Chapter1
Comrade
Old Chen, atau Ayahku, Februari tahun ini secara resmi pensiun. Old Chen yang
biasa bekerja keras selama hidupnya tidak bis*a berdiam diri atau bersantai
setelah (hanya) menghabiskan setengah bulan menganggur dirumah. Dan hal itu
terjadi, bahwa klub warga senior di kota kami sedang merekrut anggota, dan
ayahku mendaftar. Ketika dia disana, dia sadar bahwa umurnya yang baru 50
tahunan tergolong muda di klub warga senior yang rata-rata anggotanya berumur
70an. Oleh karena itu, ayahku sangat
bersemangat. Setiap hari ayahku pergi bersepeda menuju klub untuk mengurus
kegiatan rekreasi. Semangatnya yang seperti ini berlangsung selama beberapa
tahun.
Karena
untuk sementara waktu ayahku tidak terlalu menunjukan semangatnya, dan hanya
menunjukan semangatnya di awal-awal tahun. Ayahku menaiki kursi untuk
menggantungkan banner aktifitas klubnya dan menyebabkannya terpeleset dan
terjatuh.
Aku
sedang di jalan melihat-lihat billboard ketika ibuku menelpon. Tubuhku
berkeringat dingin di cuaca yang panas. Meski aku selalu kena pukul oleh Old
Chen ketika aku masih kecil, aku punya pikiran akan membalasnya ketika aku
sudah tumbuh dewasa, tapi meski begitu aku sangat menyayanginya.
Sepanjang
jalan menuju rumah sakit, aku terus menangis dan mengoceh tanpa henti ke supir
taksi menceritakan betapa baiknya ayahku. Si supir yang tingginya 7 kaki dan
berpengawakan tegap sepertinya tersentuh oleh ceritaku, kemudian menginjak
pedal gas mencapai batas kecepatan maksimal. Ketika aku akan membayar, dia
menawakan untuk mengumpulkan ongkos dan berkata padaku “anak muda, ingat plat
mobil saya, XXXX, maksudnya, jangan menghadang taksiku lagi, aku punya istri
dan ibu yang suka mengoceh dirumah, jadi ketika aku mendengarkan orang yang
berbicara tanpa henti, aku tidak bisa mengontrol untuk tidak gemetaran. Maafkan
aku, kuharap ayahmu sembuh dengan cepat”.
………
Aku
bergegas masuk ke rumah sakit sambil menangis, ketika aku sampai kesana ibuku
sedang mengupas apel sambil mengomeli ayahku; “tubuh letih tuamu masih kau
anggap memiliki kekuatan? Jatuh sekali lagi dan aku akan mendorongmu langsung
untuk kremasi. Tulang belakangmu akan ku upgrade menjadi tulang abu”.
Aku
memegang gagang pintu sambil menangis, “Bu, gimana keadaan ayah?”
Ibu
menatapku, “oh, berhentilah menangis, apa yang kamu tangisi, ibu telah memikul
begitu banyak penderitaan untuk membesarkanmu jadi wajahmu tidak akan tertutup ingus dan air mata”.
Aku
menahan air mataku dan menghampiri Old Chen untuk bersimpati karena tertekan
cukup lama, “Ayah apakah kau baik-baik saja?”.
Ayahku
terlihat pasrah melihat apel yang sedang Ibu pegang, “Tidak, Ibumu sudah
mengupas tiga apel dan tidak memberikan satupun padaku”.
Kupikir
tidak mungkin aku langsung mendengar keadaan yang sebenarnya dari ayahku, oleh
karenanya aku malah mengambil termos dan dan mengatakan “aku akan mengambil air
panas.”
Aku
langsung pergi ke ruangan perawat sambil membawa termos, aku tidak mengindahkan
ibuku yang menangis dibelakang ku, “dasar anak ini, termosnya masih penuh”.
Mungkin
karena aku terlihat mengancam, perawat itu langsung dengat cepat menemui
dokter. Dokter itu menjelaskan keadaan ayahku dengan muka datar, dia bilang
kecelakaan tersebut merusak punggung bawahnya
-tulang belakangnya membuat syaraf tertekan. Dengan kata lain dia
memerlukan operasi, dan membuatku menyiapkan 30.000 dolar.
Aku
menanyakan dokter beberapa pertanyaan yang lebih spesifik tapi dia malah
memberikan tatapan tajam padakau “meskipun aku memberitahumu, kamu tidak akan
mengerti, siapkan saja biaya operasinya oke? Tinggalkan sisanya pada kami para
dokter.” Aku bertanya lagi, “jadi operasinya kapan dok?”.
Dia
menjawab dengan tidak sabaran, “mengantrilah, jika giliranmu tiba kami akan
melakukan operasinya.”
Aku
ingin sekali sengaja batuk dengan keras dengan mulut penuh dengan dahak di
depan wajahnya, dan berkata “maaf dok saya pumya tebece”.
Tapi
aku tidak bisa melakukannya, aku hanya bisa mengeluarkan beberapa ratus dolar
dari dompetku, dan memebrikan dengan agak kesal padanya “kalau begitu, mohon
bantuannya dok…”
Dia
menatapku dan mengembalikan uangnya
padaku, “apa yang anda lakukan? Saya paham bagaimana perasaan ada terhadap
keluaraga, tapi ini melanggar peraturan rumah sakit! Anda tidak usah khawatir,
saya akan meluangkan waktu untuk menjelaskan detailnya.”
Aku
merasa sangat bersalah, berpikir bahwa aku salah paham dan telah berpikiran
sempit untuk menilai dokter dengan hati yang pengertian itu, memang sebagian
dokter terlahir dengan kepribadian yang buruk. Ketika aku sedang merenungkan
diri atas integritas pribadiku, si dokter melangkah pergi, namun sebelum pergi
dia menaikan dagunya dan memberikanku tatapan peruh arti. Aku berpikir beberapa
saat dan mengira si dokter kram atau dia punya maksud lain dengan tindaknnya,
sampai aku menirunya dan menaikan daguku juga pada akhirnya, kemudian aku paham
–ada kamera CCTV terpasang di tembok.
Saat
itu aku mau menanyakan pada perawat dimana ruangan dokter ketika ponselku
bordering. Aku mengeluarkan ponsel dan melihat siapa yang menelpon. Jantunghku mencelos
dan berdegup super kencang, seperti mnginjak akselerator, aku hampir ingin
pergi ke departemen kardiologi untuk diperiksa.
Jiang
Chen, mantan pacarku.
Sambil
gemetaran, aku mengangkatnya dengan sopan, “Hallo?”
Aku
mnegatakan hallo berulang kali, namun yang terdengar hanyalah suara hiruk
pikuk, sepertinya dia salah pencet nomer. Aku akan menutup teleponnya tapi aku
medengar suara wanita yang lembut berkata “Dok, dadaku sakit.”
Aku
jadi ingat sekarang Jiang Chen adalah seorang dokter, yang katanya cukup
terkenal Aku menutup telepon dan kebingungan sesaat. Kemudian akhirnya
memutuskan bahwa jika aku harus mengalami kubangan kegelapan system kesehatan tanah
air, aku mugkin harus pindah ke rumah sakit dimana Jiang Chen bekerja. menurut perhitungan,
aku tlah membantunya mengupas ribuan teh telur dulu, dia harusnya
mempertimbangkan kan?
Uhhh…..
ingatanmu memang tau bagian mana yang paling penting.
Ibuku
bertanya lagi padaku, “jika kita memang pindah ke tempat Jiang Chen kerja, apa
dia akan menolong kita? Maksudnya, apa kalian masih memiliki perasaan yang sama
seperti dulu?”
Benar-benar
pertanyaan “yang tepat sasaran”, aku gelagapan, “dia akan menolong kita, aku
yakin, hanya saja…..”
“hanya
saja apa?
“hanya
saja situasi kita saat ini gunting pun tak akan bisa memotongnya, ketika
bertemu akan berkaitan lagi” (pokonya situasi yang tidak tidak bisa dijelaskan/complictaed)
Ibuku
menyela “ berhenti ngomong berbelit-belit sama ibu, tidak bisa dipotong oleh
gunting? Kau cukur saja semua! Kamu harus menelepon dia sekarang. Ayahmu harus
dipindahkan besok. Ibu sudah tidak tahan dengan dokter yang menjengkelkan
disini. Sebenarnya aku berharap ibuku dengan lembut berkata ‘Nak, kamu harus
punya pendirian yang teguh, mantanmu atau apapun, salah seorang tidak
seharusnya menganggu.’ Tapi ternyata aku sungguh berpikir menilai ibuku telalu
tinggi kali ini.
Jiang
Chen tidak menunjukkan tanda-tanda dia terkejut sama sekali ketika dia
mengangkat teleponku, membuatku ingin menjadi dokter, jadi biasa melihat angin kencang
dam ombak besar, bahkan mayat dan organ dalam manusia tidak membuatnya takut,
jadi bagaimana aku yang “hanya, mantannya”, bisa menakutinya.
Aku
bicara gelagapan selama di telepon, aku menjelaskan keadaan yang sedang terjadi
padanya, dan mengatur bertanya diakhir “ apakah tiak apa-apa jika ayahku
dipindahkan ke rumah sakit tempatmu bekerja?”
“Baiklah”
dia menjawab dengan singkat, aku telalu malu membicarakan mengupas teh telur.
Dia
menambahkan “siapkan semuanya, aku akan menyiapkan ambulan untuk menjemput
ayahmu untuk pemindahan.”
Akhirnya
dia terdiam cukup lama dan bertanya padaku “apa kau baik-baik saja?”
Okay.
Setelah
menutup telepon, aku mencengkram dadaku dan bersandar di tembok lobi, sesak
napas. Seorang perawat muda didekatku menolongku, “apa kamu baik-baik saja?.”
Aku
mengangguk, juga merasa senang akhirnya bertemu secercah rasa kemanusiaan di
rumah sakit ini.
Kemudian
dia bertanya, “siapa yang barusan kamu telepon? Sepertinya kamu akan segera
pindah rumah sakit. Apa kamu mengenal seseorang yang berkuasa di rumah sakit
lain? Bisakah kamu memperkenalkanku? Aku hanya punya waktu sebulan lagi sampai
waktu intern ku habis namun belum menmukan rumah sakit yang akan
mempekerjakanku. Bisakah kau menolongku? Peringkatku cukup bagus, hanya saja
aku tidak mau menemani direktur rumah sakit tidur.”
Tak
ada jalan lain aku jadi ikut terlibat dengannya, jadi tanpa ada pemikiran lain
aku berkata “sebenarnya, orang yang ku telepon tadi adalah penjaga rumah sakit,
aku janji padanya akan menemaninya tidur, jadi dia berjanji padaku akan
menolongku menanyakan apakah aku bisa di pindahkan.”
…………..
Tiga
jam kemudian, Jiang Chen melesat kedepanku. Aku belum bertemu dengannya selama
3 tahun, namun aku tidak berani mengangkat kepalaku untuk memandangnya. Aku terus
melirik kearah pena yang sepertinya sangat mahal di saku jubah putihnya. Aku tidak tahu jka dia sudah mempelajari
bagaimana menulis tulisan yang biasa digunakan dalam ilmu kedokteran.
Ketika
aku kuliah aku selalu khawatir tentang Jiang Chen yang takut akan tulisan skrip
kecilnya yang indah akan menyulitkannya di dunia kedokteran. Dalam rangka untuk
mencapai tulisan indah yang akan membiarkannya mengindari tanggng jawab bahkan
jika dia menulis resep obat-obatan yang salah. Aku pernah sekali memaksanya
mengkopi tulisanku. Itu menyedihkan pada akhirnya dia gagal mempelajari intisari
yang sebenarnya.
Prosedur
pencabutan, prosedur penerimaan, Jiang Chen yang mengurus semuanya seorang
diri. Aku dan Ibuku sungguh bertopang dagu, hanya mengobrol dekat pintu rumah
sakit, dengan apel ditangan masing-masing.
Ibu
berkata “Pria muda ini memang sungguh yang aku urus ketika dia dibesarkan
karena dia tumbuh menjadi pria yang baik, sungguh tak tahu malu.
Dia
menambahkan “benar-benar barang bagus, bagaimana kamu sampai kehilangannya
dulu? Kau hampir berhasil”.
Aku
menggigit apel “Ayah pasti bosan sendirian di ambulan, ibu harus kesna makan
apel biar ayah yang nonton”.
Ibuku
menghela nafas, dan dengan ceria dan patuh pergi ke arah ambulan, menggerutu
sambil berjalan “Pria tua, anakmu membuatku memakan apel untuk kau tonton”.
Jiang Chen sedang memegang banyak dokumen dan
beberapa resep kecil ketika dia melihat kejadian ini, dia tersenyum dan
terlihat ragu-ragu padaku, “kau sungguh berbakti.”
Aku
melihat kearahnya, dia sedikit membungkuk, membungkukkan kepalanya untuk
melihatku. Ujung rambutnya yang terkulai bercahaya dipagi yang cerah. Dia tersenyum
padaku seperti dulu, pipi kirinya memperlihatkan lesung pipinya, seolah-olah baru
kemarin kita makan dan nonton bersama.
Aku
mengalihkan pandangan, ini adalah lesung pipit yang berbahaya. Dulu jantungku
mabuk dan jatuh hati pada lesung pipit ini. Sekarang ketika ku pikirkan lagi,
lubang I wajahnya seperti penipu ulung.
Kehadiran
Jiang Chen biasanya seperti salah satu tempat lampu di suatu lorong. Dia tinggal
di seberang rumah kami, putra walikota, tampan, bisa bermain piano, menulis
kaligrafi, punya peringkay bagus, dan bisa berbicara bahasa Mandarin dengan
baik. Televisi dan juga novel
biasanya menyebut kami, lelaki dan perempuan yang berteman, dan hidup sangat
berdekatan sejak kecil sebagai “kekasih
masa kanak-kanak”, sebagai tambahan, mereka biasanya membaginya dalam
dua kategori; kategori pertama yaitu “tipe yang saling menyukai”. Dua orang
yang sangat dekat seperti saudara kandung, menyodok sarang lebah dan terkena
sengatannya bersama-sama, mencuri ketang manis dan kena pukul bersama. Dan
ketika mereka mengenang masa lalu, mereka menyadari bahwa persahabatan mereka
sejak kecil pelan-pelan berubah menjadi cinta.
Kategori yang lain yaitu “tipe kenal namun saling membenci”. Dua orang
yang saling bertentangan dengan tegangan yang sama, menimbulkan rasa kesal dan
ingin saling menggigit meski hanya melihat dari kejauhan. Ketika ada
kesempatan, mereka akan saling menjaili dengan mengambil tutup pentil sepeda
mereka. Namun seiring waktu berlalu merka tumbuh dan akan tiba-tiba menyadari
–ah! Ini yang namanya cinta.
Sayangnya, Jiang Chen dan aku tidak termasuk dalam kategori
keduanya yang disebutkan diatas. Dalam waktu yang cukup lama, aku dan dia hanya
tetangga yang hidup berdampingan. Dia memainkan pianonya setiap hari, dan aku
menonton Chibi Maruko-chan bersama gusto. Adakalanya, ketika aku lupa meteri
untuk mengerjakan PR, aku akan pergi kerumahnya. Dia akan selalu mengejekku dan
dengan tidak sabaran menanyakan kenapa aku bisa lupa.
Mungkin karena aku biasanya membutuhkan kemurahan hatinya,
aku tidak pernah bertengkar dengannya. Tentu saja, mungkin juga karena aku tidak suka adu mulut dengan orang
lain sejak aku masih kecil. Aku adalah seorang yang kalem dan tenang, dan juga
agak luarbiasa.
Liburan musim panas kelas 2 SMP yang akan segera naik kelas
3, kelas kami secara rahsia merencanakan liburan setelah ujian. Selama liburan,
aku dan jiang Chen ditugaskan untuk mencuci kentang manis. Ada 40 orang di
kelas kami namun kami membawa 44 kentang manis. Jiang Chen hanya mencuci 4 kentang
yang kelebihan tersebut, setelah itu dia bermain melompati batu bersama anak
laki-laki di samping.
Aku
meringkuk di tepi danau, memaksa untuk tetap kelihatan marah ketika aku mencuci
kentang. Semakin banyak aku mencuci kentang semakain marahlah rasanya aku. Ketika
itu sebuah batu di jatuhkan tepat di depanku dan deburan air memercik ke
wajahku. Aku mencari-cari, Jiang Chen bersikap tak ambil pusing seperti tak ada
yang terjadi. Dia mengangkat tangannya dan melemparkan batu ke permukaan air,
menembus ketenangan dalam empat kali lompatan yang indah. Bersama riak air yang
bemacam ukurannya, bergerak bersamaan kemudian tenggelam.
Sungguh
logis bagiku untuk memarahinya, memercikkan air kepadnya, menekan kepalanya
kedalam air, atau mungkin mendorongnya ke dalam danau supaya dia tengelam.
Tapi
aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menatapnya seperti orang bego.
Angin
sepoi-sepoi terbang bebas, seragam putih. Matahari memancarkan cahaya emasnya
ke bulu mata dan ujung rambutnya. Bibirnya yang terangkat sedikit menekan dan
memeperlihatkan senyum angkuh menghiasi pipi kirinya.
Disana
saat itu, ruang dan waktu membeku meninggalkan hanya debaran cepat jantungku.
to be continue....
secepatnya kalau sedang mood.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar