Minggu, 07 Oktober 2018

Novel A Love So Beautiful Chapter 2

CHAPTER 2

Alooohaaaa....
I'm back dengan translate an chapter 2 untuk novel a love so beautiful.......
seneng juga bisa mencoba translate novel ini, sebenarnya belum baca semua chapter juga jadi aku membacanya pas aku sedang menterjemahkan. semoga bisa tetep istikomah dan berlanjut sampai chapter terakhir. 
happy reading .....





Musim panas berakhir, kami memasuki kelas 3 SMP yang sibuk. Aku selalu memprioritaskan masalah yang paling penting diatas segalanya, oleh karena itu, menenggelamkan diri dalam urusan romantisme cinta dengan segera, terkesampingkan. Ditambah lagi, saat itu Meteor Garden sedang tayang dan naik daun,  aku menjadi gila karena Dao Ming Se.
Kejadian yang menyebabkan aku menetapkan resolusiku untuk mrnjadi fangirlingnya Jiang Chen sebagai tujuan hidupku terjadi setengah tahun setelahnya. Pada malam sebelum ujian, ditengah-tengah ibuku memukul dan mengomeliku “Bagaimana bisa aku membesarkan anak yang sangat pelupa, kepala-babi sepertimu?”, aku dengan cepat bergegas pergi ke toko buku Xue You (Teman Belajar), untuk membeli pensil 2B yang kubutuhkan untuk menjawab soal di masa ujianku esok hari.
Walaupun toko  Xue You menyatakan itu adalah toko buku, namun disini menjual macam-macam benda –mulai dari buku, alat tulis menulis, stiker, dan mainan, pada dasarnya apapun yang sedang ngetrend dikalangan anak sekolah, akan tersedia. Suatu hari setelah melewati hidup yang kacau di dunia luar, aku mengetahui bahwa dua kata toko “Xue You” adalah nama yang biasa dipakai semua non-franchise toko alat tulis dan toko buku di kota. Aku tidak tahu apakah karena nama ini yang menyebabkan anak-anak sekolahan merasa faimiliar atau merasakan kekerabatan seperti bertemu teman, atau mungkin karena semua orang merasa malas untuk menemukan sebuah nama. Namun, jika suatu saat aku memutuskan untuk kembali ke masyarakat, aku akan membuka toko buku Xue You, tentu saja toko yang akan menjual buku dan alat tulis, namun juga akan menjadi pusat para siswa membayar dan mendapatkan teman, terutama siswa perempuan, meski nantinya ada permintaan special, kami juga bisa melayani permintaan siswa lelaki dengan harga tinggi.
Aku masuk ke toko Xue You dan mengambil sekumpulan pensil 2B. Pada saat itu memakai computer untuk menandai kertas baru saja menjadi trend. Ku pikir pensil 2B itu akan dihargai harga tinggi dimasa depan dan aku harus punya stok. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Sementara harga pensil memang naik 10 sen, ada banyak pensil yang dibuat khusus untuk menghitamkan OAS mereka, aku masih saja dengan menyedihkan menajamkan pensil dengan pisau. Nabi memang semuanya adalah orang-orang kesepian.
Ketika aku menggenggam sekumpulan pensil dan mau membayar,  Jiang Chen masuk melalui pintu, mungkin karena mental kedewasaan tidak ingin terlihat -yang aneh, tanpa sadar aku mengambil buku dari rak, memakainya untuk menghalangi wajahku selama aku memperhatikannya diam-diam.
Jiing Chen saat itu langsung berjalan menuju ke kasir. Si bos yang seorang wanita iu melihatnya, dan dengan tersenyum membawakan setumpuk buku dari bawah meja. “Koleksi Empat novel Cina klasik edisi yang di sulam” yang kamu pesan, aku secara khusus pergi ke kota untuk mendapatkan stok buku-buku itu.
Jiang Chen tersenyum dan berkata “terimakasih Nyonya Bos”.
Pada saat itu uang sekolah kami adalah 200 dolar per semester, Jiang Chen memakai uang selama dua tahun atau empat semester untuk membeli buku-buku yang hanya akan membusuk tersebut, jika dia punya lebih banyak uang, dia mungkin akan…. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan, aku belum pernah punya begitu banyak uang, jadi aku sangat tidak paham. Sebelumnya, seseorang memberitahuku candaan ini –seorang reporter berita bertanya kepada seorang wanita tuayang tinggal jauh di pedalaman gunung, “apa yang akan ibu lakukan jika saya memberikan ibu 100000dolar?” wanita tua itu menjawab, “makan (kue) sayuran kukus setiap hari” reporter itu bertanya lagi “jika saya memberikan ibu 200000 dolar?” wanita itu menjawab “aku akan makan daging kukus setiap hari” reporter itu bertanya untuk terakhir kalinya ““jika saya memberikan ibu 1000000 dolar?” wanita itu menjawab ” makan sayuran kukus di satu tanganku dan aku akan makan daging kukus di tanganku yang lain setiap hari” sesungguhnya aku sangat berempati dengan keadaan si wanita tua.
“kaka…kaka…” Seorang anak yang entah muncul darimana memanggilnya dan menarik celana panjang Jiang chen”.
Jiang Chen jongkok dan mengusap kepalanya. Sambil mngerjap dia bertanya, “teman kecil, kamu laki-laki atau perempuan?”
Anak kecil itu mnghisap jempol kecilnya dan dengan serius menjawab “Laki-laki”.
Jiang Chen tidak puas dengan jawabannya “aku tidak suka laki-laki”.
Dia bersiap untuk berdiri sambil mengatakannya, anak kecil itu dengan cepat menarik baju Jiang Chen, “aku perempuan”.
Jiang Chen tertawa “jadi kamu perempuan ternyata. Baiklah, jadi untuk apa kamu memanggil kakak adik kecil?”
Anak kecil itu mengeluarkan satu kotak pensil warna dan note kusut seharga 10 sen dari saku besar overall nya, mengangkat tinggi mereka untuk menjelaskan dia tidak bisa mencapai kasir. “aku membeli ini.”
Jiang Chen membawa kotak tersebut dan berdiri melewati nyonya bos. “Bos, ini berapa?”
“10 dolar”.
 Jiang Chen mengeluarkan 10 dolar. Setelah membayar , kemudian dia berjongkok lagi untuk menyerahkannya pada anak kecil itu. Dia mengusap kepalanya dan berkata “ini, pensil warnamu adik kecil”.
Anak kecil itu tertawa kegirangan ketika dia mengambil kotak itu “terima kasih kaka”
Setelah mengucucapkan “sama-sama”, Jiang Chen kali ini benar-benar berdiri. Anak kecil itu sekali lagi menarik celana bagian bawahnya Jiang Chen, jadi dia berjongkok lagi. Anak kecil tersebut canggung membuka kotak pensil warna itu dan memilih satu warna yaitu Pink dan berkata “menggambar itu sangat indah”
“kakak tidak tahu cara menggambar” Jiang Chen berkata sambil tersenyum “simpanlah ini untuk kau menggambar”.
Anak kecil itu menggelengkan kepala dan menunjuk pada buku-buku ditangan Jiang Chen dan berkata “ Tidak, aku yang akan menggambar”
Jiang Chen menatap heran sesaat kemudian dia tersenyum. Dia mengeluarkan “Romance of the Three Kingdoms” dan meminjamkannnya ke anak tersebut.
Anak kecil itu memegang buku dan duduk dilantai, menundukkan kepala untuk menggambar sesuatu didalamnya dengan sangat serius, sambil terus berkomat-kamit ngobrol sendiri. Akhirnya dia bertepuk tangan dan berkata “Selesai”.
Aku mengendap-ngendap dan menjulurkan kepala dari buku untuk mengintip gambar apa itu, desainnya seperti gmbar kelinci jika dilihat sekilas, kemudian seperti anjing jika dilihat semakin dekat, namun gambarnya tenang dan luwes seperti harimau.
Jiang Chen mengambil kembali bukunya, melihat kedalamnya dengan serius, dan dengan susngguh-sungguh berkata “gambar anjingnya sangat cantik, terimakasih”.
 Anak kecil itu mengerjap kebingungan dan berkata “itu gambar kucing”.
Jiang Chen melihat gambarnya lagi, kemudian tertawa”Oh jadi ini adalah gambar kucing”
Aku menatap lesung pipinya, sepertinya lesung itu semakin dalam entah bagimana, aku benar-benar ingin pergi kesana dan menyentuhnya.
Yang biasa di sebut “terpesona oleh keindahan”, yang biasa disebut “terbunuh dalam sekejap”, Li bi Hua (penulis terkenal cina) berkata “pada saat itu, terpesona karena keindahan adalah semuanya karena seseorang yang telah melihat sebagian kecil dari dunia. Namun, hal ini tidak berlaku untukku, suatu saat nanti aku akan terus mengulangi membubuhi 2 kejadian indah ini di ingatanku, sama halnya seperti editing pasca produksi sebuah film dan televisi. Aku akan mengatur angle setiap kejadian, mneambahkan berbagai efek cahaya dan bayangan, lapisan dan efek-efek lain.
“berapa lama lagi kamu akan terus berjongkok di pintu masuk rumah sakit?”
“Ah?” Kehebatan project editing pasca-produksi ku telah di interupsi, aku sedikit linglung sebentar. Memandang ke arah Jiang Chen yang entah bagaimana menatapku dengan wajah yang tidak sabaran kemudian, mengulang lagi jawabanku “Ah?”
“Bangun”. Dia meregangkan tangannya dan dengan sekali tarikan mengangkatku dari lantai, menyeretku ke ambulan. Sebenarnya aku benar-benar ingin bertanya padanya apakah dia lupa untuk melepaskan tanganku, atau apakah sehatannya buruk akhir-akhir ini, tangannya sangat berkeringat….
Ketika kami sampai di ambulan, si supir dan ibuku dengan serempak menunjukkan ekspresi muka seperti mereka tengah memergoki kami tengah tidur bersama. Aku dengan pasrah, memutar mata dan melihat Jiang Chen sedikit dengan penuh kecemasan. Sedangkan Jiang Chen sepertinya sama sekali tidak terpengaruh dan duduk disampingku “Li kecil, ayo jalan”.
Setelah itu dia menoleh kearah ibuku dan berkata “Bibi, aku sudah menghubungi kolegaku di bagian ortopedik, ketika kita sampai kita akan melakukan pemeriksaan X-Ray lagi dan jika tidak ada masalah, kami akan melakukan operasi nanti sore. Jadi tidak usah khawatir, kolegaku merupakan ahli bedah ortopedik terbaik di industry ini”.
Ibuku langsung mengangguk tak henti-hentinya, dan memberikan senyuman keibuannya. “kami benar-benar merepotkanmu Jiang Chen”.
“Ini tiak merepotkan Bibi, ini adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya saya lakukan.” Jiang Chen juga tersenyum seperti anak lelaki yang berbakti.
“Sangat berisik!” Ayahku tiba-tiba berbicara dengan suara keras.
Semenjak Ayahku di beritahu bahwa dia akan dipindah rumah sakitkan dengan bantuan Jiang Chen, dia sungguh marah. Kemudian, pada saat ibuku pergi, dia memberiku isyarat dengan bhasa lidah, tidak ada hal lain selain satu kata –tulang punggung! Dia seperti itu semenjak Ibu Jiang Chen memperlakukanku dengan buruk dulu, aku harusnya tetap menjauh, tetap menjauh darinya. Hal yang tebaik adalah bahwa aku meludahinya tepat dimuka ketika aku melihatnya mengungkapkan rasa terhinaku, namun sekarang aku hanya akan pergi sebatas menerima kebaikan hatinya.
Tiga tahun yang lalu aku lulus dari fakultas seni universitas X. Jiang Chen mengejar kedua gelarnya langsung Sarjana dan Pasca Sarjana di sekolah medis dan menyelesaikan kuliah selama tujuh tahun, namun karena pencapaiannya sangat baik, Jiang Chen sudah mulai magang sebagai intern di berbagai jurusan utama di cabang rumah sakit Universits X pada tahun ke empat.
Saat itu Jiang Chen sangat baik padaku, pada saat aku menerima srtifikat kelulusanku dia bilang ingin menikah denganku. Tentu saja hal ini terjadi karena sebagian besar aku selalu membuat pemalsuan hal tak berdasar mengenai –sekelompok yang biasa disebut golongan masyarakat elit untuk  menakut-nakutinya.
Contohnya , manager yang membantuku mebukakan pintu setiap hari (yang sebenarnya adalah pengawal keamanan kantor, untukku yang selalu lupa membawa kartu masuk untuk masuk dan keluar); Direktur yang selalu membawakanku bunga (kejadian sebenarnya adalah orang yang menjual bunga dibawah –ketika aku kerja lembur sampai malam, aku selalu menghampirinya membuang bunga yang rusak dan tidak bisa dijual sambil berjalan pulang, dengan hal yang kulakukan secara sungguh-sunguh, dia akan selalu memberiku bunga); klayen yang mentraktirku menonoton film (yang mana adalah memang klayen, dan aku memang menonton film, namun hanya karena aku harus menulis laporan proposal publisitas untuk mereka setelah menontonnya)….. sebuah kreasi seni dibutuhkan dari kejadian aslinya.
Sekali Jiang Chen mendengar aku sangat populer, dia menjadi kahwatir, dia mengatakan nilai dari sarapan yang dia kirimkan selama empat tahun di universitas harusnya tidak sia-sia, lebih baik kita segera menikah.
Aku langsung setuju tanpa rasa malu sedikitpun. Pemikiranku sangatlah sederhana, fakultas kedokteras di universitas X merupakan peringkat no. 1 di seluruh kota, dan Jiang Chen mendapatkan beasiswa unggulan setiap tahun, jadi pada dasarnya tak harus bimbang karena di penuhi oleh potensi yang hebat. Aku harus mendapatkannya sesegera mungkin, begitu dia menjadi keping-biru (stabil secara materi di naungan perusahaan terkenal), aku harus menjadi istri yang siap menderita dari godaan-godaan secara bersama, jika dia berani menceraikanku, aku akan berani untuk meminta setengah dari asset yang dimilikiya.
Tentu saja, pemikiranku yang sederhana sebenarnya adalah aku sangat mencintainya, aku takut dia akan direnggut dariku oleh seseorang. Suatu hari aku pernah berkunjung ke rumahsakit tempat dia magang untuk melihatnya, dan dalam satu jam aku melihat tiga pasien memberikan kartu nama mereka, salah satu dari merka bahkan adalah seorang laki-laki. Masyarakat disini sangat menakutkan, dan karisma Jiang Chen sepertinya memprngaruhi wanita dan laki-laki.
Pada saat itu di masalalu, aku hampir teracuni sepenuhnya oleh televisi dan drama, ku pikir cintaku tidak terkalahkan. Tapi ibu Jiang Chen membuatku sadar, gangguan pertama kalinya kisah cintaku, benar-benar mengubah kesenangan.
Pada suatu sore yang cerah, ibu Jiang Chen mengunjungi ibuku. Status ibuku di rumah adalah, sebagai ibu rumah tangga professional, yang sudah seperti keturunan Wu Ze Tian (satu-satunya pemimpin kerajaan wanita di Cina), namun pertama kalinya aku melihat ibuku yang pemberani  menjadi tidak tahu apa yang harus dilakukan, menjadi begitu penurut tanpa dia sadari. Sebenarnya, Ibunya Jiang Chen tidak mengatakan ucapan yang tidak pantas, dan juga dia tidak mengeluarkan cek dan berkata, “tinggalkan anakku, katakan berapa banyak uang yang kau mau.” Dia dengan tenang membicarakan adat istiadat pernikahanku, namun itu hanya sikap merendahkan diri, dia merendahkan diri sendiri saat berbicara dengan ibuku, dia begitu mendominasi menyebabkan ibuku dipenuhi keragu-raguan. Memperhatikan ibuku dari samping saat dia menggosok tangannya, berkata, “kami akan melakukan yang terbaik, kami akan bekerja sama”. Hatiku pedih dan sakit, seperti tengah direndam dalam cuka kuno.
Kemudian ibu Jiang Chen mencariku untuk bicara empat mata. Dia memberiku beberapa lembar kertas dan memberitahuku untuk melihatnya baik-baik, dan jika setuju silahkan tanda tangani. Kertas itu  ternyata adalah perjanjian pranikah, yang isinya secara kasar adalah suatu pernyataan bahwa aku menikahi Jiang Chen bukan karena harta keluarganya, dan jika kami bercerai aku tidak berhak mendapatkan harta Jiang Chen sedikitpun, dll.
Pada saat itu, aku sangat kebingungan. Ayahnya hanya seorang walikota kota kecil, berapa banyak uang yang mungkin dia miliki? Apakah ini benar-benar diperlukan untuk bersikap seperti drama di televisi?
Aku sudah lupa apa yang kupikirkan saat itu, mungkin masalah harga diri seperti mencintai dan menghargai diri sendiri, namun kemudian aku tidak bisa berpikir jernih, jadi aku pergi bertanya ke ayahku. Yang bisa ku katakan hal itu adalah “kesalahan bersejarah”.
Ayah Jiang Chen adalah supervisor tidak langsung ayahku. Ayahku sudah merasa seperti pengecut, di gertak dan di tekan disekitarnya oleh para supervisor ini dalam hari-hari biasa, namun apabila anggota keluarganya di gertak oleh keluarga supervisor, ini adalah masalah yang dia tidak bisa tahan. Oleh karena itu ayahku mengatakan jika aku sampai berani menandatanginya, dia tidak akan mengakuiku sebagai anak.
Hingga aku melakukan hal bodoh lain, yang mana memberikan surat perjanjian pranikah tersebut kepada Jiang Chen supaya dia mengembalikannya kepada ibunya. Jiang Chen sangat terganggu dan marah karenanya, dan pulang ubtuk bertengkar dengan ibunya. Setelah itu, ibu Jiang Chen meneleponku, yang intinya, jika aku berani menikahi Jiang Chen, dia lebih baik mati di pernikahanku. Saat itu aku punya sedikit pengalaman hidup bermasyarakat, jadi aku dengan seketika sakit hati olehnya. Aku benar-benar tidak memikirkan cara lain untuk menyelesaikan masalah ini, contohnya seperti tidak perlu mengadakan pesta pernikahan, jadi dia tidak punya tempat untuk mati….
Masalah tentang pernikahan oleh karena itu tidak terselesaikan dibiarkan seperti itu, setelah kejadian itu aku tidak tahu kenapa, mungkin karena pekerjaanku mulai sibuk, aku sibuk di omeli oleh manajerku, sedangkan Jiang Chen sibuk kuliah dan menjadi intern, ditambah lagi, sepertinya aku mulai menahan dendam di hatiku, aku dengan terus menerus melakukan hal bodoh dan mengganggunya, dan akan memancingnya bahkan untuk urusan sepele dan ngawur. Aku menguji cinta kami degan menguji kesabarannya.
Ketika aku mengatakan “Jiang Chen, kita putus saja”.
Dia terdiam beberapa saat sebelum berkata, “jangan sampai kamu menyesal”. Kemudian dia membanting pintu dengan keras dan pergi.
Aku pikir bahwa untuk dua orang yang saling mencintai satu sama lain untuk bisa putus, paling tidak, ada kejadian utama dengan skala besar, seperti, pesta ketiga, seperti tiba-tiba ditemukan bahwa aku adalah anak haram dari ayahnya; seperti, aku atau dia terkena sakit parah…. Namun kenyataannya, hal itu tidak dibutuhkan. Rasa gelisah, kesibukan, dan rasa lelah sudah cukup untuk jadi alasan.
Kami berpisah seperti itu. Hal itu cukup mencengangkan untuk dua orangyang asalnya setuju untuk bersama selamanya, sekarang benar-benar tidak ada kaitannya satu sama lain dalam sekejap. Untuk waktu yang cukup lama, aku sempat mengira bahwa mungkin ada orang yang menekan tombol fas-forward untuk hubungan kita berdua, menyebabkan aku untuk mengilangkan bagian perpisahan yang tak terelakkan.
Ayahku yang paling bahagia mendengar aku putus dari Jiang Chen. Dia merasa seperti ini adalah satu kemenangan yang dia miliki atas konfrontasinya dengan kelas sosial para supervisor. Namun setelahb itu, ketidakmampuanku secara konstan dalam mendapatkan pacar menyebakan buah dari kemenangan kadang-kadang bisa pahit juga.
Jadi kupikir perasaan ayahku terhadap Jiang Chen cukup rumit. Adakalanya, ayahku berharap akan ada seseorang yang datang kepadaku yang menyedihkan ini, namun dilain pihak, ayahku merasa lebih baik aku mejadi orangyang menyedihkan daripada memberikanku kepada Jiang Chen.  Ayahku mungkin mengalami konflik batin, yang mana kapitalis hadir saat keadaan yang paling menyedihkan, disebutkan dalam buku politik SMA yang lebih baik menumpahkan susu ke sungai daripada memebrikannya ke orang miskin. Apa yang tidak aku katakan pada ayahku adalah, orang itu bahkan tidak berminat membelinya darimu.



 To be Continue....

Please don't reupload or copy this translation...



2 komentar:

  1. gaadakah lanjutan nya kak? sad banget:((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seneng banget ada yg baca, berarti ga cuma kau doang yg suka Series ini,,, blog ini udah ga keurus lama banget. Nanti aku usahain secepatnya aku update yaa...

      Hapus