Senin, 01 Oktober 2018

Novel A Love So Beautiful Chapter 1

Chapter1
 




Comrade Old Chen, atau Ayahku, Februari tahun ini secara resmi pensiun. Old Chen yang biasa bekerja keras selama hidupnya tidak bis*a berdiam diri atau bersantai setelah (hanya) menghabiskan setengah bulan menganggur dirumah. Dan hal itu terjadi, bahwa klub warga senior di kota kami sedang merekrut anggota, dan ayahku mendaftar. Ketika dia disana, dia sadar bahwa umurnya yang baru 50 tahunan tergolong muda di klub warga senior yang rata-rata anggotanya berumur 70an.  Oleh karena itu, ayahku sangat bersemangat. Setiap hari ayahku pergi bersepeda menuju klub untuk mengurus kegiatan rekreasi. Semangatnya yang seperti ini berlangsung selama beberapa tahun.
Karena untuk sementara waktu ayahku tidak terlalu menunjukan semangatnya, dan hanya menunjukan semangatnya di awal-awal tahun. Ayahku menaiki kursi untuk menggantungkan banner aktifitas klubnya dan menyebabkannya terpeleset dan terjatuh.
Aku sedang di jalan melihat-lihat billboard ketika ibuku menelpon. Tubuhku berkeringat dingin di cuaca yang panas. Meski aku selalu kena pukul oleh Old Chen ketika aku masih kecil, aku punya pikiran akan membalasnya ketika aku sudah tumbuh dewasa, tapi meski begitu aku sangat menyayanginya.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, aku terus menangis dan mengoceh tanpa henti ke supir taksi menceritakan betapa baiknya ayahku. Si supir yang tingginya 7 kaki dan berpengawakan tegap sepertinya tersentuh oleh ceritaku, kemudian menginjak pedal gas mencapai batas kecepatan maksimal. Ketika aku akan membayar, dia menawakan untuk mengumpulkan ongkos dan berkata padaku “anak muda, ingat plat mobil saya, XXXX, maksudnya, jangan menghadang taksiku lagi, aku punya istri dan ibu yang suka mengoceh dirumah, jadi ketika aku mendengarkan orang yang berbicara tanpa henti, aku tidak bisa mengontrol untuk tidak gemetaran. Maafkan aku, kuharap ayahmu sembuh dengan cepat”.
………
Aku bergegas masuk ke rumah sakit sambil menangis, ketika aku sampai kesana ibuku sedang mengupas apel sambil mengomeli ayahku; “tubuh letih tuamu masih kau anggap memiliki kekuatan? Jatuh sekali lagi dan aku akan mendorongmu langsung untuk kremasi. Tulang belakangmu akan ku upgrade menjadi tulang abu”.
Aku memegang gagang pintu sambil menangis, “Bu, gimana keadaan ayah?”
Ibu menatapku, “oh, berhentilah menangis, apa yang kamu tangisi, ibu telah memikul begitu banyak penderitaan untuk membesarkanmu jadi wajahmu  tidak akan tertutup ingus dan air mata”.
Aku menahan air mataku dan menghampiri Old Chen untuk bersimpati karena tertekan cukup lama, “Ayah apakah kau baik-baik saja?”.
Ayahku terlihat pasrah melihat apel yang sedang Ibu pegang, “Tidak, Ibumu sudah mengupas tiga apel dan tidak memberikan satupun padaku”.
Kupikir tidak mungkin aku langsung mendengar keadaan yang sebenarnya dari ayahku, oleh karenanya aku malah mengambil termos dan dan mengatakan “aku akan mengambil air panas.”
Aku langsung pergi ke ruangan perawat sambil membawa termos, aku tidak mengindahkan ibuku yang menangis dibelakang ku, “dasar anak ini, termosnya masih penuh”.
Mungkin karena aku terlihat mengancam, perawat itu langsung dengat cepat menemui dokter. Dokter itu menjelaskan keadaan ayahku dengan muka datar, dia bilang kecelakaan tersebut merusak punggung bawahnya  -tulang belakangnya membuat syaraf tertekan. Dengan kata lain dia memerlukan operasi, dan membuatku menyiapkan 30.000 dolar.
Aku menanyakan dokter beberapa pertanyaan yang lebih spesifik tapi dia malah memberikan tatapan tajam padakau “meskipun aku memberitahumu, kamu tidak akan mengerti, siapkan saja biaya operasinya oke? Tinggalkan sisanya pada kami para dokter.” Aku bertanya lagi, “jadi operasinya kapan dok?”.
Dia menjawab dengan tidak sabaran, “mengantrilah, jika giliranmu tiba kami akan melakukan operasinya.”
Aku ingin sekali sengaja batuk dengan keras dengan mulut penuh dengan dahak di depan wajahnya, dan berkata “maaf dok saya pumya tebece”.
Tapi aku tidak bisa melakukannya, aku hanya bisa mengeluarkan beberapa ratus dolar dari dompetku, dan memebrikan dengan agak kesal padanya “kalau begitu, mohon bantuannya dok…”
Dia menatapku  dan mengembalikan uangnya padaku, “apa yang anda lakukan? Saya paham bagaimana perasaan ada terhadap keluaraga, tapi ini melanggar peraturan rumah sakit! Anda tidak usah khawatir, saya akan meluangkan waktu untuk menjelaskan detailnya.”
Aku merasa sangat bersalah, berpikir bahwa aku salah paham dan telah berpikiran sempit untuk menilai dokter dengan hati yang pengertian itu, memang sebagian dokter terlahir dengan kepribadian yang buruk. Ketika aku sedang merenungkan diri atas integritas pribadiku, si dokter melangkah pergi, namun sebelum pergi dia menaikan dagunya dan memberikanku tatapan peruh arti. Aku berpikir beberapa saat dan mengira si dokter kram atau dia punya maksud lain dengan tindaknnya, sampai aku menirunya dan menaikan daguku juga pada akhirnya, kemudian aku paham –ada kamera CCTV terpasang di tembok.
Saat itu aku mau menanyakan pada perawat dimana ruangan dokter ketika ponselku bordering. Aku mengeluarkan ponsel dan melihat siapa yang menelpon. Jantunghku mencelos dan berdegup super kencang, seperti mnginjak akselerator, aku hampir ingin pergi ke departemen kardiologi untuk diperiksa.
Jiang Chen, mantan pacarku.
Sambil gemetaran, aku mengangkatnya dengan sopan, “Hallo?”
Aku mnegatakan hallo berulang kali, namun yang terdengar hanyalah suara hiruk pikuk, sepertinya dia salah pencet nomer. Aku akan menutup teleponnya tapi aku medengar suara wanita yang lembut berkata “Dok, dadaku sakit.”
Aku jadi ingat sekarang Jiang Chen adalah seorang dokter, yang katanya cukup terkenal Aku menutup telepon dan kebingungan sesaat. Kemudian akhirnya memutuskan bahwa jika aku harus mengalami kubangan kegelapan system kesehatan tanah air, aku mugkin harus pindah ke rumah sakit dimana Jiang Chen bekerja. menurut perhitungan, aku tlah membantunya mengupas ribuan teh telur dulu, dia harusnya mempertimbangkan kan?
Uhhh….. ingatanmu memang tau bagian mana yang paling penting.
Ibuku bertanya lagi padaku, “jika kita memang pindah ke tempat Jiang Chen kerja, apa dia akan menolong kita? Maksudnya, apa kalian masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu?”
Benar-benar pertanyaan “yang tepat sasaran”, aku gelagapan, “dia akan menolong kita, aku yakin, hanya saja…..”
“hanya saja apa?
“hanya saja situasi kita saat ini gunting pun tak akan bisa memotongnya, ketika bertemu akan berkaitan lagi” (pokonya situasi yang tidak tidak bisa dijelaskan/complictaed)
Ibuku menyela “ berhenti ngomong berbelit-belit sama ibu, tidak bisa dipotong oleh gunting? Kau cukur saja semua! Kamu harus menelepon dia sekarang. Ayahmu harus dipindahkan besok. Ibu sudah tidak tahan dengan dokter yang menjengkelkan disini. Sebenarnya aku berharap ibuku dengan lembut berkata ‘Nak, kamu harus punya pendirian yang teguh, mantanmu atau apapun, salah seorang tidak seharusnya menganggu.’ Tapi ternyata aku sungguh berpikir menilai ibuku telalu tinggi kali ini.
Jiang Chen tidak menunjukkan tanda-tanda dia terkejut sama sekali ketika dia mengangkat teleponku, membuatku ingin menjadi dokter, jadi biasa melihat angin kencang dam ombak besar, bahkan mayat dan organ dalam manusia tidak membuatnya takut, jadi bagaimana aku yang “hanya, mantannya”, bisa menakutinya.
Aku bicara gelagapan selama di telepon, aku menjelaskan keadaan yang sedang terjadi padanya, dan mengatur bertanya diakhir “ apakah tiak apa-apa jika ayahku dipindahkan ke rumah sakit tempatmu bekerja?”
“Baiklah” dia menjawab dengan singkat, aku telalu malu membicarakan mengupas teh telur.
Dia menambahkan “siapkan semuanya, aku akan menyiapkan ambulan untuk menjemput ayahmu untuk pemindahan.”
Akhirnya dia terdiam cukup lama dan bertanya padaku “apa kau baik-baik saja?”
Okay.
Setelah menutup telepon, aku mencengkram dadaku dan bersandar di tembok lobi, sesak napas. Seorang perawat muda didekatku menolongku, “apa kamu baik-baik saja?.”
Aku mengangguk, juga merasa senang akhirnya bertemu secercah rasa kemanusiaan di rumah sakit ini.
Kemudian dia bertanya, “siapa yang barusan kamu telepon? Sepertinya kamu akan segera pindah rumah sakit. Apa kamu mengenal seseorang yang berkuasa di rumah sakit lain? Bisakah kamu memperkenalkanku? Aku hanya punya waktu sebulan lagi sampai waktu intern ku habis namun belum menmukan rumah sakit yang akan mempekerjakanku. Bisakah kau menolongku? Peringkatku cukup bagus, hanya saja aku tidak mau menemani direktur rumah sakit tidur.”
Tak ada jalan lain aku jadi ikut terlibat dengannya, jadi tanpa ada pemikiran lain aku berkata “sebenarnya, orang yang ku telepon tadi adalah penjaga rumah sakit, aku janji padanya akan menemaninya tidur, jadi dia berjanji padaku akan menolongku menanyakan apakah aku bisa di pindahkan.”
…………..
Tiga jam kemudian, Jiang Chen melesat kedepanku. Aku belum bertemu dengannya selama 3 tahun, namun aku tidak berani mengangkat kepalaku untuk memandangnya. Aku terus melirik kearah pena yang sepertinya sangat mahal di saku jubah putihnya.  Aku tidak tahu jka dia sudah mempelajari bagaimana menulis tulisan yang biasa digunakan dalam ilmu kedokteran.
Ketika aku kuliah aku selalu khawatir tentang Jiang Chen yang takut akan tulisan skrip kecilnya yang indah akan menyulitkannya di dunia kedokteran. Dalam rangka untuk mencapai tulisan indah yang akan membiarkannya mengindari tanggng jawab bahkan jika dia menulis resep obat-obatan yang salah. Aku pernah sekali memaksanya mengkopi tulisanku. Itu menyedihkan pada akhirnya dia gagal mempelajari intisari yang sebenarnya.
Prosedur pencabutan, prosedur penerimaan, Jiang Chen yang mengurus semuanya seorang diri. Aku dan Ibuku sungguh bertopang dagu, hanya mengobrol dekat pintu rumah sakit, dengan apel ditangan masing-masing.
Ibu berkata “Pria muda ini memang sungguh yang aku urus ketika dia dibesarkan karena dia tumbuh menjadi pria yang baik, sungguh tak tahu malu.
Dia menambahkan “benar-benar barang bagus, bagaimana kamu sampai kehilangannya dulu? Kau hampir berhasil”.
Aku menggigit apel “Ayah pasti bosan sendirian di ambulan, ibu harus kesna makan apel biar ayah yang nonton”.
Ibuku menghela nafas, dan dengan ceria dan patuh pergi ke arah ambulan, menggerutu sambil berjalan “Pria tua, anakmu membuatku memakan apel untuk kau tonton”.
 Jiang Chen sedang memegang banyak dokumen dan beberapa resep kecil ketika dia melihat kejadian ini, dia tersenyum dan terlihat ragu-ragu padaku, “kau sungguh berbakti.”

Aku melihat kearahnya, dia sedikit membungkuk, membungkukkan kepalanya untuk melihatku. Ujung rambutnya yang terkulai bercahaya dipagi yang cerah. Dia tersenyum padaku seperti dulu, pipi kirinya memperlihatkan lesung pipinya, seolah-olah baru kemarin kita makan dan nonton bersama.
Aku mengalihkan pandangan, ini adalah lesung pipit yang berbahaya. Dulu jantungku mabuk dan jatuh hati pada lesung pipit ini. Sekarang ketika ku pikirkan lagi, lubang I wajahnya seperti penipu ulung.
Kehadiran Jiang Chen biasanya seperti salah satu tempat lampu di suatu lorong. Dia tinggal di seberang rumah kami, putra walikota, tampan, bisa bermain piano, menulis kaligrafi, punya peringkay bagus, dan bisa berbicara bahasa Mandarin dengan baik. Televisi dan juga novel biasanya menyebut kami, lelaki dan perempuan yang berteman, dan hidup sangat berdekatan sejak kecil sebagai “kekasih  masa kanak-kanak”, sebagai tambahan, mereka biasanya membaginya dalam dua kategori; kategori pertama yaitu “tipe yang saling menyukai”. Dua orang yang sangat dekat seperti saudara kandung, menyodok sarang lebah dan terkena sengatannya bersama-sama, mencuri ketang manis dan kena pukul bersama. Dan ketika mereka mengenang masa lalu, mereka menyadari bahwa persahabatan mereka sejak kecil pelan-pelan berubah menjadi cinta.  Kategori yang lain yaitu “tipe kenal namun saling membenci”. Dua orang yang saling bertentangan dengan tegangan yang sama, menimbulkan rasa kesal dan ingin saling menggigit meski hanya melihat dari kejauhan. Ketika ada kesempatan, mereka akan saling menjaili dengan mengambil tutup pentil sepeda mereka. Namun seiring waktu berlalu merka tumbuh dan akan tiba-tiba menyadari –ah! Ini yang namanya cinta.
Sayangnya, Jiang Chen dan aku tidak termasuk dalam kategori keduanya yang disebutkan diatas. Dalam waktu yang cukup lama, aku dan dia hanya tetangga yang hidup berdampingan. Dia memainkan pianonya setiap hari, dan aku menonton Chibi Maruko-chan bersama gusto. Adakalanya, ketika aku lupa meteri untuk mengerjakan PR, aku akan pergi kerumahnya. Dia akan selalu mengejekku dan dengan tidak sabaran menanyakan kenapa aku bisa lupa.
Mungkin karena aku biasanya membutuhkan kemurahan hatinya, aku tidak pernah bertengkar dengannya. Tentu saja, mungkin juga  karena aku tidak suka adu mulut dengan orang lain sejak aku masih kecil. Aku adalah seorang yang kalem dan tenang, dan juga agak luarbiasa.
Liburan musim panas kelas 2 SMP yang akan segera naik kelas 3, kelas kami secara rahsia merencanakan liburan setelah ujian. Selama liburan, aku dan jiang Chen ditugaskan untuk mencuci kentang manis. Ada 40 orang di kelas kami namun kami membawa 44 kentang manis. Jiang Chen hanya mencuci 4 kentang yang kelebihan tersebut, setelah itu dia bermain melompati batu bersama anak laki-laki di samping.
Aku meringkuk di tepi danau, memaksa untuk tetap kelihatan marah ketika aku mencuci kentang. Semakin banyak aku mencuci kentang semakain marahlah rasanya aku. Ketika itu sebuah batu di jatuhkan tepat di depanku dan deburan air memercik ke wajahku. Aku mencari-cari, Jiang Chen bersikap tak ambil pusing seperti tak ada yang terjadi. Dia mengangkat tangannya dan melemparkan batu ke permukaan air, menembus ketenangan dalam empat kali lompatan yang indah. Bersama riak air yang bemacam ukurannya, bergerak bersamaan kemudian tenggelam.
Sungguh logis bagiku untuk memarahinya, memercikkan air kepadnya, menekan kepalanya kedalam air, atau mungkin mendorongnya ke dalam danau supaya dia tengelam.
Tapi aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menatapnya seperti orang bego.
Angin sepoi-sepoi terbang bebas, seragam putih. Matahari memancarkan cahaya emasnya ke bulu mata dan ujung rambutnya. Bibirnya yang terangkat sedikit menekan dan memeperlihatkan senyum angkuh menghiasi pipi kirinya.
Disana saat itu, ruang dan waktu membeku meninggalkan hanya debaran cepat jantungku.

to be continue....
secepatnya kalau sedang mood.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar