di cuaca yang panas. Meski aku selalu kena pukul oleh Old Chen ketika aku masih kecil, aku punya pikiran akan membalasnya ketika aku sudah tumbuh dewasa, tapi meski begitu aku sangat menyayanginya.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, aku terus menangis dan mengoceh tanpa henti ke supir taksi menceritakan betapa baiknya ayahku. Si supir yang tingginya 7 kaki dan berpengawakan tegap sepertinya tersentuh oleh ceritaku, kemudian menginjak pedal gas mencapai batas kecepatan maksimal. Ketika aku akan membayar, dia menawakan untuk mengumpulkan ongkos dan berkata padaku “anak muda, ingat plat mobil saya, XXXX, maksudnya, jangan menghadang taksiku lagi, aku punya istri dan ibu yang suka mengoceh dirumah, jadi ketika aku mendengarkan orang yang berbicara tanpa henti, aku tidak bisa mengontrol untuk tidak gemetaran. Maafkan aku, kuharap ayahmu sembuh dengan cepat”.
………
Aku bergegas masuk ke rumah sakit sambil menangis, ketika aku sampai kesana ibuku sedang mengupas apel sambil mengomeli ayahku; “tubuh letih tuamu masih kau anggap memiliki kekuatan? Jatuh sekali lagi dan aku akan mendorongmu langsung untuk kremasi. Tulang belakangmu akan ku upgrade menjadi tulang abu”.
Aku memegang gagang pintu sambil menangis, “Bu, gimana keadaan ayah?”
Ibu menatapku, “oh, berhentilah menangis, apa yang kamu tangisi, ibu telah memikul begitu banyak penderitaan untuk membesarkanmu jadi wajahmu  tidak akan tertutup ingus dan air mata”.
Aku menahan air mataku dan menghampiri Old Chen untuk bersimpati karena tertekan cukup lama, “Ayah apakah kau baik-baik saja?”.
Ayahku terlihat pasrah melihat apel yang sedang Ibu pegang, “Tidak, Ibumu sudah mengupas tiga apel dan tidak memberikan satupun padaku”.
Kupikir tidak mungkin aku langsung mendengar keadaan yang sebenarnya dari ayahku, oleh karenanya aku malah mengambil termos dan dan mengatakan “aku akan mengambil air panas.”
Aku langsung pergi ke ruangan perawat sambil membawa termos, aku tidak mengindahkan ibuku yang menangis dibelakang ku, “dasar anak ini, termosnya masih penuh”.
Mungkin karena aku terlihat mengancam, perawat itu langsung dengat cepat menemui dokter. Dokter itu menjelaskan keadaan ayahku dengan muka datar, dia bilang kecelakaan tersebut merusak punggung bawahnya  -tulang belakangnya membuat syaraf tertekan. Dengan kata lain dia memerlukan operasi, dan membuatku menyiapkan 30.000 dolar.
Aku menanyakan dokter beberapa pertanyaan yang lebih spesifik tapi dia malah memberikan tatapan tajam padakau “meskipun aku memberitahumu, kamu tidak akan mengerti, siapkan saja biaya operasinya oke? Tinggalkan sisanya pada kami para dokter.” Aku bertanya lagi, “jadi operasinya kapan dok?”.
Dia menjawab dengan tidak sabaran, “mengantrilah, jika giliranmu tiba kami akan melakukan operasinya.”
Aku ingin sekali sengaja batuk dengan keras dengan mulut penuh dengan dahak di depan wajahnya, dan berkata “maaf dok saya pumya tebece”.
Tapi aku tidak bisa melakukannya, aku hanya bisa mengeluarkan beberapa ratus dolar dari dompetku, dan memebrikan dengan agak kesal padanya “kalau begitu, mohon bantuannya dok…”
Dia menatapku  dan mengembalikan uangnya padaku, “apa yang anda lakukan? Saya paham bagaimana perasaan ada terhadap keluaraga, tapi ini melanggar peraturan rumah sakit! Anda tidak usah khawatir, saya akan meluangkan waktu untuk menjelaskan detailnya.”
Aku merasa sangat bersalah, berpikir bahwa aku salah paham dan telah berpikiran sempit untuk menilai dokter dengan hati yang pengertian itu, memang sebagian dokter terlahir dengan kepribadian yang buruk. Ketika aku sedang merenungkan diri atas integritas pribadiku, si dokter melangkah pergi, namun sebelum pergi dia menaikan dagunya dan memberikanku tatapan peruh arti. Aku berpikir beberapa saat dan mengira si dokter kram atau dia punya maksud lain dengan tindaknnya, sampai aku menirunya dan menaikan daguku juga pada akhirnya, kemudian aku paham –ada kamera CCTV terpasang di tembok.
Saat itu aku mau menanyakan pada perawat dimana ruangan dokter ketika ponselku bordering. Aku mengeluarkan ponsel dan melihat siapa yang menelpon. Jantunghku mencelos dan berdegup super kencang, seperti mnginjak akselerator, aku hampir ingin pergi ke departemen kardiologi untuk diperiksa.
Jiang Chen, mantan pacarku.
Sambil gemetaran, aku mengangkatnya dengan sopan, “Hallo?”
Aku mnegatakan hallo berulang kali, namun yang terdengar hanyalah suara hiruk pikuk, sepertinya dia salah pencet nomer. Aku akan menutup teleponnya tapi aku medengar suara wanita yang lembut berkata “Dok, dadaku sakit.”
Aku jadi ingat sekarang Jiang Chen adalah seorang dokter, yang katanya cukup terkenal Aku menutup telepon dan kebingungan sesaat. Kemudian akhirnya memutuskan bahwa jika aku harus mengalami kubangan kegelapan system kesehatan tanah air, aku mugkin harus pindah ke rumah sakit dimana Jiang Chen bekerja. menurut perhitungan, aku tlah membantunya mengupas ribuan teh telur dulu, dia harusnya mempertimbangkan kan?
Uhhh….. ingatanmu memang tau bagian mana yang paling penting.
Ibuku bertanya lagi padaku, “jika kita memang pindah ke tempat Jiang Chen kerja, apa dia akan menolong kita? Maksudnya, apa kalian masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu?”
Benar-benar pertanyaan “yang tepat sasaran”, aku gelagapan, “dia akan menolong kita, aku yakin, hanya saja…..”
“hanya saja apa?
“hanya saja situasi kita saat ini gunting pun tak akan bisa memotongnya, ketika bertemu akan berkaitan lagi” (pokonya situasi yang tidak tidak bisa dijelaskan/complictaed)
Ibuku menyela “ berhenti ngomong berbelit-belit sama ibu, tidak bisa dipotong oleh gunting? Kau cukur saja semua! Kamu harus menelepon dia sekarang. Ayahmu harus dipindahkan besok. Ibu sudah tidak tahan dengan dokter yang menjengkelkan disini. Sebenarnya aku berharap ibuku dengan lembut berkata ‘Nak, kamu harus punya pendirian yang teguh, mantanmu atau apapun, salah seorang tidak seharusnya menganggu.’ Tapi ternyata aku sungguh berpikir menilai ibuku telalu tinggi kali ini.
Jiang Chen tidak menunjukkan tanda-tanda dia terkejut sama sekali ketika dia mengangkat teleponku, membuatku ingin menjadi dokter, jadi biasa melihat angin kencang dam ombak besar, bahkan mayat dan organ dalam manusia tidak membuatnya takut, jadi bagaimana aku yang “hanya, mantannya”, bisa menakutinya.
Aku bicara gelagapan selama di telepon, aku menjelaskan keadaan yang sedang terjadi padanya, dan mengatur bertanya diakhir “ apakah tiak apa-apa jika ayahku dipindahkan ke rumah sakit tempatmu bekerja?”
“Baiklah” dia menjawab dengan singkat, aku telalu malu membicarakan mengupas teh telur.
Dia menambahkan “siapkan semuanya, aku akan menyiapkan ambulan untuk menjemput ayahmu untuk pemindahan.”
Akhirnya dia terdiam cukup lama dan bertanya padaku “apa kau baik-baik saja?”
Okay.
Setelah menutup telepon, aku mencengkram dadaku dan bersandar di tembok lobi, sesak napas. Seorang perawat muda didekatku menolongku, “apa kamu baik-baik saja?.”
Aku mengangguk, juga merasa senang akhirnya bertemu secercah rasa kemanusiaan di rumah sakit ini.
Kemudian dia bertanya, “siapa yang barusan kamu telepon? Sepertinya kamu akan segera pindah rumah sakit. Apa kamu mengenal seseorang yang berkuasa di rumah sakit lain? Bisakah kamu memperkenalkanku? Aku hanya punya waktu sebulan lagi sampai waktu intern ku habis namun belum menmukan rumah sakit yang akan mempekerjakanku. Bisakah kau menolongku? Peringkatku cukup bagus, hanya saja aku tidak mau menemani direktur rumah sakit tidur.”
Tak ada jalan lain aku jadi ikut terlibat dengannya, jadi tanpa ada pemikiran lain aku berkata “sebenarnya, orang yang ku telepon tadi adalah penjaga rumah sakit, aku janji padanya akan menemaninya tidur, jadi dia berjanji padaku akan menolongku menanyakan apakah aku bisa di pindahkan.”
…………..
Tiga jam kemudian, Jiang Chen melesat kedepanku. Aku belum bertemu dengannya selama 3 tahun, namun aku tidak berani mengangkat kepalaku untuk memandangnya. Aku terus melirik kearah pena yang sepertinya sangat mahal di saku jubah putihnya.  Aku tidak tahu jka dia sudah mempelajari bagaimana menulis tulisan yang biasa digunakan dalam ilmu kedokteran.
Ketika aku kuliah aku selalu khawatir tentang Jiang Chen yang takut akan tulisan skrip kecilnya yang indah akan menyulitkannya di dunia kedokteran. Dalam rangka untuk mencapai tulisan indah yang akan membiarkannya mengindari tanggng jawab bahkan jika dia menulis resep obat-obatan yang salah. Aku pernah sekali memaksanya mengkopi tulisanku. Itu menyedihkan pada akhirnya dia gagal mempelajari intisari yang sebenarnya.
Prosedur pencabutan, prosedur penerimaan, Jiang Chen yang mengurus semuanya seorang diri. Aku dan Ibuku sungguh bertopang dagu, hanya mengobrol dekat pintu rumah sakit, dengan apel ditangan masing-masing.
Ibu berkata “Pria muda ini memang sungguh yang aku urus ketika dia dibesarkan karena dia tumbuh menjadi pria yang baik, sungguh tak tahu malu.
Dia menambahkan “benar-benar barang bagus, bagaimana kamu sampai kehilangannya dulu? Kau hampir berhasil”.
Aku menggigit apel “Ayah pasti bosan sendirian di ambulan, ibu harus kesna makan apel biar ayah yang nonton”.
Ibuku menghela nafas, dan dengan ceria dan patuh pergi ke arah ambulan, menggerutu sambil berjalan “Pria tua, anakmu membuatku memakan apel untuk kau tonton”.
 Jiang Chen sedang memegang banyak dokumen dan beberapa resep kecil ketika dia melihat kejadian ini, dia tersenyum dan terlihat ragu-ragu padaku, “kau sungguh berbakti.”

Aku melihat kearahnya, dia sedikit membungkuk, membungkukkan kepalanya untuk melihatku. Ujung rambutnya yang terkulai bercahaya dipagi yang cerah. Dia tersenyum padaku seperti dulu, pipi kirinya memperlihatkan lesung pipinya, seolah-olah baru kemarin kita makan dan nonton bersama.
Aku mengalihkan pandangan, ini adalah lesung pipit yang berbahaya. Dulu jantungku mabuk dan jatuh hati pada lesung pipit ini. Sekarang ketika ku pikirkan lagi, lubang I wajahnya seperti penipu ulung.
Kehadiran Jiang Chen biasanya seperti salah satu tempat lampu di suatu lorong. Dia tinggal di seberang rumah kami, putra walikota, tampan, bisa bermain piano, menulis kaligrafi, punya peringkay bagus, dan bisa berbicara bahasa Mandarin dengan baik. Televisi dan juga novel biasanya menyebut kami, lelaki dan perempuan yang berteman, dan hidup sangat berdekatan sejak kecil sebagai “kekasih  masa kanak-kanak”, sebagai tambahan, mereka biasanya membaginya dalam dua kategori; kategori pertama yaitu “tipe yang saling menyukai”. Dua orang yang sangat dekat seperti saudara kandung, menyodok sarang lebah dan terkena sengatannya bersama-sama, mencuri ketang manis dan kena pukul bersama. Dan ketika mereka mengenang masa lalu, mereka menyadari bahwa persahabatan mereka sejak kecil pelan-pelan berubah menjadi cinta.  Kategori yang lain yaitu “tipe kenal namun saling membenci”. Dua orang yang saling bertentangan dengan tegangan yang sama, menimbulkan rasa kesal dan ingin saling menggigit meski hanya melihat dari kejauhan. Ketika ada kesempatan, mereka akan saling menjaili dengan mengambil tutup pentil sepeda mereka. Namun seiring waktu berlalu merka tumbuh dan akan tiba-tiba menyadari –ah! Ini yang namanya cinta.
Sayangnya, Jiang Chen dan aku tidak termasuk dalam kategori keduanya yang disebutkan diatas. Dalam waktu yang cukup lama, aku dan dia hanya tetangga yang hidup berdampingan. Dia memainkan pianonya setiap hari, dan aku menonton Chibi Maruko-chan bersama gusto. Adakalanya, ketika aku lupa meteri untuk mengerjakan PR, aku akan pergi kerumahnya. Dia akan selalu mengejekku dan dengan tidak sabaran menanyakan kenapa aku bisa lupa.
Mungkin karena aku biasanya membutuhkan kemurahan hatinya, aku tidak pernah bertengkar dengannya. Tentu saja, mungkin juga  karena aku tidak suka adu mulut dengan orang lain sejak aku masih kecil. Aku adalah seorang yang kalem dan tenang, dan juga agak luarbiasa.
Liburan musim panas kelas 2 SMP yang akan segera naik kelas 3, kelas kami secara rahsia merencanakan liburan setelah ujian. Selama liburan, aku dan jiang Chen ditugaskan untuk mencuci kentang manis. Ada 40 orang di kelas kami namun kami membawa 44 kentang manis. Jiang Chen hanya mencuci 4 kentang yang kelebihan tersebut, setelah itu dia bermain melompati batu bersama anak laki-laki di samping.
Aku meringkuk di tepi danau, memaksa untuk tetap kelihatan marah ketika aku mencuci kentang. Semakin banyak aku mencuci kentang semakain marahlah rasanya aku. Ketika itu sebuah batu di jatuhkan tepat di depanku dan deburan air memercik ke wajahku. Aku mencari-cari, Jiang Chen bersikap tak ambil pusing seperti tak ada yang terjadi. Dia mengangkat tangannya dan melemparkan batu ke permukaan air, menembus ketenangan dalam empat kali lompatan yang indah. Bersama riak air yang bemacam ukurannya, bergerak bersamaan kemudian tenggelam.
Sungguh logis bagiku untuk memarahinya, memercikkan air kepadnya, menekan kepalanya kedalam air, atau mungkin mendorongnya ke dalam danau supaya dia tengelam.
Tapi aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menatapnya seperti orang bego.
Angin sepoi-sepoi terbang bebas, seragam putih. Matahari memancarkan cahaya emasnya ke bulu mata dan ujung rambutnya. Bibirnya yang terangkat sedikit menekan dan memeperlihatkan senyum angkuh menghiasi pipi kirinya.
Disana saat itu, ruang dan waktu membeku meninggalkan hanya debaran cepat jantungku.

to be continue....
secepatnya kalau sedang mood.