Chapter 5
Hallo readers.... selamat membaca chapter selanjutnya. semoga kalian suka. janga lupa tiggalkan jejak ya kalau lihat postingan ini biar aku lebih semangat translatenya...
Translate tidak 100% benar! Translator masih pemula.. ;)
Here we go...!
Ayahku akhirnya bisa pulang setelah dua hari, dan bekas operasinya sembuh dengan baik. Karena sangat repot untuk pergi bolak-balik ke rumah sakit tempatnya di operasi, ayahku membuka jahitan di rumah sakit lokal. Kata ibuku, sehari setelah jahitan ayahku di buka, dia langsung pegi ke klub Senior Citizen. Aku memuji semangat ayahku yang seperti pejuang lewat telepon.
Ketika aku bangun pagi ini, setengah piyamaku basah (oleh keringat). Aku cepat-cepat ganti baju dan begegas ke stasiun kereta. Ketika aku memasuki kereta, meski AC nya menyala, aku menyadari bahwa bajuku basah lagi oleh keringat. Aku mengenakan atasan warna putih, jadi seperti agak kelihatan transparan. Aku melihat-lihat sekitar, ada sedikit pria yang seperti kelihatan jahat. Namun tidak ada dari mereka yang bermaksud memperhatikanku. Aku memutuskan untuk tidak mengakui bahwa aku adalah seseorang yang tidak berkharisma. Namun demikian, mungkin karena cuaca yang panas, paman yang punya tatapan tidak senonoh juga terlalu malas untuk terlihat tidak senonoh.
Fu Pei (Bos Xiaxi) jua datang ketika aku baru tiba.
“Chen Xiaoxi, mengapa kmu tidak pergi dan mengambil poto katalog produk hari ini. Bukankah kamu suka potografi?”
Aku melihat langit diluar, mulai merasa sedikit sengsara, aku membalas, “Ayahku bilang bahwa namaku ini adalah simbol dari selalu ada harapan dalam hidup. Tidak perduli itu besar atau kecil, itu akan selalu baik. Namun dia tidak mengira bahwa 20 tahun kemudian ada pria muda yang bernama Chen Guan Xi. Dia juga tidak mengira bahwa pria muda itu pecinta film dan pecinta seni, dan juga malah pria muda yang sukses dari karyanya, menjadi panutan rating dalam tren series, ini berarti selalu ada hal yag tiak erduga dalam hidup. Jadi tolong jangan pikir aku di panggil Chen Xiaoxi artinya aku menyukai potografi.
Fu Pei mengambil kalkulator dari laci mejanya, “Melawan Bos gaji di kurangi 2%, absen minus 3%, telat minus 1%.....”
Aku mengangguk, “Baiklah, kurangi saja, tapi berikan gajiku bulan lalu terlebih dahulu.”
Dia meletakan kembali kalkulatornya dengan perlahan.... “Miss Xiaoxi, silahkan istirahat, aku yang akan mengurus katalog produknya.”
Aku mengangguk lagi, dan duduk di bawah AC.
Aku telah bergabung dengan perusahaan ini selama lebih dari dua tahun. Ketika aku putus dengan Jiang Chen, aku dengan cepat menemukan pekerjaan dan apartemen baru. Aku tidak takut dia akan menemukanku, tapi takut kalau dia tidak bisa menemukanku. Aku memang manusia rendahan.
Perusahaan ini punya tiga pegawai: Bosnya Pu Fei, akuntan, Situ Mo. Aku adalah sebagai pendesign. Kami adalah perusahaan kecil, dan berharap besar kepada Fu Pei untuk meneruskan bisnis kami. Kami punya reputasi yang bagus. Namun semenjak Fu Pei putus dengan mantan pelanggan kami, dia menyebarkan rumor buruk tentang perusahaan dan menyebabkan penjualan kami turun drastis. Kami bahkan menyemangatinya untuk menjual tubuhnya untuk mrndapatkan proyek, namun dia menolak. Kami tidak mengerti kenapa, padahal sepengetahuan kami dalam pandangan kisah cintanya, ini adalah menyelam sambil minum air.
Fu pei telah meninggalkan kantor. Situ Mo telah pergi sekitar seminggu untuk merawat anaknya yang tengah sakit demam. Jadi aku tinggal sendirian di kantor.aku mnyeduh teh dan menuju ke komputer ku. Aku meminum teh ku dan menunggu komputer auto log-in ke aplikasi seperi QQ, MSN, SKYPE. Dan semua aplikasi pesan. Semakin banyak aplikasi pesan namun makin sedikit hal yang untuk di bicarakan.
Pesan pertama yang muncul di MSN adalah dari Zuang Dong Na, salah satu pelanggan. Akhir tahun lalu, perusahaan kami mendesain keanjang hadiah untuk perusahaannya. Ada kartu ucapan, berbagai cup, kalender dan lainnya. Itu adalah desepakatan yang bagus dan kami bisa saling mengandalkan sebagai kenalan. Aku memperkenalkannya pada Jiang Chen minggu lalu. Dia wanita yang cukup pantas. Lebih tinggi, lebih cantik, lebih langsing, karakternya lebih bagus dan juga karirny lebih baik dariku. Satu-satunya yang tidak bisa dibandingkan dengannya adalah kakikuyang lebih kecil darinya.
Kudengar mereka berhubungan dengan baik. Jiang Chen banhkan mengajaknya berkencan beberapa kali. Menurut pengalamanku. Hal ini tidak datang dengan begitu mudahnya. Mendengar hal ini aku cukup frustasi. Aku bahkan berpikir untul memnisahkan mereka, namun aku mengendalikan diri.
Aku membuka pesan dari Zuang Dong Na, dia brulang kali mengirim teks, “Apakah kau disana”.
Aku menyadari dia tiak pakai tanda baca. Kasihan sekali tanda baca kita tidak digunakan.
Aku mengetik pelan-pelan, “Aku disini sekarang”
Aku sengaja memakai tanda berhenti dan menmbahkan font satu kali lebih besar. Berharap dia merasa malu.
Zuang Dong Na, (10:16): bisakah kau membantuku?
Aku melihat tanda baca an merasa lega. Aku dengan cepat membalas “Membantu apa?”
Zuang Dong NA, (10:20): Jiang Chen punya pasien yang mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhan totalnya malam ini. Dia harus membawa pasangan kesana, namun aku harus pergi ke Shanghai untuk perjalanan bisnis besok sore. Bisakah kamu pergi kesana menggantikanku.
Aku rau untuk sesaat dan mengetik, “Kurasa itu bukan ide yang bagus..”
Zuang Dong Na membalas, (10:24): Kenapa tidak? Aku sudah bilang pada Jiang Chen dan dia setuju. Dan juga, untuk acara seperti ini memang lebih baik membawa pasangan. Ku dengar bahwa pasiennya adalah orang besar, dan ingin menjodohkan Jiang Chen. Kamu tidak berharap hubungan kami berakhir saat kami baru memulainya kan.
Aku tak habis pikir melihat balasannya. Ketika aku memperkenalkannya pada Jiang Chen aku telah memberitahunya bahwa aku pernah pacaran dengannya. Dia tidak keberatan. Bahkan jika dia tidak keberatan, seharusnya dia menghomati mantan pacarnya. Ada yang bilang ‘Suatu hal yang baik adalah tidak mengunyah dengan keras ketika seseorang kelaparan’ kalau ini bukan hanya mengunyah dengan keras, dia bahkan memintaku mengambilkan tisu untuk mengelap mulutnya. Sungguh tidak beradab.
Zuang Dong Na membalas,(10:25): Xiaoxi, kumohon tolong aku, tolong aku, tolong aku plissss
Lihatlah orang ini. Ketika cemas dia mulai melupakan tanda baca. Apakah kamu tidak pernah merasakan apa yang tanda baca rasakan.
Aku menghela nafas dan membalas, “Baiklah, jika kalian berdua tidak keberatan.”
Zuang Dong Na membalas, (10:28): Xiaoxi I Love You so much, thanks thanks thanks thanks thanks thanks. Jiang Chen akan menjemputmu dan membawamu untuk membeli gaun cocktail. Dia yang bayar.
Aku menyesap teh banyak banyak dan mengetik, “Okay”
Aku meekan enter dan berpikir, “Seluruh hidupku berantakan karena kebaikan hatiku ini.”
Ketika aku kecil, aku masih ingat guruku ketika masih sekolah dasar yang sangat dibenci semua orang sakit. Tidak ada orang yang mau menjenguknya, namun aku menjenguknya. Dia sangat gembira. Dia memberiku semua buah dan telur dan apapun dari bangsalnya. Aku sangat enyang dan tidak bisa berjalan dengan benar. Semuanya karena aku terlalu baik.
Hari ini berlalu dengan kebanyakan melamun. Ketika Fu pei kembali, dia mengambil dua foto ku sedang duduk di meja. Dia menguploadnya ke komputer supaya aku melihatnya. Itu di jepret dengan sangat baik, terlihat seperti orang tua yang terkena demensia dan sedang tersesat.
Aku sedang di tolilet jongkok ketika ponselku berdering. Aku punya kebiasann untuk ke toilet ketika aku measa gelisah. Aku selalu menghabiskan kurang lebih 15 menit sebelum waktu ujian nasional.
Aku mengangkat celanaku dan mengambil ponselku. Benar saja itu adalah Jiang Chen aku menghela nafas dalam dan menyadari ini bukan tempat bagus untuk mengangkat telepon. Maka dari itu aku memencet hidungku dan berkata, “Hallo?”
“Ini aku.”
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu bicara dengan sudara di redam?”
Aku orgi dari toilet dan melepakan jepitan hidungku dan berkata,”Tidak kok.”
“Apakah kamu sedang di toilet?” Jiang Chen tersenyum kecil ketika bicara.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Menebak. Apakah kamu sudah selesai kerja?”
“Jika kamu sangat baik dalam menebak, coba sekarang tebak lagi.” Jawabku singkat.
“Aku di bawah kantormu. Turun saja dika sudah selesai.”
Aku bersiap-siap dan turun. Aku melihat sekitar namun tiak melihatnya. Aku pikir apakah ini idenya untuk balsa dendam padaku yang elat ketika kencan tiga tahun lalu.s
Setelah melihat lihat sebentar, ada mobil berhent di edpanku dan mengklakson beberapa kali.
Aku menunduk untuk melihat namun tidak bisa melihat kaca yang gelap. Ketika aku ingin melihat lebih dekat, dia mengklaskon lagi. Aku mundur beberapa lagkah karena kaget. Aku sangat marah dan ingin mengomel, namun jendelanya turun dengan perlahan dan Jiang Chen memerintahkan “Ayo naik.”
Aku membuka pintu dan naik. Dia mengerutkan ahi dan bertanya, “mengapa kamu sangat lambat, ku kira kamu pulang jam 5:30 pm? Pasang sabuk pengamanmu,
Aku membuat muka dan bergumam sendiri, “Chen Xiaoxo, baru pulang kerja? Maaf merepotkanmu malam ini, dan terimakasih.
Jiang Chen melihatku, “Sama-sama.”
Aku mengerucutkan bibirku, “Sangat sopan.”
Aku melihatnya diam-diam. Dia memakai jas hitam dengan dasi biru safir. Sangat tampan.
Dia tiba-tiba condong kedepan kearahku. Aku buru-buru menarik dan mengencangkan sabuk pengamanku dan berkata, “Aku sudah mengencangkannya.”
Dia membuka kompartemen di depan kursiku dan mengambil botol air darisana. Dia memberikan padaku botol minum itu an mendengus.
Aku merasa sekarat ketika aku mengambilnya. Jik aku mati mungkin Jiang Chen akan menulis penyebab kematian karena ‘terlalu banyak berfikir’ atau ‘mati karena malu’.
Ketika kami di jalan. Aku meneguk sedikit airnya. Aku sebenarnya tidak haus, hanya saja tenggorokanku sedikit kering.
Saat itu di mobil sangat sunyi. Aku mulai merobek label botol air karena osan. Aku tidak tahu harus kubuang kemana setelah merobek-robeknya. Jadi aku betanya padanya kemana aku harus membuangnya.
Dia menolehkan kepala dan melihatku, “ke kompartemen yang aku buka barusan.”
Aku membuka kompartemen dan mebuang serpihan tersebut. Merasa sedikit bersalah, aku bertanya, “Kamu masih meminum air Nogfu Spring”
Aku selalu melihatnya meminum Air merek Nongfu Spring semenjak aku membelikannya air itu pertama kali dahulu. Pada saat itu cukup puas dengan diriku sendiri. Meski aku membeli air mek Nongfu Spring krena ingin menghemat 50 sen, aku tidak menyangka akan membeli apa yang akhirnya akan dia sukai. Hal ini sperti menanam benih walaupun kamu tiak brnia menanam, dua hati berdebat seirama.
Namun dia dengan santai berkata, “Rumah sakit memberikannya ketika hari raya, masih ada satu box di kursi belakang.’
Aku menoleh dan melihat karton air merek Nongfu Spring. Sambil lalu memuji rumah sakitnya, “Rumah sakitmu bagus, memberikan hadiah selama perayaan. Tidak seperti perusahaanku, hanya ada lembur ketika hari raya.”
Dia menyetir dengan fokus dan tidak menjawab.
Melihatnya tidak ada maksud untuk merespon, aku berhenti berbicar. Semakin dewasa, aku berhenti melakukan hal-hal yang sangat bersemangat kepada orang yang dingin.
To be continue....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar