Chapter 3
Hallo... Setelah sekian lama blog ini ga ke urus aku mau lanjutin projek translate novel ini lagi.. Happy Reading!

Besoknya, Ayahku menjalani operasi di pagi hari. Jiang Chen merekomendasikan dokter wanita, nama depannya Su, kecantikannya dan aura kecerdasannya sangat kentara, berdiri di samping Jiang Chen, bersama, mereka adalah pria yang berbakat dan wanita yang cantik.
Mulanya, Ibuku tidak terlalu mempercayai Dokter Su, dia merasa bahwa pada umumnya perempuan cantik biasanya tidak terlalu bisa diandalkan. Karena gagasan keras kepalanya ini, ku pikir dulu ibuku mengangagpku sebagai wanita cantik di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, untuk waktu yang cukup lama.
Dokter Su bilang bahwa dia sebelumnya pernah memukuli gangster dengan tangan kosong sampai sendi bahunya terkilir, dan sekali lagi dengan tangan kosong pula dia membenarkan lagi bahu terkilirnya. Kami, semuanya kemudian mengakui sepenuhnya kemampuannya dalam bidang medis.
Jiang Chen menemani kami ke depan ruang operasi. Ibuku menggenggam taganku dengan erat, sedangkan aku menepuk punngung tangan ibuku, menenangkan.
Setelah duduk sekitar kurang lebih sepuluh menit, ibuku mulai melupakan kegelisahannya. Mulanya ibuku melihat Jiang Chen kemudian melihatku, matanya bergantian melihat kearah kami, kemudian tersenyum keibuan dan berkata “Dulu, ketika kamu dan Xiaoxi masih bersama, kita tidak pernah punya waktu untuk duduk dan berbincang, sedangkan sekarang.....” Ibuku berhenti sejenak, kemudian menghela nafas panjang “Langit telah mempermainkan kita”
Pada dasarnya, aku dalam keadan diam membeku, dan rasanya aku ingin menggali tanah dan bersembunyi saat itu juga.
Jiag Chen tersenyum dan berkata “Saat itu aku kurang bijaksana, dan tidak tahu cara menghargai Xiaoxi”.
Aku tidak bisa menahannya dan mencuri pandang pada Jiang Chen. Sungguh basa basi yang cukup enak di dengar.
Ibuku tertawa kecil, “Bukan sepeti itu Nak, dalam hal ini Xiaoxi yang tidak beruntung”
Waktu berlalu dengan cepat ditengah basa basi palsu mereka. Mungkin karena bukan operasi yang sulit, atau mungkin karena keahlian operasi Dokter Su yang hebat, pokoknya lampu ruang operasi meredup dan Dokter Su keluar menggunakan masker.
Ibuku tiba-tiba menggenggam tanganku lagi. Kukunya menusukku sampai rasanya aku akan bertemu nenekku di akhirat. XD
Dokter Su melepaskan maskernya, tersenyum “Operasinya berjalan dengan lancar.”
Ibuku melepaskan tanganku dan melompat pada Dokter Su, kelihatannya ingin memeluk dan menciumnya, namun untungnya Ibuku hanya menarik dan memegang tangan Dokter Su, mengusapnya berulang kali. “Terima kasih, Terima kasih banyak.”
Aku sangat tersentuh dan terhanyut oleh pemandangan di hadapanku ini, bagaimana tangan ajaib dari seorang penyembuh bisa menggerakan langit. Jiang Chen berdiri disampingku, dia menyikutku pelan dan berbisik, “Kalau kamu tidak segera menarik ibumu, tangan Dokter Su bisa lumpuh.”
Aku meliriknya, memang, ada seperti memar besar di punggung tangannnya yang sudah memerah. Ibuku baru-baru ini sedang mempelajari Paisha dari Dokter tua pengobatan tradisional Cina di Hanan chanel dan telah lumayan sukses. Pernah ada suatu situasi dimana ibuku tidak bisa menemukan pisau untuk menggeprek bawang putih, jadi dia memakai tanggan kosong untuk menggeprek bawang putih itu menjadi serpihan di talenan.
Aku buru-buru membawa ibuku pergi. “Bu, Ibu harus cepat temui Ayah.”
Ibuku berjuang melepaskan genggamanku dan menegurku. “Ayahmu belum pulih dari anastesi, apa yang harus dilihat? Ibu harus berterimakasih pada Dokter Su dengan benar.”
Dokter Su mundur dua langkah dan melambaikan tangan berulang kali. “Tidak usah terlalu sopan tante, hal ini memang tugas saya. Saya permisi dulu, masih ada operasi selanjutnya.”
Tsk, orang dengan baju putih melarikan diri ketika kalah.
Ibuku dengan sangat kecewa lalu beralih ke Jiang Chen. “Jiang Chen-ah, tante sangat bertemakasih untuk hal ini...”
Jiang Chen menyilangkan tangan ke belakang, membungkuk sampai ke samping telingaku dan berbisik pelan, “Selamatkan aku.”
Aku tak bisa menahannya, bulu kudukku merinding. Menekan emosi sesaat yang membuatku ingin menggigit lidahku dan bunuh diri, aku mendorong Ibuku dan berkata, “Cepat Bu kita lihat Ayah, Jiang Chen ada pasien rawat jalan di klinik nanti.”
Tepat pada saat itu perawat keluar mendorong ranjang Ayah, dan Ibuku mengikuti mereka.
Hanya tinggal aku dan Jiang Chen saat itu. Aku menelan air liur, menganggkat kepala dan tersenyum, “Terimaksih banyak ya sudah membantu.”
Dia mengangguk, “Tidak masalah, aku pamit duluan ya.”
Kata yang keluar dari mulutku. “Hah?”
Dia tersenyum. “Aku punya pasien rawat jalan di klinik.”
Aku melihat Jiang Chen pergi, menggosok telingaku dan tersenyum dengan bodohnya.
Saat itu adalah tahun pertama di Universitas. Jiang Chen diterima di Universitas X jurusan kedokteran, sedangkan aku di hapus sebagai kandidat ujian fakultas seni dan baru berhasil masuk fakultas seni di Universitas X. Fakultas Jiang Chen sedang mengadakan pesta penerimaan untuk mahasiswa baru, dan aku dengan tidak tahu malu meohon padanya ntuk membawaku pergi kesana sebagai seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan (padanya) selama beberapa tahun ini dengan tanpa hasil sama sekali. Hal ini dikarenakan aku mendengar bahwa di pesta makan malam, para senior akan mentraktir seberapa banyak pun kalian makan, dan aku sunguh senang akan hal ini. Namun nanti jika aku jaid senior, dimana ada pesta penyambutan, aku akan sakit perut dan tidak akan datang.
Hari itu banyak orang yang datang, dengan delapan meja yang sudah direservasi di restoran kecil di arah pintu masuk utara kampus. Pada saat aku dan Jiang Chen datang, tidak banyak kursi tersisa, dia dan aku terpisah dan bergabung di dua meja. Aku menatapnya dari jauh, berpikir bahwa ini adalah hal yang bagus, bahwa tidak akan ada yang mengganggu walaupun aku makan banyak.
Setelah cukup makan dan minum alkohol, para senior membawa para junior ke lapangan untuk bermain game. Ada game yang asalnya adalah Hanya-Tuhan-Yang-Tahu acak tempat dan sekarang menjadi “Truth or Dare.”
Botol bir pun diputar sampai terhenti di depan seorang gadis. Menyerah pada mahasiswa sebelumnya yang memilih dare dan harus membawa orang asing dan mengatakan, “lihatlah, ini adalah lubang hati, yang ini adalah kantong empedu, yang ini adalah lubang pau-paru kanan, ini adalah ginjal, ini, ada tabung yang namanya ureter....,” gadis ini lebih memilih truth.
Senior laki-laki yang seperti serigala abu besar mengarahkan pertanyaan dengan cara yang mahir dan dengan penuh metode berkata, “Junior, apakah kamu punya pacar? Atau seseorang yang kamu sukai? Siapa dia?”
Kupikir pertanyaan ini terlalu baik, setidaknya dia tidak menanyakan warna celana dalamnya atau hal semacam itu padanya. Kemudian gadis itu mengangguk dan wajahnya memerah, matanya berkerlip dengan tidak yakin ke arah Jiang Chen, aku tiba-tiba merasa pertanyaaan ini adalah pukulan-telak....
Semua orang mulai berteriak dan menyoraki dan ingin Jiang Chen untuk menyatakan apa tangapannya. Jiang Chen yang selama ini berdiri di belakangku tiba-tiba membungkuk dan berbisik ke telingaku, “Selamatkan aku.”
Aku linglung sesaat, merasakan nafasnya mengatakan dua kata itu mneggelitik leherku membuat gatal. Setelah menggaruk leherku, aku mendapatkan beberapa ide ditengah kegelisahan dan mengatakan, “Perutku, perutku sakitttt...”
Dibelakangku, Jiang Chen mneghela nafas panjang, meletakan tangannya di pundakku untuk menopangku dan berkata, “Semuanya, maaf, perut pacarku sakit, aku akan mengantarnya ke rumah sakit sekolah.”
Aku dibawa pergi oleh Jiang Chen beberapa langkah sebelum aku terbangun dari lamunan dan menyadari bahwa yang dia katakan barusan adalah “Pacarku”, jadi aku bertanya padanya dengan bergetar, “Aku, tadi... tadi... barusan.. aku sepertinya mendengar... mendengarmu mengatakan ‘pacarku’...
Aku seperti melihat mukanya memerah aneh, sebelum dia berkata dengan berani dan dengan keyakinan, “Itu memang benar, ada yang salah?”
Detak jantungku tiba-tiba melonjak spontan, dan aku hampir muntah. Dengan tergagap aku berkata, “Tidak, tentang itu... Selamat datang untukmu.”
Setiap kali aku mengenang masalalu, aku mampu untuk tidak merasa menyesal mengenai menyia-nyiakan beberapa tahunku untuk menyukaimu, dan tidak merasa malu untuk tidak memiliki banyak pencapaian. Tapi aku sungguh merasa ingin mati saja saat mengatakan sesuatu “Selamat datang untukmu” yang mirip wanita penghibur pada saat momen krusial.
Pada malam hari aku tinggal di rumah sakit untuk merawat ayahku, dan membuat ibuku pulang ke tempatku untuk istirahat. Namun wanita itu menolak pada awalnya, kemudian aku menceritakan beberapa kisah hantu di rumah sakit, kemudian di mengatakan tiba-tiba merasa sangat kelelahan jiwa dan raga, dan lebih baik pergi untuk istirahat, dan supaya dia punya cukup tenaga untuk merawat ayah esok hari.
Malam ini Dokter Su sedang tugas malam, setelah berkeliling dua kali, dia menetap di ruangan ayahku, dan bersikeras mengajakku mengobrol.
Mempertimbangkan statusnya sebagai dermawam, aku hanya bisa berusaha menopang kelopak mataku dan menemaninya mengobrol.
Dia bertanya, “Bagaimana kamu dan Dokter Jiang Chen saling mengenal?”
Aku menjawab, “Teman sekolah.”
Dia bergumam sendiri, “Ku pikir kalian dulu pasangan, tapi melihat bagaimana dia tidak tinggal dan menemanimu malam ini, kupikir juga begtu.”
Setelah dai selesai bergumam sendiri, dia bertanya lagi, “Teman sekolah yang seperti apa?”
Aku menjawab, “TK, SD, SMP, SMA, teman Kuliah.”
Dia pikir ini pantas sangat mengejutkan, dan juga mengatakan bahwa ini adalah takdir yang sulit di dapat, dia berkata, “Yo yo yo, teman masa kecil, tumbuh melihat alat reproduksi masing-masing sejak kecil, kalian sungguh ditakdirkan.”
Aku sangat terkejut hingga mulutku yang terbuka karena menguap hanya tertutup sendiri setelah beberapa waktu. Aku mengelap air mataku yang keluar saat menguap, dan akan mengatakan sesuatu ketika Dokter Su bertanya lagi. “Apakah dia punya pacar atau tidak?”
Aku jawab dengan jujur. “Aku tidak tahu.”
Dia secara misterius mendekat kearah telingaku. “Aku akan memberitahumu sesuatu, kamu tidak boleh memberitahu Dokter Jiang.”
Aku menganngguk.
Dia tersenyum dengan aura tukang gosip, “Kami mengira bahwa Dokter Jiang adalah gay.”
Aku menatapnya keheranan, kemudian dia menjelaskan, “Dia tidak pernah muncul membawa wanita, ditambah lagi dia mempertahankan jarak antara semua Dokter wanita, perawat wanita, dan pasien wanita. Namun hal yang seperti ini bukan hal yang mengejutkan dikalangan kami, sekali kamu terlalu mengerti tubuh wanita, hal itu kehilangan misterinya.
Aku ragu untuk sesaat, dan tetap bertanya, “Sepertinya industri kamu juga mengerti bagian tubuh pria dengan baik, kan?”
Dia berpikir dengan linglung sebentar, dan menepukkan tangan ke kepala, tiba-tiba tercerahkan dan berkata, “Itu memag benar.”
Jadi, kami termenung secara terpisah sesaat. Pada saat itu, aku sepenuhnya termenung bagaimana cara membuatnya pergi, aku sungguh mengantuk. Sayangnya, Dokter Su bertanya lagi, “Kamu mengenalnya sangat lama, apakah kamu pernah melihatnya punya pacar ?”
Rasa kantukku lasung menghilang, aku memaksakan senyum. “Iya, pernah.”
“Yah, itu sungguh disayangkan.” Dia menghela nafas kecewa.
Aku menyelidiki dengan hati-hati. “Apanya yang disayangkan? Apakah kamu menyukainya?”
Dia tertawa dengan malu-malu. “Tidak, aku punya partner, Partner ku sedang sekolah S2 di Universitas X, dia belajar psikologi, arah topik untuk tesisnya adalah analisis psikologi homoseksusal, topik utama riset yaitu pembawaan psikoloi homosksual di kalangan elit sosial. Dia hanya sedang kesal tidak bisa menemukan subjek riset....”
Setelah berpikir sejenak aku mengusulkan, “Mengapa kamu tidak pergi online dan cari beberapa novel unuk dibaca olehnya? Bukankah danmei novel adalah tren novel saat ini? Para pemeran utama pria nya adalah para CEO, dokter, pengacara dan tentara, mereka adalah para single industri elit. Seni berasal dari kehidupan nyata, coba lihat apakah pacarmu bisa menemukan sesuatu yang berguna.”
Dia melambaikan tangannya dan berkata, “Aku pernah memikirkannya dulu, dan sudah melakukan riset tentang itu, namun kurasa hal itu kurang dapat diandalkan, novel-novel tersebut kebanyakan ditulis oleh wanita. Dalam bayangan para wanita, lelaki adalah binatang buas yang berpikir hanya dengan bagian bawah tubuhnya. Dan apabila dua binatang yang hanya berpikir dengan bagian bawah tubuhnya bersatu, jika mereka tidak memakai bagian bawah tubuhnya, mereka memakai bagian bawah tubuhnya dengan sering dan berlebihan. Itu tidak membantu sama sekali untuk riset akademis.
Aku berpikir sejenak, dan merasa itu memang cukup masuk akal, jadi aku membuat suara “oh” untuk bilang bahwa aku setuju.
Dia kemudian berkata, “apakah kamu pikir Dokter Jiang punya kecenderungan kearah homoseksual? Aku lihat di novel-novel bahwa mereka mengatakan kamu bisa bisa membuat seorang pria yang bukan gay menjadi gay, hal tersebut disebut apa ya di dalam bahasa ilmiah? “membelokkan orang normal” bagaimana kalau aku membuatnya menjadi gay, bagaimana menurutmu?
Aku membuka dan menutup mulutku berulang kali, dan dengan tergagap aku berkata, “Menurutku... hal itu kurang baik...”
Dia menepuk bahuku. “Jangan gugup, aku hanya bercanda, kamu tidak paham humorku.”
........
“Oh iya, coba tebak, mengapa aku memilih sekolah kedokteran? Dan juga mengapa aku memilih ortopedi?” Dia memintaku menebak dengan penuh semangat.
Aku yang belum pulih dari selera humor yang dia katakan berkata dengan lemah, “ Semua anggota keluargamu dokter?”
Dia menggelengkan kepalanya.
Aku menebak lagi. “Kamu melihat seseorang sakit tulang yang parah ketika kamu kecil?”
Dia menggelengkan kepalanya lagi.
Aku menebak dengan lebih serius. “Kamu punya tujuan untuk mrnggantung bola labu dan menyelamatkan dunia? Kamu dan pacarmu setuju untuk mencoba jurusan kedokteran? Kamu dengan tidak sengaja salah memilih jurusan ketika ujian nasional?”
“Semuanya salah” dia berkata dengan penuh kemenangan, “Keluargaku menjual babi, aku akan merasa sangat senang setiap kali aku melihat ayahku memotong babi.”
.........
Ujung mulutku tersenyum aneh. “Hehe, pengaruh dari apa yang kau lihat dan dengar.”
Dia sekali lagi memukul bahuku dengan keras. “Kamu tertipu lagi, kamu sungguh tidak paham selera humorku. Semua anggota keluargaku adalah dokter kecuali adikku yang paling muda.”
To be continue.....
Kalau mau dilanjut tinggain jejak yaaa,,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar